EDISI 2 — “MENJAGA RUH, MENATA RANGKA”
Jalan Panjang Implementasi RUU Sisdiknas
✍️ Mangesti Waluyo Sedjati
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah
📍 Sidoarjo, 21 Oktober 2025
Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh 🌿
Sahabat Peradaban,
Bayangkan pendidikan sebagai makhluk yang bernapas.
Ia hidup karena dua sisi yang saling menegakkan: ruh dan rangka.
👉 Ruh ialah jiwa nilai iman, akhlak, adab, dan amanah ilmu.
Tanpa ruh, pendidikan kehilangan arah; kelas berubah jadi pabrik nilai ujian, dan guru menjadi operator sistem tanpa makna.
👉 Rangka ialah arsitektur kebijakan UU, standar mutu, akreditasi, data, dan pendanaan.
Tanpa rangka, idealisme tinggal jargon; semangat di atas kertas, tapi macet di lapangan.
Pendidikan yang sehat menuntut dua hal berjalan seimbang:
Ruh menyalakan niat, rangka menyalakan kerja.
Tanpa keseimbangan itu, sekolah hanya sibuk menyiapkan laporan, bukan menyiapkan peradaban.
💬 RUU Sisdiknas adalah rel besar pendidikan nasional.
Tapi rel tidak akan membawa bangsa ke mana pun tanpa masinis yang berjiwa pendidik dan tanpa bahan bakar moral yang bernama keikhlasan.
Karena UU hanyalah rel, bukan kereta.
Yang menentukan arah tetap kepemimpinan, budaya kerja, dan kejujuran penggunaan anggaran.
Selama ini kita melihat tiga jurang besar dalam implementasi:
1️⃣ Narasi 20% vs realita bermakna anggaran besar, tapi tak sampai ke kelas.
2️⃣ Nilai diucapkan tapi tak diukur ruh ada di pidato, tapi hilang di indikator.
3️⃣ Digitalisasi tanpa kesiapan aplikasi jalan, tapi guru dan murid masih tertatih.
Pendidikan kita akhirnya sering terjebak dalam ritual administratif yang panjang, tanpa kejelasan hasil.
Guru sibuk unggah dokumen, bukan mendampingi murid.
Sekolah disiplin melapor, tapi abai membangun budaya belajar.
Sementara murid pandai menyalin jawaban, tapi asing terhadap makna “menuntut ilmu”.
Inilah penyakit lama: form over substance rapi di luar, rapuh di dalam.
Kita menilai “kelengkapan berkas”, bukan “kehidupan di kelas”.
📊 Padahal maqāṣid asy-syarī‘ah memberi kompas yang indah bagi pendidikan:
• Menjaga Agama (ḥifẓ ad-dīn): membangun ekosistem beradab, jujur, dan rahmah.
• Menjaga Jiwa (ḥifẓ an-nafs): sekolah aman, bebas perundungan, sehat lahir batin.
• Menjaga Akal (ḥifẓ al-‘aql): literasi, numerasi, dan nalar kritis berbasis akhlak.
• Menjaga Keturunan (ḥifẓ an-nasl): akses setara bagi 3T, miskin, dan disabilitas.
• Menjaga Harta (ḥifẓ al-māl): anggaran transparan, direct-to-school, dan akuntabel.
Inilah ruh maqāṣid yang seharusnya menuntun implementasi agar pendidikan bukan sekadar mencerdaskan, tapi juga memanusiakan.
💡 Maka arah pembenahan harus tegas dan terukur.
RUU Sisdiknas perlu dikawal agar menjadi kompas hasil, bukan alat kontrol.
• RIPNas harus dikunci di UU, bukan diatur seenaknya lewat Permen.
• Akreditasi harus berbasis risiko, bukan ketebalan map.
• Pendanaan harus langsung ke sekolah (direct-to-school), bukan berhenti di meja birokrasi.
• Data pendidikan harus amanah, karena amanah data = amanah anggaran.
• Sekolah gagal layanan harus ditolong, bukan dipermalukan lewat take-over sementara yang adil dan time-bound.
Dengan cara itu, kebijakan akan benar-benar hidup di kelas, bukan mati di meja rapat.
📍 Kita juga harus realistis bahwa “gratis” belum tentu bermakna.
Di daerah 3T, biaya tersembunyi pendidikan masih tinggi: ongkos transport, sinyal yang langka, dan guru yang bertahan dalam keterbatasan.
Keadilan tidak cukup dengan kebijakan umum; perlu PFA 3T layanan transport, konektivitas, perangkat, hingga boarding.
Keadilan sosial bukan hasil belas kasihan, tapi buah desain kebijakan yang berpihak.
🌱 Jika semua ini dijalankan dengan jujur dan konsisten, dampaknya luar biasa:
• Guru punya waktu mengajar lebih banyak.
• Murid belajar dengan makna, bukan sekadar nilai.
• Sekolah hidup kembali sebagai pusat peradaban, bukan hanya tempat ujian.
• Publik percaya karena uangnya terlihat mendarat, bukan menguap.
• Dan bangsa ini punya arah riset sendiri kedaulatan ilmu yang tidak disetir pasar global.
Sahabat,
Pendidikan bukan sekadar angka partisipasi sekolah atau indeks prestasi nasional.
Ia adalah perjalanan ruhani bangsa untuk menumbuhkan manusia yang berakal, berakhlak, dan berdaya.
Karena itu, mari kita rawat dua sisi yang tak boleh dipisah:
Ruh yang menyadarkan dan rangka yang menggerakkan.
Ketika dua wajah ini menyatu,
kelas menjadi taman ilmu,
kampus menjadi kawah peradaban,
angka berubah jadi makna,
dan kebijakan menjelma kebajikan.
📣 Mari kita kawal bersama RUU Sisdiknas agar tidak kehilangan jiwanya.
Kita tidak butuh sistem yang sempurna di atas kertas,
tapi sistem yang hidup di hati guru dan murid.
📎 Baca naskah lengkap Bab I–VII di:
👉 https://www.facebook.com/share/p/1CySq33cDq/
وَاللهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ
“Dan Allah berkata benar, dan Dia-lah yang menunjukkan jalan yang lurus.”
(QS. Al-Ahzāb [33]: 4)
🌸 Ngopi sambil berpikir, berpikir sambil berbenah.


