Google search engine
HomeAgamaPenyerahan Catatan Amaldi Akhirat

Penyerahan Catatan Amaldi Akhirat

TAFSIR JUZ AMMA (60)
📖 QS. Al-Insyiqaq/84:1–16
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sahabat yang dirahmati Allah,
Setiap langkah hidup manusia sesungguhnya sedang menuju satu titik pertemuan yang pasti: bertemu Allah di hari perhitungan. Tidak ada satu pun amal, kata, atau bisikan hati yang luput dari catatan. Dan pada hari itulah, semua catatan amal akan diserahkan langsung kepada setiap manusia, baik dari arah kanan — sebagai tanda keselamatan — atau dari arah belakang — sebagai tanda kehancuran.

Surah Al-Insyiqaq (QS. 84:1–16) menggambarkan dengan sangat kuat suasana akhirat, saat langit terbelah, bumi memuntahkan seluruh isinya, dan manusia menerima kitab catatan amal masing-masing. Ayat-ayat ini mengingatkan kita bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak kita mengumpulkan dunia, tetapi seberapa siap kita mempertanggungjawabkan semua yang telah kita lakukan.

Mari kita simak firman Allah berikut ini dengan hati yang khusyuk dan jiwa yang ingin berubah…

{إِذَا السَّمَاءُ انشَقَّتْ (1) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (2) وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ (3) وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ (4) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (5) يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ (6) فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ (7) فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا (8) وَيَنقَلِبُ إِلَىٰ أَهْلِهِ مَسْرُورًا (9) وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (10) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا (11) وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا (12) إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا (13) إِنَّهُ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ (14) بَلَىٰ إِنَّ رَبَّهُ كَانَ بِهِ بَصِيرًا (15) فَلَا أُقْسِمُ بِالشَّفَقِ (16)} [الإنشقاق : 1-16]

Terjemah
_(1) Apabila langit terbelah, (2) dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh, (3) dan apabila bumi diratakan, (4) dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, (5) dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh. (6) Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya. (7) Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, (8) maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, (9) dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. (10) Dan adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah belakang, (11) maka dia akan berteriak, “Celakalah aku!” (12) Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (13) Sungguh, dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan keluarganya (yang sama-sama kafir). (14) Sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhannya).
(15) Tidak demikian, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya._

Kosakata:
1. Huqqat وَحُقَّتْ (al-Insyiqaq/84: 2)
Kata huqqat adalah fi‘il madi (kata kerja lampau) dengan mabni majhul, dari haqqa-yahiqqu-haqqan. Kata haqqa di-mu’annas-kan (difemininkan)
menjadi haqqat. haqqat mabni majhul-nya huqqat. Kata al-haqq artinya berhak atau pantas. Dengan demikian, kata huqqat dalam ayat ini, langit diberi hak atau langit itu dibuat pantas untuk patuh dan taat kepada perintah Tuhannya. Menurut penafsiran Ibnu al-Jauzi, huqqat maksudnya memang berhaklah langit untuk mematuhi perintah Tuhannya yang telah menciptakannya. Artinya, memang menjadi kodrat langitlah untuk taat dan berserah diri sepenuhnya kepada perintah Tuhan, yang menciptakan dan mengendalikannya.
2. Kadhan كَدْحًا (al-Insyiqaq/84: 6)
Kadh adalah isim masdar dari kadiha-yakdahu-kadhan. Isim fa‘il-nya kadih. Kadh pada mulanya berarti “usaha sungguh-sungguh hingga letih dalam melakukan kegiatan”. Menurut az-Zajjaj, secara bahasa, al-kadh sama maksudnya dengan as-sa‘yu (berusaha). Manusia dalam bekerja pada dasarnya berusaha dengan sungguh-sungguh, dengan melihat masa yang akan datang baik pendek maupun panjang. Demikian yang dilakukannya hingga berakhir umurnya dengan kematian dan perjumpaan dengan Allah. Atas dasar itulah sehingga ayat ini menyatakan bahwa usaha manusia berlanjut hingga akhirnya ia pasti berjumpa dengan Allah, dan bahwa perjalanan menuju Allah adalah sesuatu yang pasti dan tak dapat dihindari.
3. Suburan ثُبُورًا (al-Insyiqaq/84: 11)
subur adalah isim masdar yang kedudukannya sebagai hal (menerangkan keadaan). Menurut az-Zajjaj, kata subur dalam penuturan orang Arab sering disamakan dengan ungkapan ya wailah ya suburah (aduh celaka, aduh celaka), dan hal itu sering dikatakan oleh setiap orang yang jatuh dalam kebinasaan. Setiap orang yang nasibnya buruk di akhirat dan menerima catatannya dari belakangnya, nanti akan berseru (berteriak), sabartu suburan, ”celakalah aku”.
4. Yahura يَحُورَ (al-Insyiqaq/84: 14)
Kata yahur adalah fi‘il mudari‘ (kata kerja berkelanjutan), dari hara-yahuru-huran. Ahli bahasa Arab berkata bahwa kata al-hur secara bahasa artinya kembali (ar-rujū‘). Lan yahura maksudnya tidak lain adalah lan yarji‘a. Ayat ini maksudnya “dia menduga bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali ke akhirat dan tidak pula dibangkitkan. Itu merupakan pandangan orang kafir. Kata yahuru maknanya kembali hidup setelah kematian. Yang dimaksud adalah bahwa yang bersangkutan (orang kafir) mengingkari hari kebangkitan. Bagi orang kafir, hidup dan kehidupan hanyalah di dunia, setelah itu semua makhluk hidup akan mati dan habis ditelan masa. Tidak ada yang namanya “kembali”.

Munasabah
Pada akhir Surah al-Mutaffifin dijelaskan bahwa orang-orang yang baik berada di surga yang penuh kenikmatan, dan orang-orang yang jahat berada di neraka yang penuh kesengsaraan. Pada permulaan surah ini dijelaskan tentang kejadian di hari Kiamat, hari dimana semua manusia akan diperhitungkan amalnya.

📖 Tafsir
(1-2) Dalam ayat-ayat ini, Allah menerangkan bahwa apabila langit terbelah karena telah rusak hubungan bagian-bagiannya dengan rusaknya peraturan alam semesta pada hari Kiamat nanti, disebabkan perbenturan bintang-bintang di langit karena masing-masing mempunyai daya tarik tersendiri. Oleh karena itu, rusaklah peraturan alam semesta dan terjadilah gumpalan-gumpalan awan yang gelap gulita yang timbul di beberapa tempat di angkasa luar, dan langit itu akan patuh kepada apa-apa yang diperintahkan Allah. Ia pantas menjadi patuh karena dialah makhluk Tuhan yang senantiasa berada dalam kekuasaan-Nya.
(3-5) Selanjutnya Allah menerangkan bahwa bila bumi dan gunung-gunung hancur berkeping-keping sehingga menjadi rata dan mengeluarkan apa yang ada di dalam “perut”-nya, maka hal itu adalah karena ketundukannya pada perintah Allah dan kepatuhan melakukan kehendak-Nya.
Dalam ayat-ayat lain, Allah berfirman:

{إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2)} [الزلزلة : 1-2]

Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. (az- Zalzalah/99: 1-2)

{وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ} [الإنفطار : 4]

Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar. (al-Infitar/82: 4)

{۞ أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ} [العاديات : 9]

Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan.
(al-‘Adiyat/100: 9)

Untuk tafsir pada kalimat “langit terbelah” di atas, dapat dilihat kembali pada telaah ilmiah Surah al-Insyiqaq/84:1-5, lihat pula telaah ilmiah Surah al-Haqqah/69:16 dan Surah al-Infitar/82:1. Kemudian, kalimat yang mengikutinya: “…dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh”, mengandung pengertian bahwa kejadian itu berlangsung menurut sunatullah, yaitu menurut hukum-hukum Allah yang ada di alam semesta ini. Pengertian “bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong” adalah bahwa bumi benar-benar luluh lantak, baik terjadinya benturan dengan planet atau benda langit lainnya, karena hilang atau kacaunya gaya gravitasi. Luluh lantaknya bumi inilah yang juga menyebabkan seluruh isi bumi dimuntahkan dan menjadikan isi bumi kosong. Kemudian, kalimat yang mengikutinya: “…dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh”, mengandung pengertian bahwa kejadian itu berlangsung menurut sunatullah, yaitu menurut hukum- hukum Allah yang ada di alam semesta ini.
(6) Dalam ayat ini, Allah mengungkapkan bahwa manusia dalam masa hidupnya bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-citanya. Setiap langkah manusia sesungguhnya menuju kepada akhir hidupnya, yaitu mati. Hal ini berarti kembali kepada Allah. Oleh karena itu, manusia akan mengetahui tentang baik buruk pekerjaan yang telah mereka kerjakan.
(7-9) Dalam ayat-ayat ini diterangkan golongan yang menerima catatan dengan tangan kanannya yang berisi apa-apa yang telah dikerjakannya, maka ia akan dihisab dengan mudah dan ringan. Dipaparkanlah semua perbuatannya yang baik dan yang buruk, kemudian diberi ganjaran atas perbuatannya yang baik dan dimaafkanlah perbuatannya yang buruk.
Dalam sebuah hadis Nabi saw dijelaskan:

‎عَنْ عَائِشَةَ قُلْتُ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ فِيْ بَعْضِ صَلاَتِهِ: اللهُمَّ حَاسِبْنِيْ حِسَابًا يَسِيْرًا، فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ يَا نَبِيَّ اللهِ مَا الْحِسَابُ الْيَسِيْرُ؟ قَالَ: أَنْ يَنْظُرَ فِيْ كِتَابِهِ فَيَتَجَاوَزَ عَنْهُ إِنَّهُ مَنْ نُوْقِشَ الْحِسَابَ يَوْمَئِذٍ يَا عَائِشَةُ هَلَكَ وَ كُلُّ مَا يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ يُكَفِّرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ تَشُوْكُهُ. (رواه أحمد)

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. berdoa dalam sebagian salat yang dilakukannya, “Wahai Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah”. Ketika Rasul selesai salat, aku berkata: “Wahai Nabi Allah, apakah hisab yang mudah itu? Rasulullah menjawab, “Hisab yang mudah adalah ketika Allah memeriksa catatan amal seseorang, Dia memaafkan. Wahai ‘Aisyah, orang yang diinterogasi pada perhitungan amalnya di hari itu (Hari Kiamat), maka ia celaka. Dan setiap musibah yang menimpa seorang mukmin, Allah akan mengampuni (dosanya) dengan musibah itu, walau hanya sekedar tertusuk duri.” (Riwayat Ahmad)

Maksud Rasulullah dengan perhitungan yang mudah ialah dimaafkan segala kesalahannya, sedangkan orang yang diperiksa catatannya dengan teliti adalah orang yang mendapat malapetaka. Barang siapa mendapat perhitungan yang mudah dan ringan, ia akan kembali kepada keluarganya yang mukmin dengan gembira sebagaimana firman Allah:

{فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ (19) إِنِّي ظَنَنتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ (20) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ (21)} [الحاقة : 19-21]

Adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, “Ambillah, bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin bahwa (suatu saat) aku akan menerima perhitungan terhadap diriku.” Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridai. (al-Haqqah/69: 19-21)

(10-12) Dalam ayat-ayat ini, Allah menerangkan bahwa golongan kedua adalah mereka yang banyak mengerjakan perbuatan maksiat, durhaka, dan tidak diridai Allah. Mereka akan menerima catatan perbuatan mereka dengan tangan kiri, dan dari belakang, kemudian mereka dimasukkan ke dalam neraka.

{وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ (25) وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ (26) يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ (27) مَا أَغْنَىٰ عَنِّي مَالِيَهْ ۜ (28) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (29)} [الحاقة : 25-29]

Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, “Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku. Sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku. Wahai, kiranya (kematian) itulah yang menyudahi segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku.” (al-Haqqah/69: 25-29)

(13-14) Dalam ayat-ayat ini, Allah menjelaskan bahwa ada dua hal yang menjadi sebab mengapa mereka menerima catatan amalnya dengan tangan kiri, yaitu: pertama, mereka berbuat sekehendak hatinya, mengerjakan kejahatan dan kemaksiatan dengan tidak memikirkan akibat buruk yang akan menimpa mereka di akhirat kelak.
Kedua, mereka menyangka bahwa mereka tidak akan kembali kepada Tuhannya dan tidak akan dibangkitkan kembali untuk dihisab dan menerima hasil perbuatan mereka di dunia.
(15) Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa mereka sesungguhnya akan kembali kepada-Nya dan akan menerima hasil perbuatan mereka di dunia. Orang yang saleh dan patuh mengerjakan perintah-Nya akan
dimasukkan ke dalam surga, sedang orang yang durhaka dan banyak berbuat maksiat akan dimasukkan ke dalam neraka.

Kesimpulan
1. Allah akan memperlihatkan kepada manusia di akhirat nanti catatan perbuatannya.
2. Bila ia mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik, ia akan menerima buku catatan perbuatannya dengan tangan kanan dan akan dimasukkan ke dalam surga.
3. Bila ia mengerjakan perbuatan-perbuatan buruk dan maksiat, maka ia akan menerima buku catatan perbuatannya dengan tangan kiri dan dari belakang, serta akan dimasukkan ke dalam neraka

_InsyaaAllah besuk di lanjutkan ke
QS. al-Insyiqaq/84: 17-17 tentang_ “TAHAPAN KEHIDUPAN MANUSIA”

‌‌‎🎯 Sukseskan Gerakan:
1. Takbiratul Ihram bersama imam – minimal tidak masbuq.
2. “Rebutlah” shaf pertama.

وَاللّٰهُ يَقُوْلُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

📝 Disusun oleh:
Alfaqir ilallah Mangesti Waluyo Sedjati
(Ketua KBIHU Baitul Izzah Sidoarjo, Hp/WA: 0811 254 005)

🌐 Follow us:
🔹 WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/H25OZuZUuW2EytV2tbCilf
🔹 Chanel Telegram: https://t.me/kajianBaitulIzzah

📚 Referensi:
1. Al-Qur’an Dan Tafsirnya (Edisi
yang Disempurnakan) Juz 30,
Departemen Agama RI,
diterbitkan oleh: Penerbit Lentera
Abadi, Jakarta, Dicetak oleh:
Percetakan Ikrar Mandiriabadi,
Jakarta, 2010
2. Aplikasi Quran Word by Word

💎 “Semoga tafsir ini menjadi amal jariyah ilmu. Jika membuka pemahaman dan menambah iman, silakan bapak/ibu [[fullname]] bagikan. Mari nyalakan nurani bangsa dengan cahaya Al-Qur’anul Karim.”

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments