Oleh: Mangesti Waluyo Sedjati
Sekjen DPP Al-Ittihadiyah | Pengkaji Konstitusi & Ekonomi Politik Berbasis Pancasila
Sidoarjo, 8 April 2025
I. Pendahuluan: Ketika Sang Arsitek Globalisasi Justru Menutup Diri
Selama lebih dari 70 tahun pasca-Perang Dunia II, Amerika Serikat menjadi motor utama globalisasi ekonomi. Mereka membangun institusi global seperti IMF, World Bank, dan WTO untuk memfasilitasi arsitektur pasar bebas dunia. Namun, ketika Donald J. Trump naik ke tampuk kekuasaan pada 2016, arah angin berubah.
Dengan slogan “Make America Great Again” dan kebijakan “Buy American, Hire American”, Trump memperkenalkan kembali economic nationalism. Kebijakan-kebijakan seperti tarif bea masuk tinggi, represif terhadap impor China, dan penarikan perusahaan Amerika kembali ke tanah air (reshoring) menjadi bagian dari strategi membangun kedaulatan ekonomi nasional.
Menurut data U.S. Census Bureau, defisit perdagangan Amerika terhadap China sempat menurun dari USD 419 miliar pada 2018 menjadi USD 308 miliar pada 2020 karena tarif dan pengalihan rantai pasok. Trump menunjukkan bahwa proteksionisme bukan momok; ia bisa menjadi alat strategis untuk menyembuhkan luka deindustrialisasi, menumbuhkan lapangan kerja, dan melindungi pekerja domestik.
II. Deindustrialisasi Indonesia: Sebuah Realitas Pahit
1. Struktur Ekspor yang Rapuh
Indonesia mengalami ketergantungan struktural pada ekspor komoditas mentah. Menurut BPS (2023), lebih dari 60% nilai ekspor Indonesia berasal dari:
• Batu bara: USD 38,8 miliar
• Minyak kelapa sawit (CPO): USD 26,5 miliar
• Bijih nikel, tembaga, dan bauksit: USD 12,3 miliar
Sebaliknya, ekspor barang manufaktur bernilai tambah masih rendah, dan bahkan cenderung stagnan. Contohnya, kontribusi ekspor elektronik Indonesia hanya sekitar USD 10 miliar pada 2022, jauh di bawah Vietnam (USD 114 miliar) atau Malaysia (USD 92 miliar).
2. Penurunan Kontribusi Manufaktur terhadap PDB
Sektor manufaktur Indonesia mengalami penurunan drastis:
• Tahun 2001: kontribusi manufaktur terhadap PDB = 29,05%
• Tahun 2023: kontribusi manufaktur turun menjadi 18,25%
(Sumber: World Bank Development Indicators, 2024)
Fenomena ini dikenal sebagai “premature deindustrialization” (Rodrik, 2015) — kondisi di mana negara mengalami penurunan sektor industri sebelum mencapai level pendapatan menengah ke atas. Hal ini mempersulit pencapaian pertumbuhan jangka panjang, memperlebar kesenjangan, dan mempersempit peluang kerja berkualitas.
3. Dampak di Lapangan
a. Sektor Tekstil dan Garmen
• Industri ini sempat menyerap 3 juta pekerja langsung.
• Namun, antara 2019–2023, lebih dari 107.000 pekerja di sektor ini terkena PHK.
• Penyebab utama: banjir impor dari China, India, dan Bangladesh (API, 2024).
b. Sektor Elektronik
• Merek lokal seperti Polytron kini hanya bertahan di niche market.
• Panasonic menutup pabrik pendingin ruangan di Indonesia tahun 2019.
• Toshiba hengkang dari pasar Indonesia pada 2018.
• Impor elektronik China naik dari USD 3,8 miliar (2010) menjadi USD 9,7 miliar (2023) (Data: UN COMTRADE & BPS).
c. UMKM Terdesak Barang Impor
• 95% UMKM Indonesia mengeluh tak mampu bersaing harga dengan barang impor, khususnya dari China (LPEM FEB UI, 2023).
• Pasar e-commerce dipenuhi barang murah dari luar, dengan 65% berasal dari produk non-lokal (Katadata Insight Center, 2022).
III. Globalisasi: Bukan Gelanggang Netral, Tapi Medan Perang
1. Narasi Palsu Pasar Bebas
Slogan seperti “kompetisi sehat” atau “pasar bebas” nyatanya hanya berlaku bagi negara lemah. Negara-negara kuat justru memasang berbagai tameng proteksi untuk melindungi sektor strategisnya.
2. Bentuk Intervensi Negara Maju
a. Subsidi Masif
• AS menggelontorkan USD 41 miliar/tahun untuk sektor pertanian (USDA, 2022).
• Uni Er…


