MUTIARA SUBUH
Oleh: KH Drs Ahmad Zainuri, KBIHU Al Wahyu, Rewwin, Waru, Sidoarjo.
Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh..
Bismillahirrahmanirrahim…
Shollallahu’alaa Muhammad..
“Seseorang itu bergantung kepada agama sahabatnya, maka perhatikanlah salah seorang dari kamu kepada siapa ia bersahabat.” (HR Abu Daud).
Dasar dari sebuah persahabatan adalah psikososial yang secara naluriah telah ada dalam setiap diri manusia. Relasi sosial antara manusia yang terefleksi dalam interaksi sosial adalah sebuah fakta dan keniscayaan.
Manusia tidak mungkin bisa hidup sendirian. Ibarat binatang yang mencari komunitas dan lingkungan yang membuat dirinya bisa nyaman dan bertahan hidup merupakan refleksi dari gharizah (naluri). Binatang akan cenderung berkumpul dengan binatang sejenis, bukan dengan binatang lain jenis, kecuali dalam kondisi tertentu atau sengaja dikondisikan. Hal ini sifatnya naluriah. Seorang laki-laki yang mencari pasangan wanita untuk dinikahi, maka akan melakukan pengondisian psikologi dengan mencari kecocokan batin dan pikiran. Terjadilah proses taaruf yang intinya mencoba menyamakan visi, pikiran, dan perasaan.
Jika tidak mendapatkan kecocokan, maka biasanya mereka akan memutuskan untuk tidak jadi menikah. Tidak jarang pula setelah menikah justru berujung perceraian karena ketidakcocokan. Bisa juga dipicu dari faktor luar yang dianggap bisa mengganggu stabilitas komitmen di awal pernikahan. Contohnya, ketika seorang suami atau istri berkhianat akan janjinya maka bisa berujung kepada perceraian.
Oleh karena itu, wajar jika pelacur akan berteman dengan pelacur, pencuri akan berteman dengan pencuri, penjudi akan bersahabat dengan penjudi, pembohong akan bersahabat dengan pembohong, pengkhianat akan bersahabat dengan pengkhianat, pejuang akan bersahabat dengan pejuang, pecundang akan bersahabat dengan pecundang, pecinta olahraga akan bersahabat dengan pecinta olahraga, dan seterusnya.
Tidak heran jika ada preman bersahabat dengan preman, penghafal Al-Qur’an bersahabat dengan penghafal Al-Qur’an, pecinta ilmu bersahabat dengan pecinta ilmu, pecandu narkoba akan bersahabat dengan pecandu narkoba, pemabuk temannya pemabuk juga, copet bergerombol dengan copet juga, bahkan orang gila juga akan mencari temannya yang sama-sama gila, lihatlah di rumah sakit jiwa.
Lebih jauh lagi, hadis di atas mengaji relasi manusia, bahkan dihubungkan dengan orientasi teologis. Maknanya bahwa seseorang akan cenderung memilih sahabat hidupnya karena kesamaan agamanya. Pun manusia akan bersahabat karena faktor kesamaan ideologi dan orientasi hidupnya. Wajar, seorang muslim akan bersahabat dengan muslim, orang kafir akan bersahabat dengan sesama kafir, begitu pun orang munafik akan nyaman bersama dengan orang munafik. Begitu pula orang liberal akan bersahabat dengan orang liberal, orang nasionalis akan bersahabat dengan nasionalis, pembenci Islam juga akan nyaman bersama dengan pembenci Islam, dan seterusnya.
Selamat beraktifitas pada hari ini semoga hari ini lebih baik dan lebih sukses dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dan lebih sukses dari hari ini jangan lupa tersenyum dan bahagia bersama keluarga tercinta salam silaturahmi dan salam sehat untuk kita semua
Ya Allah… Kumpulkan kami beserta para kekasihMu, bimbing kami tuk menuju jalan ridhoMu berkahi hidup kami matikan kami dengan Husnul khatimah alfatihah.


