SURABAYA-kanalsembilan.com (26 Mei 2026)
Kinerja pasar modal di Jawa Timur hingga awal 2026 menunjukkan tren positif. Kepercayaan masyarakat terhadap investasi di pasar modal tetap terjaga, tercermin dari lonjakan jumlah investor, peningkatan nilai transaksi saham, pertumbuhan kepemilikan saham, hingga menguatnya industri securities crowdfunding (SCF).
Peningkatan tersebut menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat Jawa Timur terhadap investasi, seiring berkembangnya layanan keuangan digital dan meningkatnya literasi keuangan.
Dari sisi basis investor, jumlah Single Investor Identification (SID) terus mengalami pertumbuhan signifikan. Pada Januari 2026, jumlah SID saham tercatat sebanyak 1.205.606 SID atau tumbuh 39,48 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Sementara itu, SID Surat Berharga Negara (SBN) mencapai 193.665 SID atau meningkat 18,09 persen yoy. Adapun SID reksa dana tercatat sebanyak 2.252.901 SID, tumbuh 32,64 persen yoy.
“Pertumbuhan tersebut mencerminkan perubahan perilaku masyarakat yang semakin sadar pentingnya investasi dan semakin matang dalam menentukan instrumen investasi yang dipilih,” kata Yunita Lindasari Kepala OJK Provinsi Jatim.
Aktivitas perdagangan saham juga menunjukkan lonjakan signifikan. Nilai transaksi beli saham pada Januari 2026 tercatat sebesar Rp37,2 triliun atau meningkat 225,91 persen yoy. Kenaikan ini didorong oleh membaiknya sentimen pasar, potensi imbal hasil yang menarik, serta meningkatnya partisipasi investor ritel.
Sejalan dengan itu, nilai transaksi jual saham mencapai Rp35,549 triliun atau tumbuh 224,35 persen yoy. Tingginya aktivitas jual beli mencerminkan pasar yang semakin aktif dan kondusif bagi investor.
Menurut Yunita Lindasari secara keseluruhan, total transaksi saham di Jawa Timur pada Januari 2026 mencapai Rp72,749 triliun, melonjak 225,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp22,374 triliun.
Kemudahan akses melalui platform digital turut menjadi faktor pendorong meningkatnya aktivitas investasi. Investor kini semakin mudah melakukan transaksi secara cepat dan efisien, sekaligus lebih aktif menerapkan strategi investasi maupun trading.
Dari sisi kepemilikan saham, nilainya pada Februari 2026 tercatat sebesar Rp159,283 triliun atau meningkat 73,82 persen yoy. Penguatan ini didukung kondisi ekonomi yang relatif stabil, membaiknya sentimen pasar, serta meningkatnya kepercayaan investor terhadap saham sebagai instrumen investasi dengan potensi imbal hasil lebih tinggi.
Selain saham, kinerja reksa dana juga menunjukkan pemulihan yang kuat. Nilai penjualan reksa dana pada Desember 2025 tercatat sebesar Rp4,942 triliun atau tumbuh 154,60 persen yoy. Reksa dana berbasis dolar AS juga mencatat pertumbuhan positif.
Pemulihan tersebut didorong membaiknya kondisi pasar, meredanya tekanan suku bunga, serta meningkatnya minat masyarakat terhadap instrumen investasi yang dikelola secara profesional.
Dari sisi jumlah nasabah, pertumbuhan paling tinggi terjadi pada segmen institusi yang meningkat 73,26 persen sepanjang 2025. Hal ini menunjukkan semakin besarnya kepercayaan investor institusional terhadap reksa dana sebagai instrumen pengelolaan dana.
Sementara itu, jumlah nasabah perorangan tetap tumbuh konsisten meski lajunya mulai melambat. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa penetrasi investor ritel di Jawa Timur sudah cukup luas dan mulai memasuki fase yang lebih matang.
Pada sektor Securities Crowdfunding (SCF), hingga Februari 2026 tercatat terdapat 34 penerbit dengan jumlah 7.938 pemodal. Total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp61,7 miliar, dengan sektor primary consumer goods menjadi penyumbang penghimpunan dana terbesar.
Secara keseluruhan, perkembangan pasar modal di Jawa Timur menunjukkan fondasi yang semakin kuat. Meningkatnya partisipasi investor, pemulihan transaksi reksa dana, serta pertumbuhan SCF menjadi indikator positif berkembangnya ekosistem investasi daerah di tengah transformasi digital sektor keuangan. (za).


