ROIS AAM PBNU DULU & SEKARANG.
Siapa Rois Aam PBNU Yang pertama?
Kalimat di atas jika muncul di soal ujian mata pelajaran Aswaja belum tentu semua siswa SLTA di Sekolah milik LP Ma’arif bisa dengan mudah menjawabnya, karena kadang-kadang kita yang sudah berkecimpung di kepe ngurusan NU lebih setengah saja belum tentu dapat menjawab dengan benar.
Mengapa demikian? Karena selama memori kita tentang itu dikacaukan antara Rois Aam dengan Rois Akbar.
Semula pada awalnya gelar Rois tertinggi itu saat masih dijabat Hadratus Syekh KH M. Hasyim Asy’ari adalah Rois Akbar.
Tidak Kuat menyandang Gelar Rois Akbar.
Setelah Hadlrotus Syekh KH M. Hasyim Asy’ari dipanggil ke haribaan Alloh jabatan Rois Akbar mejadi rebutan, tidak rebutan menduduki tetapi rebutan menolak. Semula para Kyai sepuh menunjuk KH Abdulloh Faqih Maskumambang Dukun Gresik, namun beliau menolak , tidak pantas menduduki jabatan itu dan dipaksa Kyai banyakpun tetap beliau tidak kerso, karena beliau betul-betul tidak kerso, maka perhatian para Kyai berikutnya kepada Mbah Kyai Abdul Wahab Hasbullah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, begitu ditunjuk sepontan beliau menjawab tidak bersedia merasa tidak pantas menduduki jabatan itu, namun karena desakkan dan dorongan para Kyai yang sungguh-sungguh sampai beliau tidak bisa mengelak baru akhinya beliau menyerah menerima dengan syarat gelarnya tidak Rois Akbar tetapi diganti dengan Rois Aam.
Begitulah gelar itu sampai sekarang tetap Rois Aam.
Jadi Rois Aam pertama adalah beliau KH Abdul Wahab Hasbullah Pimpinan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang Jawa Timur.
Sosok KH Abdul Wahab Hasbullah.
KH Abdul Wahab Hasbullah Kyai Aalim Alamah, Hafal Alquran dan banyak Hadits dan banyak Kitab-kitab Salaf ,Politikus ulung.
Kyai sepuh berwawasan moderat bersifat eklektik dalam memahami dan menerapkan hukum Fiqih.
Salah satu contoh yang legendaris selalu dibuat bahan pedoman dan juga bisa dibuat lelucon adalah di Jombang pinggiran hidup seorang pelajar petani Kaya raya berniat menyembelih Hewan Qurban, dia menyiapkan sapi yang besar kalau sekarang perbandingannya mungkin ya setara dengan Sapi yang dijadikan Qurban oleh Presiden dengan bobot mati kisaran 1.000 kg. Maunya sapi itu untuk Qurban untuk dia suami istri anaknya dia, menantunya,dan satu cucu anak kecil yang Kira-kira usia masuk SD yang sangat disayang semua orang seisi rumah. Bapak ini maunya Qurban seekor sapi ini untuk orang 7 plus anak keci,karena di benaknya kalau Sapi Qurban itu nantinya akan dinaiki ketika menuju surga, dia datang ke Kyai kampung di kampungnya dengan maksud menanyakan gimana apa boleh Qurban seekor sapi untuk 7 plus satu anak kecil. Sebagai lazimnya Kyai kampung tingkat ranting ini menjawab tidak bisa karena seekor sapi itu ya untuk 7 orang saja.
Bapak ini kurang puas tidak terima pokoknya mengharap jawaban cucunya yang dicintai ini bisa ikut bersama sekeluarga bersama naik seekor sapi.
Besoknya dia pergi ke Kyai tingkat MWCNU dengan maksud yang sama, namun Kyai tingkat MWCNU ini pun menjawab yang sama seekor sapi ya untuk 7 orang saja.
Akhirnya dia mendengar di Tambakberas ada Kyai besar tingkat PBNU yang namanya KH Abdul Wahab Hasbullah.
Pergilah orang itu sowan ke daleme Kyai beserta kedua anaknya, namun yang masuk daleme Yai cuma dia dan satu anaknya, sedang anaknya yang satu dari cucunya di luar setelah dipersilahkan masuk dengan khusuk menghadap KH Abdul Wahab Hasbullah lalu matur menyampaikan niatnya bahkan menceritakan kalau cucunya itu tidak bisa pisah dengan dia, dia bercerita dengan penuh kesungguhan kalau sebelum sowan ke sini sudah sowan ke beberapa Kyai tingkat Ranting dan MWC namun jawabannya semuanya tidak memuaskan.
KH Abdul Wahab Hasbullah mendengar cerita itu manthuk-mantuk sambil meletakkan rokok klobotnya ke bibir asbak yang terdiri dari kayu yang ditatah sambil mematikan apinya.
Tidak lama kemudian santri Abdi dalem menyuguhkan kopi di dampingi makanan kecil yang terdiri dari menyok godog/sinkong rebus dan pisang goreng lalu Mbah Wahab manggakno/ mempersilahkan.
Setelah apinya rokok mati beliau bertanya kepada tamunya tadi : ” Menopo larene sak mangke nderek? (Apa anaknya sekarang diajak? ) Dijawab oleh orang tadi : ” Nggih nderek teng njawi” Jawab orang tadi. ”
Coba suruh masuk! Dawuh Mbah Wahab.
Setelah cucunya masuk dan didekatkan untuk salim dengan Yai terus kepala anak itu dielus-elus oleh KH Abdul Wahab Hasbullah sambil memuji anak itu : ” Wah bocah nggantenge ngene mosok ape ditinggal Mbah Kunge ya Le wis iso bareng wong 7 karo putune pisan.
Sambil menyodorkan piring isi pisang goreng.”Lalu melanjutkan keterangan :” Tapi yo ngono iki bocahe isih cilik ngene ya ngesakno mengko kangelan munggahe sapi, lha cik gak kangelan munggahe gawekno ancik-ancik wedus siji nggih ”
Orang tadi mendapat jawaban begitu wajahnya nampak sumringah sambil matur : ” Dados saget sareng putu kulo Kyai nggih ? ”
Dijawab Mbah Wahab :” Saget!
Dengan hati yang lega orang tadi terus pamit sambil salam tempel sebagaimana kebiasaannya orang kampung kalau sowan Kyai.
Demikialah contoh kebijaksanaan Mbah Wahab kalau memberi jawaban pemecahan masalah pada umatNya. Tidak menyalahi hukum fiqih tapi bisa melegakan hati umat.
Adapun para Rois Aam dari KH Abdul Wahab Hasbullah sampai sekarang KH Miftahul Ahyar adalah :
. .Rois Akbar hanya dijabat oleh Hadlrotus Syekh KH M. Hasyim Asy’ari.
1926- 1947.
Rois Aam.
. KH ABDUL WAHAB HASBULLAH.
1947- 1971
. KH Bisri Sansuri.
1971 – 1980.
KH. Ali Maksum.
1980 – 1984.
KH Ahmad Shodiq.
1984 – 1991.
KH. Ali Yafi.
1991 – 1992.
KH ilyas Rukiyat.
1992 – 1999.
KH Sahal Mahfud.
1999 – 2014.
KH Musthofa Bisri.
2014 – 2015.
KH Ma’ruf Amin
2015 – 2018.
KH Miftahul Ahyar.
2018 – sekarang.
Demikian sepintas tentang Rois Akbar dan Rois Aam PBNU untuk tambahan pengetahuan
Semoga bermanfaat.
Aamiin.
Tuban, 12 Juli 2026
H. Kasduri Al Anshori.
– KH Bisri Sansuri


