KISAH ISLAMI
💫🌎✨
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Di antara seluruh manusia yang pernah hidup di muka bumi, tidak ada yang memiliki akhlak lebih mulia, lebih lembut, lebih indah, dan lebih sempurna selain Nabi Muhammad SAW. Allah sendiri memuji beliau dalam Al-Qur’an:
> “Dan sungguh, engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Kisah-kisah tentang akhlak Rasulullah SAW sangat banyak, dan para sahabat menyaksikan sendiri betapa beliau adalah manusia terbaik dalam tutur kata, sikap, kesabaran, dan kelembutan hati. Berikut salah satu kisah lengkap yang menggambarkan betapa agungnya akhlak Nabi SAW.
—
❤️Nabi yang Tidak Pernah Membalas Keburukan dengan Keburukan
Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang berjalan di pasar Madinah bersama beberapa sahabat. Kota Madinah saat itu sudah lebih damai dibanding masa-masa awal, namun masih ada beberapa orang munafik dan non-muslim yang memendam kebencian terhadap Islam.
Di antara mereka ada seorang Yahudi tua yang terkenal kasar dan sering memprovokasi kaum muslimin. Ia membenci Rasulullah SAW, namun kebenciannya justru semakin membuat Nabi ingin menaklukkannya dengan akhlak yang baik.
Suatu pagi, ketika Rasulullah SAW lewat di depan kiosnya, orang tua itu memandang tajam lalu berkata dengan suara keras:
> “Hai Muhammad! Berhentilah! Kau harus membayar hutangku!”
Padahal Rasulullah SAW tidak pernah berhutang kepadanya. Namun orang tua itu memang sengaja ingin mempermalukan Nabi SAW di hadapan orang banyak.
Para sahabat tersinggung dan segera mendekat.
“Wahai Rasulullah, biarkan kami yang menanganinya!” kata Umar bin Khattab RA dengan marah.
Namun Rasulullah SAW mengangkat tangan beliau sambil tersenyum.
“Wahai Umar, biarkan dia. Aku dan dia masih membutuhkan sesuatu yang belum selesai.”
Rasulullah SAW kemudian mendekati orang tua itu dan berkata dengan lembut:
“Wahai orang tua, tidak ada hutang antara aku dan engkau. Tetapi jika engkau membutuhkan sesuatu, katakanlah dengan baik.”
Orang tua itu terdiam. Tidak pernah ia melihat seseorang yang diperlakukan secara kasar dapat membalas dengan begitu lembut. Namun rasa bencinya membuat ia tetap bersikap keras.
> “Aku hanya ingin melihat bagaimana sifatmu! Apakah engkau benar-benar seorang yang penyayang, atau hanya pura-pura?”
Rasulullah SAW tidak tersinggung sedikit pun. Beliau malah mengajaknya duduk.
Sahabat-sahabat yang melihat peristiwa itu heran, karena Rasulullah SAW begitu sabar menghadapi seseorang yang kasar dan menghina.
—
🌻Keburukan yang Dibalas dengan Kebaikan
Beberapa hari kemudian, orang tua Yahudi itu tiba-tiba jatuh sakit berat. Ia tidak memiliki keluarga yang merawatnya, dan tidak seorang pun dari kaumnya peduli padanya.
Ketika kabar itu sampai kepada Rasulullah SAW, beliau langsung pergi mengunjunginya. Dengan membawa air dan sedikit makanan, beliau mengusap kepala orang tua itu dan bertanya:
“Bagaimana keadaanmu, wahai orang tua?”
Orang tua itu menangis. Ia tidak menyangka bahwa orang yang pernah ia hina dan permalukan adalah orang yang kini pertama kali datang menjenguknya.
Ia berkata dengan suara lemah:
> “Mengapa engkau yang datang? Padahal aku pernah menyakitimu?”
Rasulullah SAW menjawab dengan penuh kelembutan:
“Karena aku diutus bukan untuk membalas keburukan dengan keburukan, tetapi untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Air mata orang tua itu mengalir deras. Ia memandang wajah Rasulullah SAW yang penuh kasih. Tidak ada kebencian, tidak ada dendam, hanya kasih sayang yang tulus.
Dalam keadaan terharu, ia berkata:
“Sungguh, akhlakmu tidak seperti manusia biasa. Engkau pasti seorang Nabi yang benar.”
Dan pada hari itu, ia mengucapkan syahadat dan masuk Islam.
(gwa-swhs-ayat).


