SURABAYA-kanalsembilan.com (29 Juli 2026)
Perekonomian Jawa Timur pada triwulan I 2026 menunjukkan kinerja yang semakin kuat. Pertumbuhan ekonomi tercatat meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, didorong oleh menguatnya konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah di tengah tingginya aktivitas masyarakat pada berbagai momentum hari besar keagamaan.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Rifki Ismal, Selasa (28/7/2026), mengatakan ekonomi Jawa Timur pada triwulan I 2026 tumbuh 5,96 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan IV 2025 yang mencapai 5,85 persen (yoy).
“Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada awal tahun 2026 menunjukkan momentum yang positif. Penguatan konsumsi masyarakat, peningkatan investasi, serta belanja pemerintah menjadi faktor utama yang mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Rifki.
Ia menjelaskan, konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang utama pertumbuhan. Peningkatan terjadi pada konsumsi ritel, terutama untuk kelompok pakaian, barang pribadi, rekreasi, serta makanan dan minuman yang tetap menunjukkan kinerja kuat.
Tingginya aktivitas masyarakat selama bulan Ramadan, perayaan Tahun Baru Imlek, libur Hari Raya Nyepi, serta Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 2026 turut mendorong peningkatan konsumsi. Kondisi tersebut tercermin dari melonjaknya transaksi pembayaran digital dan nontunai di berbagai sektor perdagangan dan jasa.
Di sisi lain, konsumsi pemerintah juga mengalami peningkatan seiring lebih tingginya realisasi belanja pegawai APBN maupun APBD kabupaten/kota, terutama melalui pencairan Tunjangan Hari Raya (THR). Selain itu, realisasi belanja barang dan jasa meningkat untuk mendukung pelaksanaan berbagai program strategis pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Investasi pada triwulan I 2026 juga menunjukkan tren positif. Peningkatan investasi didorong oleh pelaksanaan Program Sekolah Rakyat, revitalisasi berbagai fasilitas pendidikan, serta pembangunan infrastruktur jalan di sejumlah wilayah Jawa Timur. Kenaikan impor barang modal dan meningkatnya pembiayaan investasi turut mencerminkan optimisme dunia usaha terhadap prospek ekonomi daerah.
“Perbaikan konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah mendorong meningkatnya aktivitas pada sejumlah lapangan usaha utama, khususnya perdagangan, pertanian, konstruksi, serta penyediaan akomodasi dan makan minum,” jelas Rifki.
Dari sektor eksternal, ekspor Jawa Timur masih memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, kontribusi ekspor neto mengalami moderasi karena perlambatan ekspor berlangsung lebih dalam dibandingkan perlambatan impor.
Menurut Rifki, perlambatan tersebut tercermin dari menurunnya pertumbuhan ekspor luar negeri, aktivitas muat barang angkutan laut domestik, serta angkutan udara yang menjadi indikator aktivitas perdagangan. Kondisi ini juga berdampak pada melambatnya kinerja sektor industri pengolahan yang selama ini menjadi penopang utama ekspor Jawa Timur.
“Meski menghadapi tantangan pada sektor eksternal, fondasi ekonomi Jawa Timur tetap kuat karena didukung oleh permintaan domestik yang terus meningkat. Hal ini menjadi modal penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada triwulan-triwulan berikutnya,” katanya.
Rifki menambahkan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas ekonomi, mendorong investasi, memperkuat daya saing ekspor, serta mengakselerasi digitalisasi ekonomi dan sistem pembayaran.
“Dengan kolaborasi yang kuat, kami optimistis pertumbuhan ekonomi Jawa Timur akan tetap terjaga sehingga mampu memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap perekonomian nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (za).


