Google search engine
HomeAgamaPerintah Bersabar Ketika Menerima Cobaan

Perintah Bersabar Ketika Menerima Cobaan

TAFSIR JUZ 29 (96)
📖 QS. al-Qalam/68: 48-52
▶️ PERINTAH BERSABAR KETIKA MENERIMA COBAAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh
Sahabat yang dirahmati Allah,

Dalam kehidupan manusia, sering terjadi kekeliruan dalam memahami cara Allah menegur dan memperingatkan hamba-Nya. Ketika kebenaran ditolak, tetapi kehidupan dunia masih berjalan tanpa gangguan yang tampak, sebagian orang mengira bahwa penolakan itu tidak membawa akibat apa pun. Padahal, ketetapan Allah tidak selalu datang dalam bentuk hukuman yang segera dan nyata.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa Allah terkadang menangguhkan hukuman bagi orang-orang yang mendustakan kebenaran. Penangguhan itu bukanlah tanda keridaan, melainkan bagian dari sunnatullah dalam memberi kesempatan, peringatan, dan ujian. Dalam penangguhan tersebut, manusia diuji apakah ia akan kembali kepada petunjuk Allah atau justru semakin larut dalam kesalahan. Oleh karena itu, rasa aman yang tidak disertai dengan keimanan dan ketaatan dapat menjadi bentuk kelalaian yang berbahaya.

Pada ayat-ayat ini, Allah Ta‘ālā menegaskan bahwa urusan orang-orang yang mendustakan Al-Qur’an sepenuhnya berada dalam kekuasaan-Nya. Rasulullah ﷺ diperintahkan untuk bersabar dalam menghadapi ketetapan Allah serta tetap teguh melaksanakan tugas kerasulan. Allah juga mengingatkan agar beliau tidak bersikap seperti Nabi Yunus ‘alaihissalām yang pernah meninggalkan kaumnya karena rasa marah dan putus asa, sebelum mendapat izin dari Allah.

Dengan demikian, ayat-ayat ini mengajarkan bahwa kesabaran, keteguhan, dan kepasrahan kepada ketentuan Allah merupakan sikap utama dalam menghadapi cobaan dan penolakan terhadap kebenaran. Kisah para nabi yang disinggung dalam ayat-ayat ini menjadi pelajaran agar manusia tidak tergesa-gesa dalam bersikap, serta senantiasa menyerahkan segala urusan kepada Allah Yang Maha Mengetahui.

{فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ (48) لَّوْلَا أَن تَدَارَكَهُ نِعْمَةٌ مِّن رَّبِّهِ لَنُبِذَ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ (49) فَاجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ الصَّالِحِينَ (50) وَإِن يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ (51) وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ (52)} [القلم : 48-52]

(48) Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti orang yang berada dalam (perut) ikan (Yunus) ketika dia berdoa dengan hati sedih. (49) Sekiranya dia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, pastilah dia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. (50) Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang yang saleh. (51) Dan sungguh, orang-orang kafir itu hampir- hampir menggelincirkanmu dengan pandangan mata mereka, ketika mereka mendengar Al-Qur’an dan mereka berkata, “Dia (Muhammad) itu benar- benar orang gila.” (52) Padahal (Al-Qur’an) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam.

Kosakata:
1. Madmum مَذْمُومٌ (al-Qalam/68: 49)
Madmum adalah bentuk isim maf‘ul dari fi‘il damma-yadummu-damman yang artinya mencela, mengecam. Jadi, madmum artinya tercela atau dicela. Pada akhir ayat 49 disebutkan: wa huwa madmum artinya: dia dicela atau tercela. Kalimat ini merupakan bagian dari rangkaian kisah Nabi Yunus yang ditelan ikan hiu tetapi masih hidup dalam perut ikan tersebut. Karena nikmat yang dilimpahkan Allah kepada Nabi Yunus, maka ikan itu memuntahkannya ke daratan. Allah lalu menumbuhkan di sampingnya pohon yaqtin yaitu semacam labu yang melindunginya dan buah pohon itu dapat dimakan, sehingga tubuhnya yang lemah menjadi kuat kembali untuk melaksanakan dakwah selanjutnya. Jika Nabi Yunus tidak segera mendapat nikmat dari Tuhan, dia pasti dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.

2. Layuzliqµnaka لَيُزْلِقُونَكَ (al-Qalam/68: 51)
Layuzliqunaka artinya mereka menggelincirkan kamu (Muhammad). Kata ini berasal dari fi‘il zaliqa-yazlaqu-zalaqan yang artinya tergelincir. Sedangkan azlaqa-yuzliqu-azlaqan berarti artinya menggelincirkan. Yuzliqunaka adalah fi‘il mudari‘ dengan fa‘il wau jama‘ dan disambung dengan damir ka (artinya kamu) sebagai maf‘ul, serta didahului lam at-taukid, sehingga artinya menjadi “mereka benar-benar menggelincirkan kamu”. Pada ayat 51 Surah al-Qalam ini, Allah menggambarkan kebencian orang-orang musyrik di Mekah kepada Nabi Muhammad karena Al-Qur’an yang beliau dakwahkan tidak dapat mereka bantah, baik dari sisi keindahan bahasanya maupun kandungan isinya. Mereka betul-betul tunduk menyerah menghadapi ayat-ayat Al-Qur’an. Oleh karena itu, mereka sangat benci dan marah sekali kepada Nabi Muhammad, sehingga jika tidak ada pertolongan Allah, mereka pasti menggelincirkan Nabi dengan pandangan atau sorotan mata mereka yang mempunyai ilmu semacam hipnotis, yang dapat berpengaruh buruk dan memaksa orang yang dipandangnya untuk melakukan hal-hal yang mereka kehendaki.

Munasabah
Pada ayat-ayat yang lalu, Allah memerintahkan Nabi Muhammad dan orang-orang Islam supaya menyerahkan kepada-Nya urusan tentang orang-orang kafir yang selalu mendustakan dan mengingkari Al-Qur’an. Ia pasti menghukum mereka meskipun ada yang ditangguhkan siksaannya selama hidup di dunia, tetapi di akhirat azab itu pasti menimpa mereka.
Pada ayat-ayat berikut ini, Allah memerintahkan kepada Nabi ﷺ agar bersabar dalam menerima segala cobaan dan ketetapan-Nya, baik dalam melaksanakan tugas sebagai rasul Allah, maupun dalam menghadapi sikap dan tindakan orang-orang kafir. Kemudian diterangkan sikap orang-orang musyrik Mekah tatkala mendengar bacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan tuduhan mereka bahwa Nabi ﷺ adalah orang gila. Allah menegaskan bahwa orang yang dapat memahami Al-Qur’an dengan mudah hanyalah orang-orang yang telah diberi taufik.

❇️ Tafsir
(48) Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar bersabar dalam menerima ketetapan-Nya, tetap melaksanakan tugas kerasulan yang telah dibebankan kepadanya, dan menghindari segala sesuatu yang dapat menghalangi atau mengganggu usaha-usaha dalam melaksanakan tugas itu. Kemudian Allah memperingatkan beliau agar tidak bersikap dan bertindak seperti seorang yang berada dalam perut ikan, yaitu Nabi Yunus. Karena marah kepada kaumnya, Nabi Yunus lalu meninggalkan mereka dan berdoa kepada Allah agar mereka ditimpa azab yang membinasakan.
Kisah ini bermula ketika Nabi Yunus diutus Allah kepada penduduk kota Niniveh. Ia menyeru kaumnya agar menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia. Tetapi penduduk kota Niniveh menolak ajakan itu, bahkan mereka mengingkari dan mengancamnya. Karena sikap dan tindakan kaumnya yang demikian itu, beliau pun marah serta memperingatkan mereka bahwa Allah akan menimpakan malapetaka yang sangat dahsyat sebagai balasan terhadap sikap dan keingkaran mereka. Beliau pun lalu meninggalkan kaumnya.
Sepeninggal Nabi Yunus, kaumnya sadar dan takut kepada ancaman Allah itu, maka mereka pun keluar dari rumah-rumah mereka menuju tanah lapang bersama istri, anak, dan binatang ternak mereka. Di tanah lapang itu, mereka bersama-sama menyatakan bertobat kepada Allah, dan merendahkan diri dengan penuh keimanan. Mereka berjanji kepada Allah akan mengikuti seruan Yunus, melaksanakan perintah dan menghentikan larangan-Nya. Karena kaum Yunus itu bertobat dengan sebenar-benarnya, tunduk, dan menyerahkan diri kepada-Nya, maka Allah mengabulkan doa mereka dengan mengurungkan datangnya malapetaka itu kepada mereka, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah:

{فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ} [يونس : 98]

Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu. (Yunus/10: 98)

Adapun Nabi Yunus, setelah memberi peringatan itu, pergi dari kaumnya dengan meninggalkan tugas yang dipercayakan Allah kepadanya sebagai rasul-Nya. Tanpa mendapat izin dari Allah, beliau pergi dengan menumpang sebuah kapal yang sarat dengan muatan. Setelah kapal itu berlayar dan berada di tengah lautan timbullah kekhawatiran nakhodanya bahwa kapal itu bakal tenggelam, seandainya muatannya itu tidak dikurangi.
Untuk mengurangi muatan kapal itu, mereka mengadakan undian di antara penumpang. Barang siapa yang kalah dalam undian itu, akan dilemparkan ke dalam laut. Dengan demikian, kapal itu akan terhindar dari bahaya tenggelam. Dalam undian itu, Nabi Yunus kalah, namun para penumpang kapal itu merasa berat melakukan keputusan tersebut. Hal itu diulangi hingga tiga kali dan hasilnya sama, Nabi Yunus tetap kalah. Namun sebagaimana yang pertama, para penumpang juga merasa berat melaksanakan keputusan itu. Akhirnya Nabi Yunus mengambil keputusan sendiri, dan ia pun terjun ke dalam laut. Setelah Yunus terjun ke dalam laut, Allah memerintahkan seekor ikan hiu yang besar menelannya. Kepada ikan itu diwahyukan agar jangan memakan daging dan tulang Yunus, tetapi cukup menjadikan perutnya sebagai penjara bagi Yunus, karena Yunus bukan makanannya.
Nabi Yunus merasa menderita dan sengsara dalam perut ikan yang gelap itu. Ia bertobat, berdoa, dan menyerahkan dirinya kepada Allah, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menyelamatkannya, sebagaimana diterangkan pada firman Allah yang lain:

{وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)} [الأنبياء : 87-88]

Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ”Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman. (al-Anbiya’/21: 87-88)

(49) Setelah beberapa hari berada dalam perut ikan, Nabi Yunus dilimpahi rahmat oleh Allah dengan mewahyukan kepada ikan itu agar melontarkan Yunus ke daratan. Maka ikan itu pun melontarkan Yunus ke daratan. Ia jatuh di daratan yang tandus, sepi tidak ada air, tumbuh- tumbuhan, dan kayu-kayuan di sekitarnya. Badannya pun dalam keadaan sangat lemah dan sakit, karena penderitaan yang dialaminya selama berada dalam perut ikan, dan karena kesedihannya akibat sikap kaumnya yang menantang dakwahnya. Untuk melindunginya dari terik panas matahari dan kedinginan malam, Allah menumbuhkan di sampingnya semacam pohon labu (yaqtin). Dengan demikian, Nabi Yunus terlindungi dan juga dapat memakan buahnya sebagai penguat tubuhnya yang lemah, sebagaimana firman Allah:

{۞ فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ سَقِيمٌ (145) وَأَنبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِّن يَقْطِينٍ (146)} [الصافات : 145-146]

Kemudian Kami lemparkan dia ke daratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit. Kemudian untuk dia Kami tumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu. (as-Saffat/37: 145-146)

Seandainya Allah tidak melimpahkan rahmat-Nya kepada Yunus, tentu ia akan tenggelam di lautan, atau hancur lumat di dalam perut ikan, atau mati kelaparan dan kekeringan di tengah-tengah padang yang tandus. Akan tetapi, Allah Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya yang mau bertobat dengan sebenar-benarnya, seperti yang dilakukan Nabi Yunus. Oleh karena itu, Allah melimpahkan rahmat kepadanya.
(50) Setelah kesehatan Yunus pulih kembali, demikian pula kekuatan badannya, maka Allah mengutusnya kembali kepada kaumnya yang pada waktu itu berjumlah seratus ribu orang lebih, sebagaimana firman Allah:

{وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ (147) فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ (148)} [الصافات : 147-148]

Dan Kami utus dia kepada seratus ribu (orang) atau lebih, sehingga mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu tertentu. (as-Saffat/37: 147-148)

Kedatangan Yunus disambut kaumnya dengan gembira dan menyatakan keimanan kepadanya, sehingga mereka termasuk orang-orang yang saleh.
Dengan ayat-ayat di atas, Allah memperingatkan Nabi Muhammad agar jangan sekali-kali bersikap dan bertindak seperti yang dilakukan Nabi Yunus yang mudah marah dan mudah berputus asa, sehingga ia meninggalkan kaumnya dan tugas suci yang telah dibebankan kepadanya, yaitu tugas kerasulan. Nabi Muhammad diperintahkan untuk selalu tabah dan sabar dalam keadaan bagaimana pun karena Allah menyukai orang-orang yang sabar.
(51) Allah menyatakan kepada Nabi Muhammad ﷺ bahwa karena orang-orang musyrik sangat marah dan benci kepada beliau, mereka memandang Nabi dari sudut matanya dengan pandangan yang penuh kemarahan dan kebencian. Hal ini terutama setiap kali mereka mendengar bacaan ayat-ayat Al-Qur’an.
Menurut sebagian ahli tafsir, yang dimaksudkan dengan “orang-orang yang hampir-hampir menggelincirkan Nabi dengan pandangan matanya” ialah Bani Asad, salah satu kabilah di negeri Arab waktu itu. Diriwayatkan bahwa orang-orang dari Bani Asad mempunyai semacam ilmu yang dapat mempengaruhi orang lain dengan menggunakan ketajaman sorotan matanya. Maka sebahagian mereka bermaksud mencobakan ilmunya itu kepada Nabi Muhammad, karena menurut mereka seandainya Muhammad itu benar-benar seorang rasul yang diutus Allah, tentu ia tidak akan terpengaruh oleh ilmu mereka itu. Kenyataannya bahwa ilmu itu memang tidak mempan terhadap Rasulullah ﷺ.
Dari riwayat di atas ayat ini dipahami bahwa segala macam ilmu gaib apa pun tidak akan dapat mengenai atau mempengaruhi seseorang jika ia beriman kepada Allah, kecuali ilmu-ilmu yang sesuai dengan sunatullah, seperti menyakiti seseorang dengan cara mempengaruhi jiwanya sesuai dengan dalil dan ketetapan ilmu jiwa, menganiaya seseorang dengan aliran listrik, dan sebagainya. Ilmu-ilmu yang demikian itu dapat mempengaruhi seseorang.
Karena orang-orang musyrik itu tidak dapat mempengaruhi Rasulullah dengan ilmu-ilmu yang ada pada mereka, seperti sorotan ketajaman mata, dan karena tidak dapat menandingi ayat-ayat Al-Qur’an, maka mereka mengatakan bahwa sesungguhnya ia (Muhammad) itu benar-benar orang yang gila.
(52) Dalam ayat ini, Allah mengatakan dengan tegas bahwa Al-Qur’an itu berisi petunjuk dan pelajaran untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Ia diperuntukkan bagi seluruh manusia di mana pun mereka berada, baik bagi penduduk negeri-negeri yang telah maju ataupun bagi penduduk negeri yang sedang berkembang atau terbelakang, baik untuk orang yang pintar maupun untuk orang yang bodoh, baik penduduk kota maupun penduduk desa, baik bagi orang yang kaya maupun bagi orang-orang yang miskin, dan sebagainya. Oleh karena itu, setiap orang dapat belajar memahami dan mempelajari Al-Qur’an, asal ia mempunyai sikap akan menerima setiap kebenaran yang disampaikan kepadanya. Jika seseorang belum mempunyai sikap yang demikian, walaupun hati dan pikirannya telah menerima kebenaran Al-Qur’an, namun hawa nafsunya memerintahkan agar ia menentang Al-Qur’an itu dan mengatakannya sebagai buatan manusia atau tuduhan lainnya.
Berapa banyak orang yang terus-menerus melawan kebenaran dan keadilan karena memperturutkan hawa nafsunya, seperti hawa nafsu ingin pangkat, kedudukan, harta yang banyak, takut dipencilkan oleh golongannya, takut meninggalkan kepercayaan nenek moyangnya, dan sebagainya. Betapa banyak orang yang bersedia membunuh teman, saudara kandung, bahkan ayah dan ibunya karena mengiuti hawa nafsunya.
Muhammad ﷺ adalah seorang nabi dan rasul Allah yang telah terbukti kejujurannya, seorang yang dihormati dan dipercayai oleh kaumnya, adil sempurna akal pikirannya, tidak seorang pun yang mengingkarinya. Setelah beliau diangkat Allah sebagai nabi dan rasul, timbullah rasa benci itu, karena mengikuti Muhammad ﷺ berarti meninggalkan pangkat, harta, kese- nangan, dan kesewenang-wenangan.

🌟 Kesimpulan
1. Allah memerintahkan agar Nabi Muhammad tetap melaksanakan dakwahnya, bersabar menghadapi segala macam cobaan yang datang, melarang melakukan seperti yang telah dilakukan Nabi Yunus yang marah dan putus asa, meninggalkan kaumnya serta tugas kenabian dan kerasulan yang dibebankan Allah kepadanya.
2. Nabi Yunus kemudian dianugerahi nikmat dan karunia yang besar oleh Allah, setelah ia mau bertobat dengan tobat yang sebenar-benarnya dari semua dosa dan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya.
3. Sikap dan tindakan orang-orang kafir kepada Rasulullah disebabkan oleh hawa nafsu, bukan karena kesalahan ajaran atau agama yang dibawa beliau.
4. Memahami Al-Qur’an itu sebenarnya mudah, dapat dipelajari, dipahami, dan diamalkan oleh siapa saja, asal mau bersikap ingin mencari kebenaran, mengenyampingkan segala keinginan yang ditimbulkan hawa nafsu.

P E N U T U P

Surah al-Qalam berisi bantahan dari orang-orang musyrik terhadap Nabi Muhammad dan memperingatkan agar beliau tidak mengikuti kemauan mereka. Mereka itu mendapat penghinaan pada hari Kiamat akibat perbuatan mereka.

_InsyaaAllah besuk di lanjutkan ke
QS. al-Haqqah/69: 1-12 tentang_ “ORANG YANG MENDUSTAKAN KEBENARAN PASTI BINASA”

‌‌‎🎯 Sukseskan *Gerakan Sholat Berjamaah di Masjid:
1. Takbiratul Ihram bersama wimam minimal tidak masbuq.
2. “Rebutlah” shaf pertama dalam sholat berjamaah.

وَاللّٰهُ يَقُوْلُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ

Wa-Allāhu yaqūlu al-ḥaqqa wa huwa yahdī as-sabīl
Dan Allah mengatakan yang benar, dan Dia menunjukkan jalan yang lurus. (QS. Al-Aḥzāb/33: 4)

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

📝 Disusun oleh:
Alfaqir ilallah Mangesti Waluyo Sedjati
(Ketua KBIHU Baitul Izzah Sidoarjo, Hp/WA: 0811.254.005)

📚 Referensi:
1. Al-Qur’an Dan Tafsirnya (Edisi
yang Disempurnakan) Juz 29,
Departemen Agama RI,
diterbitkan oleh: Penerbit Lentera
Abadi, Jakarta, Dicetak oleh:
Percetakan Ikrar Mandiriabadi,
Jakarta, 2010
2. Aplikasi Quran Word by Word

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments