📚 HADITS NO. 16
📖 Bab 2: Taubat dan Muhāsabatun Nafsi (Introspeksi Diri Sepanjang Siang dan Malam)
(Syarah Riyadhus Shalihin & Syarh Shahih Muslim, Imam an-Nawawi)
Pengantar
Imam an-Nawawi ketika mensyarahi hadits-hadits dalam Kitab at-Taubah menekankan keluasan rahmat Allah dan betapa pintu taubat selalu terbuka hingga saat yang ditentukan. Hadits Abu Musa al-Asy’ari ini adalah salah satu landasan utama optimisme seorang mukmin untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah, sekaligus dorongan untuk selalu bermuhasabah.
Hadits (Arab)
عَنْ أَبِي مُوسَى عَبْدِ اللهِ بْنِ قَيْسٍ الأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا».
Terjemahan
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat pelaku dosa pada siang hari. Dan Dia membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat pelaku dosa pada malam hari, hingga matahari terbit dari arah terbenamnya.” (HR. Muslim, no. 2759).
PENJELASAN HADITS (Syarah Imam Nawawi)
a. Luasnya Rahmat Allah
Imam an-Nawawi menjelaskan:
• Hadits ini menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Allah tidak hanya menunggu taubat, tetapi bahkan “membentangkan tangan-Nya” sebagai isyarat kesiapan untuk menerima siapa pun yang kembali, baik siang maupun malam.
• Ini menjadi dalil bahwa pintu taubat tidak pernah tertutup selama hidup masih berlangsung dan tanda besar Kiamat belum muncul.
b. Makna “Membentangkan Tangan”
• Imam Nawawi menegaskan bahwa “membentangkan tangan” adalah ungkapan tentang keluasan pemberian, rahmat, dan penerimaan taubat Allah.
• Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama‘ah adalah _itsbāt bi lā kayf _— mengimani sifat yang disebutkan dalam nash tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menolak makna secara mutlak.
c. Waktu Diterimanya Taubat
• Menurut Imam Nawawi, hadits ini selaras dengan firman Allah:
“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai di kerongkongannya.” (HR. Tirmidzi).
Batas akhir diterimanya taubat ada dua:
1. Ajal pribadi: ketika nyawa sudah diambang sakaratul maut.
2. Tanda besar Kiamat: terbitnya matahari dari barat.
d. Dorongan untuk Muhasabah
• Imam Nawawi menekankan bahwa hadits ini adalah dalil terbesar agar seorang mukmin tidak menunda taubat. Karena Allah memberi kesempatan sepanjang waktu, maka manusia tidak punya alasan untuk menunda memperbaiki diri.
AYAT TERKAIT (dengan Tafsir Ibnu Katsir)
QS. Az-Zumar: 53:
“Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
Ibnu Katsir: Ayat ini adalah seruan yang penuh kasih, mencakup semua pelaku dosa tanpa kecuali, selama mereka mau bertaubat.
HIKMAH HADITS (Menurut Imam Nawawi)
1. Optimisme spiritual: tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni.
2. Urgensi muhasabah: menunda taubat adalah kelalaian besar.
3. Allah senantiasa dekat: baik malam maupun siang, Allah membuka jalan kembali.
4. Batas waktu taubat jelas: sebelum kematian atau tanda Kiamat besar.
RELEVANSI DALAM KEHIDUPAN MODERN
• Di tengah kesibukan dunia modern, hadits ini menjadi pengingat bahwa setiap waktu adalah peluang muhasabah.
• Ketika manusia terjebak pada rutinitas dan dosa digital (gibah online, pornografi, penipuan, dll.), hadits ini hadir sebagai motivasi bahwa Allah siap menerima taubat kita kapan saja.
• Spirit continuous improvement dalam dunia modern bisa disejajarkan dengan muḥāsabatun nafsi — mengevaluasi diri setiap hari untuk menjadi lebih baik.
PENUTUP
Syarah Imam Nawawi atas hadits ini menegaskan bahwa Allah Maha Pengampun dan selalu membuka tangan-Nya bagi hamba-Nya yang ingin kembali, baik malam maupun siang, hingga batas waktu tertentu. Oleh karena itu, seorang mukmin harus selalu berintrospeksi (muḥāsabatun nafsi), segera bertaubat, dan tidak menunda-nunda.
🌿 Maka siapa yang hari ini merasa berat oleh dosa, jangan tunda taubat. Karena malam dan siang adalah ladang kesempatan yang dibentangkan Allah untuk kita.
⸻
📝✍ Dinukil oleh:
Alfaqir ilallah Mangesti Waluyo Sedjati
(Ketua KBIHU Baitul Izzah, Sidoarjo)
Referensi
1. Riyadhus Shalihin, Imam An-Nawawi (Syarah: Salim bin Ied Al-Hilali).
2. Al-Qur’an dan Tafsirnya.
3. Aplikasi Quran Word by Word.


