MOJOKERTO-kanalsembilan.com (22 Juli 2026)
Sejak pagi, Ahad (19/7/2026), ribuan orang berdatangan ke kompleks Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) eLKISI, Pungging, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Mereka datang dari berbagai daerah untuk mengikuti Silaturahmi Nasional (Silatnas) Ke-13 dan Tablig Akbar yang menjadi agenda tahunan pesantren tersebut.
Lantai atas dan bawah masjid dipenuhi jemaah. Tenda-tenda yang disiapkan panitia juga tidak mampu menampung seluruh peserta. Sebagian jemaah mengikuti acara dari halaman pesantren, sementara lainnya berteduh di bawah pepohonan di sekitar lokasi.
Panitia memperkirakan sekitar 8.000 jemaah menghadiri kegiatan tersebut.
Silatnas kali ini mempertemukan tiga unsur penting dalam pengembangan pendidikan dan pemberdayaan umat.
Tradisi keilmuan Islam internasional hadir melalui perwakilan Universitas Al-Azhar, Mesir. Pesantren membawa pengalaman pendidikan dan kaderisasi dakwah, sedangkan pemerintah menawarkan dukungan terhadap kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan pesantren.
Pesantren Harus Melahirkan Generasi Solutif
Pengasuh PPIC eLKISI, Dr. K.H. Fathur Rohman, M.Pd.I., membuka rangkaian kegiatan dengan menegaskan bahwa pesantren tidak boleh berhenti sebagai tempat penyampaian ilmu-ilmu keislaman.
Menurutnya, pesantren perlu melahirkan generasi yang memiliki kedalaman spiritual, keluasan ilmu, akhlak mulia, serta kemampuan menghadirkan solusi atas persoalan umat dan bangsa.
Ia mengatakan, pendidikan Islam harus membentuk manusia yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian kepada Allah Swt. sekaligus sarana memberikan kemaslahatan bagi sesama.
Nuansa internasional semakin terasa dengan kehadiran Prof. Dr. Nahla Shabry Al-Saidi, Penasihat Grand Syekh Al-Azhar Bidang Mahasiswa Internasional sekaligus Dekan Fakultas Studi Islam untuk Mahasiswa Internasional Universitas Al-Azhar.
Sehari sebelum Silatnas, Prof. Nahla telah mengunjungi PPIC eLKISI. Dalam kunjungan tersebut, ia berdialog dan memberikan pembinaan kepada para santri serta peserta Markaz Lughah eLKISI.
Bahagia Dapat Berkunjung ke Indonesia
Pada acara Silatnas, Prof. Nahla menyampaikan salam dari Grand Syekh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Al-Tayyib kepada keluarga besar PPIC eLKISI dan seluruh jemaah.
Ia mengaku bahagia dapat berkunjung ke Indonesia, negara yang dikenalnya memiliki masyarakat dengan kecintaan kuat terhadap Islam, ilmu pengetahuan, dan para ulama.
“Saya merasa berbahagia berada di tengah-tengah Anda di Indonesia, negeri yang memadukan keindahan alam, keramahan penduduknya, serta kecintaan yang mendalam terhadap Islam, ilmu pengetahuan, dan para ulama,” ujarnya.
Prof. Nahla menjelaskan bahwa silaturahmi bukan sekadar tradisi sosial. Dalam ajaran Islam, silaturahmi menjadi salah satu fondasi untuk memperkuat keluarga, masyarakat, dan peradaban.
Karena itu, hubungan antara Al-Azhar dan Indonesia perlu terus dikembangkan melalui pendidikan, pertukaran keilmuan, serta pembinaan generasi muda Muslim.
Dakwah Dimulai dari Kebutuhan Dasar Umat
Pengalaman berdakwah di tengah masyarakat Muslim minoritas disampaikan Ustaz H. Daeng Muhammad Ramli, M.Sc. Dai yang telah lama mengabdi di Timor Leste tersebut menceritakan berbagai kebutuhan pembinaan keagamaan yang ditemuinya di lapangan.
Menurutnya, dakwah tidak selalu dimulai dari program besar. Sebagian masyarakat justru membutuhkan pendampingan mengenai dasar-dasar agama, seperti tata cara bersuci, berwudu, membaca Al-Qur’an, dan melaksanakan salat sesuai tuntunan Rasulullah saw.
Pembinaan akidah juga diperlukan agar masyarakat Muslim tetap memiliki pegangan yang kuat ketika menghadapi berbagai tantangan sosial dan keagamaan.
Ia menekankan bahwa bekal utama seorang dai bukanlah popularitas, melainkan keikhlasan dan kesediaan melayani kebutuhan umat.
Dalam kesempatan itu, Daeng Muhammad Ramli menyampaikan terima kasih atas pengiriman dai dari PPIC eLKISI ke Timor Leste. Menurutnya, wilayah tersebut masih membutuhkan banyak tenaga dakwah yang mampu mendampingi masyarakat secara langsung dan berkelanjutan.
Ia berharap kerja sama tersebut dapat diperkuat sehingga semakin banyak kader dakwah yang bersedia mengabdi di daerah-daerah yang masih membutuhkan pembinaan keislaman.
Pemerintah Dorong Kemandirian Pangan Pesantren
Dukungan pemerintah terhadap pengembangan pesantren disampaikan Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian RI, Prof. Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si.
Hadir mewakili Menteri Pertanian RI, Fadjry juga menghubungkan para peserta Silatnas dengan Menteri Pertanian melalui sambungan daring.
Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa sektor pertanian tetap menjadi salah satu penyangga pembangunan dan perekonomian nasional.
Kementerian Pertanian, lanjutnya, berkomitmen mendukung pengembangan program eco-pesantren, termasuk program yang dijalankan PPIC eLKISI.
Program tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan lahan produktif, memperkuat ketahanan pangan, serta membangun kemandirian ekonomi pesantren. Pengelolaan lahan pertanian pesantren juga diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
Silatnas ke-13 ditutup setelah rangkaian sambutan, tausiah, dan penyampaian program kolaborasi. PPIC eLKISI akan melanjutkan pengiriman kader dakwah ke Timor Leste serta pengembangan program pertanian melalui skema eco-pesantren bersama Kementerian Pertanian. (tagar,co)


