Google search engine
HomeUncategorizedNasehat Imam Syafi'i: Jika Orang Bodoh Mendebatmu

Nasehat Imam Syafi’i: Jika Orang Bodoh Mendebatmu

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ ﷺ

Imam Asy-Syafi’i”

“Jika orang bodoh mendebatmu, maka sikap yang terbaik adalah diam. Jika kamu melayaninya, kamu akan letih sendiri. Jika kamu membantahnya, dia akan merasa senang.”

“Apabila orang bodoh berbicara kepadamu, maka janganlah engkau menjawabnya. Karena sekecil-kecil jawaban baginya adalah diam (tidak mempedulikannya).”

‘Janganlah engkau menyibukkan diri untuk mendebat orang yang suka memutarbalikkan kebenaran. Karena sesungguhnya penyakit kebodohan yang disertai kesombongan tidak ada obatnya kecuali berpaling darinya.”

“Kebenaran bisa menjadi lemah karena perselisihan, dan kebatilan bisa menjadi kuat karena didiamkan (namun diam kepada orang bodoh adalah keselamatan).”

‘”Diam adalah tingkatan akhlak yang tinggi ketika engkau berhadapan dengan orang yang tidak berniat mencari kebenaran, melainkan hanya ingin menjatuhkanmu .”

“Inti dari situasi ini adalah pentingnya kebersihan hati, kejujuran pada diri sendiri, dan bahaya dari sifat merasa suci (tazkiyatun nafs yang keliru) tanpa menyadari keburukan lisan dan sikap sendiri.

‘Sangat mudah bagi kita untuk memaafkan kesalahan orang lain. Namun, jauh lebih mulia jika kita mampu menyadari bahwa lisan kita sendiri sering kali menjadi belati yang melukai hati orang lain.”

“Jangan sibuk merasa berlapang dada memaafkan, sampai kamu lupa memeriksa apakah ada hati yang sedang menangis karena ucapanmu hari ini.”

“Suka memancing kesalahan atau memicu keributan merupakan cerminan dari hati yang kering dan rasa sombong, karena seseorang merasa dirinya paling benar sehingga mengabaikan dosa dan kekurangan pada dirinya sendiri.

“Kecerdasan seorang mukmin terlihat dari bagaimana ia menjaga lisannya. Ia tidak akan mengulang-ulang ucapan yang sama dan dengan Niat sengaja untuk menyinggung orang lain”

Cerdas bukan hanya soal angka, melainkan kemampuan mengendalikan hawa nafsu, ego, dan lisan demi keselamatan di dunia dan akhirat.

“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada seseorang yang meminta izin untuk menemuinya:

اِئْذَنُوا لَهُ، بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ -أَوْ: ابْنُ الْعَشِيرَةِ-
“Izinkan dia masuk, dia adalah sejelek-jelek saudara di tengah sukunya [atau: sejelek-jelek anak suku]. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika orang tersebut masuk, Nabi ﷺ tetap bersikap santun kepadanya. Setelah orang itu pergi, Aisyah bertanya mengapa Nabi sempat mengucapkan perkataan tersebut sebelum orang itu masuk.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَا عَائِشَةُ، إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ -أَوْ: وَدَعَهُ النَّاسُ- اتِّقَاءَ فُحْشِهِ

“Wahai Aisyah, sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan (dijauhi) oleh orang-orang karena takut terhadap kekejian/keburukan lisannya.” (HR. Bukhari no. 6032 dan Muslim no. 2591)

اَلّٰلهُمَّ صَلِّ عَلَی سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَی آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ

(gwa-swhs-ayat).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments