Google search engine
HomeEkbisRefleksi Kritis atas Jalan Energi Indonesia

Refleksi Kritis atas Jalan Energi Indonesia

KEDAULATAN ENERGI UNTUK RAKYAT, BUKAN UNTUK ELITE
🟩 Refleksi Kritis atas Jalan Energi Indonesia

✍️ Mangesti Waluyo Sedjati
Ketua Majelis Ilmu Baitul Izzah | Sekjen DPP Al-Ittihadiyah
Sidoarjo, 5 September 2025

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Sahabat sebangsa yang dimuliakan Allah,
Hari ini, mari kita bertanya jujur sebagai bangsa: mengapa negeri yang diberkahi dengan kekayaan alam melimpah justru terus-menerus terjebak dalam krisis energi? Mengapa negara yang memiliki cadangan minyak, gas, batu bara, panas bumi, air, surya hingga uranium—masih harus mengimpor BBM, menghadapi subsidi energi yang membengkak, dan listrik yang belum menyala di pelosok negeri?

Jawabannya bukan pada kurangnya sumber daya, tapi pada hilangnya kedaulatan dalam mengelolanya.

🔎 Energi Bukan Sekadar Teknis, Tapi Soal Kedaulatan

Energi bukan hanya urusan teknis atau infrastruktur. Energi adalah nadi kehidupan dan penentu arah peradaban.
Bangsa yang menguasai energinya, menguasai masa depannya. Bangsa yang bergantung dari luar, akan tunduk pada logika pasar dan tekanan politik global.

Amerika mengendalikan dunia lewat petrodollar, Rusia menjadikan gas sebagai senjata geopolitik, Tiongkok membeli tambang dari Afrika hingga Asia Tenggara. Semua negara besar paham: energi adalah alat untuk bertahan, memimpin, bahkan mendominasi.

Lalu, di mana Indonesia berdiri?

⚠️ Potret Ironis: Kaya Sumber Daya, Miskin Kedaulatan

📌 2023: impor BBM Indonesia mencapai 25 miliar USD.
📌 Lebih dari 55% konsumsi BBM berasal dari luar negeri.
📌 Produksi minyak hanya 605 ribu barel/hari, jauh dari target 1 juta.
📌 Potensi panas bumi 29 GW, baru dimanfaatkan ±10%.
📌 Potensi energi air 75 GW, belum dimanfaatkan 15%.
📌 PLTN? Masih tersandera stigma dan politik.

Sementara itu, rakyat di Papua, NTT, Maluku masih merindukan listrik 24 jam, harga LPG terus naik, subsidi bocor, dan oligarki energi tetap panen rente.

💣 Energi Jadi Arena Ketimpangan dan Rente

Energi seharusnya sumber kemakmuran, tetapi berubah jadi lahan korupsi dan kekuasaan segelintir orang. Dari mafia migas hingga proyek transisi energi yang kosmetik.

Apa gunanya ribuan PLTS kalau modulnya impor dan rakyat tetap terbebani tarif? Apa artinya transisi energi kalau hanya proyek investor asing tanpa transfer teknologi?

Transisi tanpa kedaulatan hanyalah sandiwara.

🔁 Arah Kebijakan: Tidak Konsisten, Tak Visioner

Sejak UU Energi 2007, jargon bauran energi selalu dikumandangkan. Tapi kenyataannya: fosil masih 86%, target 23% EBT pada 2025 nyaris mustahil.

Program energi terjebak siklus politik 5 tahunan, tanpa lembaga energi nasional yang kuat, independen, dan visioner.

🌱 Padahal Solusi Ada di Depan Mata

✔️ Kita punya BATAN, BRIN, kampus teknik energi.
✔️ Kita punya umat Islam dengan potensi wakaf & koperasi energi.
✔️ Kita punya jaringan masjid, pesantren, komunitas.
✔️ Kita punya rakyat yang mau berdaya, asal diberi ruang.

Yang tidak kita punya adalah: kemauan politik tulus dan keberanian moral untuk memutus ketergantungan.

🛠️ Membangun Jalan Kedaulatan Energi
🔹 Negara harus menguasai hulu-migas & PLTN sebagai infrastruktur strategis.
🔹 Bentuk Badan Energi Nasional yang bebas tarik-menarik politik.
🔹 Dorong koperasi energi rakyat berbasis desa & pesantren.
🔹 Literasi energi dari sekolah hingga khutbah Jum’at.
🔹 Hapus stigma anti-nuklir dengan sains, bukan ketakutan.
🔹 Satukan kekuatan umat, kampus, pesantren, komunitas dalam gerakan energi berkeadilan.

🟩 Penutup: Menyalakan Energi untuk Keadilan Sosial

Kita bukan kekurangan energi. Kita kekurangan keberanian untuk mengambil alih kendali.

“Selama energi dikuasai elite, rakyat hanya jadi penonton. Tapi jika energi dikuasai umat, kita akan jadi bangsa pemilik masa depan.”

Mari kita ubah cara pandang:
➡️ Dari energi sebagai komoditas → energi sebagai hak rakyat.
➡️ Dari energi eksklusif → energi inklusif dan membebaskan.
➡️ Dari konsumsi pasif → menuju kedaulatan & keadilan.

💬 Mulai dari percakapan keluarga.
💡 Lanjut ke kajian masjid.
🎓 Gaungkan di sekolah & kampus.
🔧 Wujudkan lewat koperasi & wakaf energi.

📲 Sebarkan jika Anda peduli masa depan energi kita.
✊ Bangkitkan kesadaran, bukan hanya keluhan harga naik.
⚡ Jadilah bagian perubahan: menyalakan energi, menyinari bangsa.

🕊️ Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments