Google search engine
HomeAgamaUmar dan Ibu Memasak Batu

Umar dan Ibu Memasak Batu

Dikisahkan pada suatu malam, menjelang dini hari, Khalifah Umar melakukan kebiasaan rutinnya, berjalan bersama pengawalnya untuk melihat kondisi rakyatnya.

Sampailah Umar di sebuah dusun kecil terpencil, sayup-sayup telinga Umar menangkap suara tangis anak kecil. Tak lama kemudian, tangisan berhenti, namun sebentar terdengar lagi. Tangis anak kecil ini terdengar memilukan hati.

Umar kemudian mencari sumber suara tangis yang mengarah pada sebuah rumah gubuk sederhana yang terbuat dari kulit kayu. Di dalamnya tampak seorang ibu tengah duduk di depan sebuah tungku seolah sedang memasak.

Ibu yang Memasak Batu
Sesekali ibu sibuk mengaduk panci, sesekali pula ia membujuknya untuk tidur.

“Diamlah wahai anakku. Tidurlah kamu sebentar, sambil menunggu bubur segera masak,” ujar sang ibu.

Anak ini dapat tertidur seketika mendengar perkataan ibunya, namun tak lama ia terbangun dan kembali menangis. Kejadian ini berulang kali sampai akhirnya membuat Umar penasaran dengan apa yang dikerjakan sang ibu.

Perlahan Umar mendekat, lalu mengetuknya pelan di daun pintu sambil mengucapkan salam. Umar tak ingin identitasnya diketahui, ia bertamu dalam keadaan menyamar.

Umar juga melontarkan pertanyaan tentang apa yang sedang dimasak si ibu, dan apa yang menyebabkan si putra tak henti-hentinya menangis pula.

Dengan sedih, si ibu menceritakan keadaannya. Ia mengatakan bahwa dia menangis karena kelaparan sementara ia tidak punya makanan apapun di rumahnya. Ibu ini juga mengatakan bahwa yang sedang dimasak adalah sebongkah batu untuk menghibur anak-anak seolah-olah ibu sedang membuat makanan.

Ibu ini juga sempat mengumpat kekesalannya pada sang pemimpin masa itu. “Celakalah Amirul Mu’minin Umar bin Khattab yang membiarkan rakyatnya kelaparan.”

Mendengar kekesalan dari ibu ini, Umar pun pergi dan menangis memohon ampun pada Allah SWT. Ia merasa menjadi pemimpin yang teledor hingga tak tahu ada rakyatnya yang kesusahan.

Umar Membawa Karung Berisi Gandum
Tanpa pikir panjang, Umar segera pulang dan mengambil sekarung gandum. Ia membawa sendiri karung gandum di punggung dan menuju ke rumah ibu yang memasak batu.

Pengawal Umar yang melihat pemimpinnya tergopoh-gopoh membawa karung gandum menawarkan diri untuk membantu. Namun Umar menolaknya.

“Wahai Amirul Mu’minin, biar aku sajalah yang mengangkut karung ini,” ujar pengawal.

“Apakah kalian mau menggantikanku menerima murka Allah akibat membiarkan rakyatku kelaparan? Biar aku sendiri yang memikulnya, karena ini lebih ringan daripada memberi Allah di akhirat nanti,” jawab Umar yang terus membawa karung gandum.

Setelah sampai di rumah ibu ini, Umar langsung memasakkan sebagian gandum ini untuk dijadikan makanan. Setelah matang, ibu dan anak ini dipersilahkan makan sampai kenyang.

Ucapan Terima Kasih dari Ibu Pemasak Batu
Umar juga pamit setelah ibu dan anak ini makan dengan cukup. Ia kemudian berpesan agar esok harinya anak dan ibu datang ke Baitul Mal menemui Umar untuk mendapatkan jatah makan dari negara.

Ibu ini juga mengucapkan terima kasih, “Engkau lebih baik dibandingkan Khalifah Umar,” demikian ucapnya.

Perasaan bahagia sekaligus duka gagal dada Umar.

Keesokan harinya, datanglah ibu itu ke Baitul Mal, untuk meminta jatah izin pangan bagi diri dan anaknya. Umar menyambut dengan senyum bahagia. Ketika ibu itu menyadari bahwa orang yang membantu di malam buta itu adalah Umar sang Amirul Mu’minin, si ibu langsung kaget.

Umar justru menyambut ibu ini sambil mendekat dan menyampaikan permohonan maaf. Sebagai pemimpin, Umar tidak sungkan meminta maaf pada rakyatnya yang luput dari perhatiannya.

 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments