TANPA DISADARI, INI PENYEBAB RUMAH TANGGA TAK TENANG
Banyak rumah tangga sebenarnya tidak hancur karena kekurangan harta, tapi karena tidak siap hidup sesuai kemampuan. Sedikit-sedikit membandingkan kehidupan dengan orang lain. Melihat media sosial, melihat tetangga, lalu merasa semua harus dimiliki juga. Akhirnya memaksa keadaan, memaksakan gengsi, sampai rela berutang demi terlihat cukup.
Padahal ketenangan rumah tangga bukan diukur dari mewahnya makanan, besarnya rumah, atau seringnya membeli sesuatu. Tapi dari rasa syukur, saling memahami, dan menerima keadaan sambil terus berusaha.
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ ۗوَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى
“Janganlah sekali-kali engkau tujukan pandangan matamu pada kenikmatan yang telah Kami anugerahkan kepada beberapa golongan dari mereka (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS Ṭāhā [20]: 131).
Kadang masalah terbesar bukan kurangnya rezeki, tapi sulitnya mengendalikan keinginan mata dan hati. Semua ingin dibeli, semua ingin dimiliki, padahal kemampuan belum sampai.
Belajarlah hidup sesuai kemampuan. Jika sedang sempit, hadapi bersama. Saling menguatkan, bukan saling menuntut. Perbanyak doa, introspeksi diri, dan jangan malu hidup sederhana.
Karena rumah tangga yang tenang bukan tentang punya segalanya, tapi tentang hati yang ridha dengan apa yang Allah berikan.
Allāhu Ta‘ālā a‘lam bishawāb.
(gwa-swhs-ayat).


