Google search engine
HomeUncategorizedROBOHNYA SURAU KAMI: Refleksi untuk musibah Sidoarjo

ROBOHNYA SURAU KAMI: Refleksi untuk musibah Sidoarjo

Suatu hari, A.A. Navis menulis sebuah kisah getir berjudul “Robohnya Surau Kami.”

Tentang seorang kakek penjaga surau yang begitu tekun beribadah, hingga melupakan dunia di sekelilingnya. Ia yakin hidup hanyalah persinggahan, dan amal akhirat adalah segalanya. Namun ketika ia wafat dan “berjumpa” dengan Tuhan, justru dimarahi, sebab sepanjang hidupnya, ia tidak berbuat apa² bagi manusia. Ia beribadah kepada Tuhan, tetapi melupakan ciptaan-Nya.

Lalu, puluhan tahun kemudian, di alam nyata, sebuah masjid di sebuah pesantren di Sidoarjo ambruk. Bangunan yang dimaksudkan untuk memuliakan Tuhan itu runtuh menimpa jamaah-Nya sendiri. Dan ironisnya, penyebabnya bukan badai, bukan gempa, melainkan kelalaian manusia.

Pembangunan tanpa perhitungan, tanpa pengawasan, tanpa tenaga profesional.

Dua kisah ini, satu dari lembar sastra dan satu dari kenyataan, menyatu dalam gema yang sama, bahwa agama tanpa tanggung jawab duniawi adalah kesalehan yang pincang.

Navis, melalui suraunya yang roboh, seolah mengingatkan bahwa iman yang hanya melangit, tapi tak berpijak di bumi, akan kehilangan makna. Dan masjid yang ambruk di Sidoarjo adalah bentuk paling nyata dari peringatan itu, bahwa kesungguhan spiritual tidak boleh meniadakan nalar. Sebab Tuhan yang kita sembah bukan hanya Tuhan ibadah, tapi juga Tuhan ilmu, Tuhan keselamatan, dan Tuhan keteraturan.

Membangun rumah ibadah seharusnya bukan hanya mengundang tukang, tapi juga insinyur.

Bukan hanya berdoa agar kokoh, tapi juga memastikan pondasinya kuat, besinya cukup, dan strukturnya aman. Sebab setiap tiang yang roboh karena kelalaian, bukan hanya menimpa tubuh manusia, tapi juga menodai makna suci dari kata “ibadah” itu sendiri.

Mungkin, surau yang roboh dan masjid yang ambruk itu bukan semata bangunan yang jatuh, melainkan tanda bahwa kesadaran kita sebagai umat sedang retak.Retak oleh kepercayaan yang menolak akal, oleh semangat beribadah yang tidak diimbangi tanggung jawab sosial dan keilmuan.

PESAN KE DEPAN

Kita perlu belajar kembali menegakkan agama bukan hanya di atas sajadah, tetapi juga di atas tanah yang nyata, tanah yang butuh ilmu, disiplin, dan empati. Kesalehan sejati bukan hanya berdzikir di surau, tapi juga memastikan surau itu tidak roboh karena kebodohan kita sendiri.

Karena pada akhirnya, Tuhan tak hanya bertanya: “Berapa banyak engkau rukuk dan sujud?”. Tapi juga: “Seberapa sungguh engkau menjaga keselamatan saudaramu, dan bumi tempatmu bersujud itu?”

Di copy dari status Koento H Baiquni

(4 Oktober 2025)

(gwa-dd-sidoaro).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments