MOJOKERTO-kanalsembilan.com (17 Agustus 2026)
Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur menggelar Wisuda ke-5 di Aula Edupark eLKISI, Sabtu (15/8/2026). Mengusung tema “Meneguhkan Amanah Dakwah: Dari Pembinaan Menuju Pengabdian”, kegiatan tersebut menjadi momentum pelepasan 25 wisudawan dan wisudawati untuk memasuki tahap pengabdian di tengah masyarakat.
Wisuda tidak menjadi akhir dari proses pendidikan. Setelah menyelesaikan masa pembinaan, para lulusan akan menjalani pengabdian atau praktik dakwah selama satu tahun di sejumlah daerah yang telah ditentukan.
Direktur ADI DDII, Ustaz Dr. Hairul Warizin, S.E., M.M., mengatakan para lulusan akan ditugaskan di sejumlah wilayah di Jawa Timur. Sebagian lainnya akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, termasuk ke Al-Azhar, Mesir, dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir.
Ketua DDII Jawa Timur, Dr. KH. Fathur Rohman, M.Pd.I., menegaskan bahwa tugas utama para kader adalah melaksanakan dakwah sekaligus terus belajar setelah terjun ke masyarakat.
“Kalian dididik selama setahun, dipersiapkan menjadi dai. Setelah itu pengabdian, plus belajar terus-menerus,” tuturnya.
Menurut dia, menjadi lulusan ADI bukan berarti proses pendidikan telah selesai. Justru ketika menjadi dai, proses belajar harus terus dilakukan karena persoalan dan tantangan di tengah masyarakat terus berkembang.
“Jadi ada tugas baru, yaitu sebagai dai di mana pun dan kapan pun. Ini kewajiban yang harus selalu ditunaikan,” tegasnya.
KH. Fathur juga mengingatkan para kader agar memiliki kesiapan untuk ditempatkan di berbagai wilayah. Menurutnya, cakupan dakwah di Indonesia sangat luas sehingga seorang dai harus siap mengabdi di mana pun dibutuhkan.
“Cakupan dakwah di negeri ini sangat luas. Negeri ini harus diselamatkan dengan dakwah. Kita jaga NKRI ini dengan dakwah. Oleh karena itu, ditugaskan di mana dan ke mana saja harus selalu siap,” ujarnya.
Perkuat Dakwah melalui Literasi
Wisuda ke-5 ADI Jatim juga diwarnai dengan peluncuran dan pembagian buku karya bersama para mahasantri berjudul Jejak Pemikiran Islam.
Buku tersebut merupakan bagian dari tugas literasi mahasiswa sekaligus upaya membangun kebiasaan calon dai untuk tidak hanya mampu menyampaikan gagasan secara lisan, tetapi juga membaca, menelaah, menulis, dan mendokumentasikan pemikiran dalam bentuk karya.
Tradisi literasi dinilai penting dalam kaderisasi dai. Tantangan dakwah saat ini tidak cukup dihadapi dengan kemampuan berbicara di mimbar. Dai juga dituntut mampu memahami perubahan zaman, perkembangan pemikiran, mengolah informasi, serta menyampaikan gagasan Islam secara argumentatif dan mencerahkan.
Kehadiran buku Jejak Pemikiran Islam dalam momentum wisuda menjadi penanda bahwa ilmu yang diperoleh selama pendidikan mulai ditransformasikan menjadi karya yang dapat dibaca dan diwariskan.
Dengan demikian, kaderisasi ADI tidak hanya menekankan pengabdian di tengah masyarakat, tetapi juga mendorong pengembangan tradisi intelektual di kalangan calon dai.
Lulusan Berasal dari Berbagai Daerah
Sebanyak 25 wisudawan dan wisudawati resmi menyelesaikan pendidikan pada Wisuda ke-5 ADI Jawa Timur. Sementara itu, saat ini terdapat 17 mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), Mentawai, Jawa Timur, dan sejumlah daerah lainnya.
Keragaman asal daerah tersebut menjadi bagian dari proses kaderisasi DDII untuk menyiapkan dai yang memiliki pengalaman sosial dan budaya yang beragam.
Para lulusan selanjutnya akan menjalani masa pengabdian selama satu tahun di daerah penempatan. Mereka akan melaksanakan praktik dakwah secara langsung bersama masyarakat sekaligus belajar memahami kondisi sosial di lapangan.
Bagi DDII, tahapan tersebut merupakan bagian penting dalam perjalanan seorang dai, yakni dibina, belajar, mengabdi, dan terus belajar.
KH. Fathur juga mengutip pesan Ketua DDII Jawa Timur terdahulu, Kiai Misbach (Allahuyarham), mengenai ukuran keberhasilan seorang dai. Dengan nada berseloroh, ia menyampaikan bahwa seorang dai dapat disebut sukses ketika mampu membangun kedekatan dengan masyarakat hingga dipercaya menjadi bagian dari keluarga, bahkan dijadikan menantu oleh kepala suku atau tokoh setempat.
Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan dakwah tidak semata-mata diukur dari kemampuan berbicara di hadapan jamaah. Lebih dari itu, seorang dai harus mampu membangun kepercayaan, memberikan keteladanan, dan menjalin hubungan sosial yang baik dengan masyarakat.
Seorang dai dituntut hadir sebagai bagian dari masyarakat, memahami kehidupan mereka, serta menjadi teladan sebelum menjadi pengajar.
Wisuda ke-5 ADI Jawa Timur pun menjadi momentum peneguhan tiga amanah sekaligus, yakni amanah ilmu, literasi, dan dakwah. Para lulusan tidak hanya membawa ilmu dari ruang pendidikan, tetapi juga karya dan tanggung jawab untuk mengabdi kepada masyarakat.
Dari pembinaan menuju pengabdian, dari literasi menuju kontribusi, dan dari mahasiswa menuju dai yang siap mengabdi di mana pun dan kapan pun.(za).


