JAKARTA-kanalsembilan.com (10 JanuariĀ 2026)
Sejalan dengan terjaganya kinerja perekonomian nasional serta sentimen positif di pasar keuangan global, pasar modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan kinerja yang solid. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 8.646,94 pada 31 Desember 2025, menguat 1,62 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan melonjak 22,13 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Sepanjang tahun 2025, IHSG mencatatkan rekor All-Time High (ATH) sebanyak 24 kali. Level tertinggi IHSG tercatat di angka 8.710,70 pada 8 Desember 2025, bertepatan dengan kapitalisasi pasar saham yang juga menyentuh rekor tertinggi sebesar Rp16.005 triliun. Di sisi lain, Indeks LQ45 dan IDX80 masing-masing tumbuh 2,41 persen yoy dan 10,07 persen yoy.
Likuiditas pasar saham juga menunjukkan penguatan signifikan. Rerata Nilai Transaksi Harian (RNTH) saham bulanan pada Desember 2025 mencetak rekor ATH sebesar Rp27,19 triliun. Dengan capaian tersebut, RNTH bulanan konsisten berada di atas Rp20 triliun sejak Agustus 2025. Secara tahunan, RNTH 2025 tercatat sebesar Rp18,07 triliun, meningkat tajam dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp12,85 triliun.
“Peningkatan likuiditas pada semester II-2025 didorong oleh semakin aktifnya investor ritel domestik. Proporsi transaksi investor ritel meningkat dari 38 persen pada 2024 menjadi 50 persen pada 2025,” kataĀ M. Ismail Riyadi Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK.
Sejalan dengan penguatan pasar, investor asing pada Desember 2025 membukukan net buy saham sebesar Rp12,24 triliun secara mtm, melanjutkan tren pembelian pada bulan sebelumnya.
Meningkatnya minat investor asing pada triwulan IV-2025 mencerminkan persepsi positif terhadap perekonomian dan pasar domestik. Meski demikian, secara kumulatif sepanjang 2025, investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp17,34 triliun di pasar saham.
Di pasar obligasi, tren penguatan berlanjut pada Desember 2025. Indeks komposit obligasi Indonesia (ICBI) naik 1,08 persen secara mtm dan terakumulasi terapresiasi 12,27 persen secara yoy. Yield Surat Berharga Negara (SBN) turun 4,84 basis poin (bps) secara bulanan dan 80,91 bps secara tahunan.
Investor nonresiden di pasar SBN mencatatkan net buy sebesar Rp6,49 triliun mtm (yoy: net buy Rp2,01 triliun). Sementara itu, di pasar obligasi korporasi, investor nonresiden membukukan net buy Rp0,21 triliun secara mtm, meskipun secara yoy masih mencatatkan net sell Rp1,39 triliun.
Pada industri pengelolaan investasi, nilai Asset Under Management (AUM) mencapai Rp1.033,81 triliun per akhir Desember 2025, meningkat 3,08 persen mtm dan 23,46 persen yoy.
Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp675,32 triliun, tumbuh 4,80 persen mtm dan melonjak 35,26 persen yoy. Kinerja positif ini didukung oleh net subscription investor reksa dana yang kuat, masing-masing sebesar Rp23,91 triliun mtm dan Rp138,69 triliun yoy.
Dari sisi jumlah investor, pada Desember 2025 tercatat penambahan 694 ribu investor baru. Dengan demikian, secara yoy jumlah investor pasar modal meningkat 5,49 juta menjadi 20,36 juta investor, atau tumbuh 36,95 persen.
Penghimpunan dana oleh korporasi di pasar modal juga menunjukkan capaian menggembirakan. Target penghimpunan dana tahun 2025 sebesar Rp220 triliun berhasil terlampaui. Sepanjang 2025, total nilai Penawaran Umum mencapai Rp274,80 triliun, termasuk kontribusi dari 20 emiten baru dengan nilai fundraising Rp16,21 triliun. Pada pipeline, tercatat 29 rencana Penawaran Umum dengan nilai indikatif Rp22,28 triliun.
Pada sektor Securities Crowdfunding (SCF), selama Desember 2025 terdapat 27 efek baru dengan dana terhimpun sebesar Rp44,18 miliar serta penambahan 12 penerbit baru. Secara kumulatif, hingga akhir Desember 2025 telah tercatat 978 penerbitan efek dari 585 penerbit dengan partisipasi 191.981 pemodal dan total dana terhimpun mencapai Rp1,82 triliun.
Di pasar derivatif keuangan, sejak 10 Januari hingga akhir Desember 2025, sebanyak 113 pihak telah memperoleh persetujuan prinsip dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jumlah tersebut terdiri atas 4 penyelenggara pasar berjangka, 23 pedagang penyelenggara Sistem Perdagangan Alternatif (SPA), 63 pialang berjangka, 15 bank penyimpanan marjin, 6 penasihat berjangka, 1 asosiasi, dan 1 lembaga sertifikasi profesi.
Volume transaksi sepanjang Desember 2025 mencapai 61.613 lot, sehingga secara yoy total volume transaksi tercatat sebanyak 1.013.294 lot dengan frekuensi transaksi mencapai 4.433.781 kali.
Sementara itu, di Bursa Karbon, sejak diluncurkan pada 26 September 2023 hingga 30 Desember 2025, tercatat sebanyak 150 pengguna jasa terdaftar. Pada Desember 2025, volume transaksi bertambah 190.264 tCOāe sehingga total volume transaksi mencapai 1.811.933 tCOāe dengan nilai akumulatif transaksi sebesar Rp87,00 miliar.
Dalam rangka penegakan ketentuan di bidang Pasar Modal, Derivatif Keuangan, dan Bursa Karbon, OJK pada Desember 2025 mengenakan sanksi administratif berupa denda sebesar Rp52,81 miliar kepada 52 pihak serta menjatuhkan 3 sanksi berupa peringatan tertulis.
Sepanjang tahun 2025, OJK juga menjatuhkan sanksi administratif atas pemeriksaan kasus di pasar modal berupa denda sebesar Rp80,75 miliar kepada 121 pihak, pencabutan izin perseorangan kepada 6 pihak, peringatan tertulis kepada 42 pihak, serta 5 perintah tertulis.
Selain itu, OJK mengenakan denda keterlambatan sebesar Rp50,38 miliar kepada 638 pelaku usaha jasa keuangan di pasar modal, 219 peringatan tertulis atas keterlambatan penyampaian laporan, serta denda Rp300 juta dan 62 peringatan tertulis atas pelanggaran selain keterlambatan.(za).


