Nasionalisme, Amanah Kebangsaan, dan Keberanian Berlaku Adil kepada Siapa Pun
✍️ Mangesti Waluyo Sedjati
Perspektif The Mangesti FEED+ The Nation Framework
📍 Sidoarjo, 29 Oktober 2026
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Bapak, Ibu, dan Sahabat yang saya hormati,
Ada pertanyaan yang layak kita ajukan ketika berbicara tentang cinta tanah air: apabila suatu kebijakan menguntungkan negeri sendiri, tetapi keuntungan itu diperoleh dengan menzalimi manusia lain, apakah kita tetap wajib membelanya?
Pertanyaan tersebut menjadi lebih sulit ketika keuntungannya kita nikmati sendiri. Lapangan kerja bertambah. Harga barang menjadi murah. Perusahaan nasional memperoleh pasar. Namun, di suatu tempat, ada masyarakat yang kehilangan hak, pekerja yang diperlakukan sewenang-wenang, atau lingkungan yang menanggung kerusakan.
Pada keadaan seperti itulah cinta tanah air menghadapi ujian moralnya.
Kita tentu ingin Indonesia kuat, makmur, dan dihormati. Persoalannya, dengan cara apa kekuatan itu dibangun, siapa yang menikmati kemakmurannya, dan apa yang membuat penghormatan terhadapnya layak diberikan?
Nasionalisme membutuhkan arah moral agar kekuatan yang dihimpunnya benar-benar menjadi kebaikan.
Tanpa arah tersebut, hampir setiap kepentingan dapat mengenakan pakaian kebangsaan. Keuntungan segelintir orang disebut kepentingan nasional. Ketertutupan dibenarkan demi nama baik negara. Kritik terhadap kebijakan diperlakukan sebagai ancaman terhadap persatuan.
Pada akhirnya, warga diminta setia tanpa diberi ruang untuk bertanya: setia kepada siapa, kepada tujuan apa, dan sampai batas mana?
Kita perlu memulai dari pengakuan yang adil: manusia membutuhkan ikatan kebangsaan.
Solidaritas tidak selalu tumbuh hanya karena kita mengetahui bahwa semua manusia memiliki martabat yang sama. Orang juga membutuhkan pengalaman bersama, bahasa yang mempertemukan, ingatan tentang pengorbanan, dan keyakinan bahwa masa depan dapat dikerjakan bersama.
Dalam kehidupan sehari-hari, ikatan itulah yang membantu orang menerima kewajiban membiayai sekolah bagi anak yang tidak dikenalnya, membangun jalan di daerah yang belum pernah dikunjunginya, serta menolong masyarakat yang jauh dari tempat tinggalnya.
Kebangsaan memperluas lingkaran tanggung jawab melampaui keluarga dan pergaulan terdekat.
Karena itu, kenyataan bahwa bangsa terbentuk melalui proses sejarah tidak membuatnya kehilangan nilai. Bahasa, universitas, hukum, dan berbagai lembaga kehidupan juga dibangun manusia. Kita menilainya melalui fungsi, cara kerja, serta akibatnya bagi kehidupan.
Asal-usul historis suatu ikatan tidak dengan sendirinya membatalkan kewajiban yang tumbuh di dalamnya. Namun, ikatan tersebut tetap perlu diperiksa secara moral.
Di sinilah kita harus berhati-hati. Kritik terhadap nasionalisme menjadi lemah apabila hanya mengatakan bahwa tempat kelahiran tidak kita pilih, lalu menyimpulkan bahwa kewajiban kebangsaan tidak memiliki dasar.
Kita juga tidak memilih dilahirkan sebagai anak dari orang tua tertentu. Meski demikian, hubungan itu melahirkan tanggung jawab. Yang menentukan ialah hubungan nyata, ketergantungan, pengorbanan, dan amanah yang menyertainya.
Dalam kehidupan bernegara, kita menggunakan fasilitas bersama, hidup di bawah institusi yang sama, serta saling memengaruhi melalui keputusan ekonomi dan politik. Ada alasan yang masuk akal untuk memiliki kewajiban khusus kepada sesama warga.
Tetapi kewajiban khusus tidak memberikan izin moral tanpa batas.
Seorang ayah berkewajiban mendahulukan nafkah anaknya. Kewajiban tersebut tidak membenarkannya merampas makanan anak tetangga. Demikian pula, pemerintah wajib mengutamakan perlindungan rakyatnya tanpa memperoleh hak untuk menghapus martabat masyarakat di luar perbatasannya.
Kedekatan menentukan tanggung jawab tertentu; kedekatan tidak menentukan tinggi-rendahnya nilai manusia.
Dari sini, nasionalisme dapat dipahami sebagai amanah untuk merawat kehidupan bersama dalam suatu negeri, dengan tetap menghormati kewajiban kemanusiaan yang lebih luas.
Pengertian ini memberi kita pijakan yang lebih kukuh daripada sekadar rasa bangga.
Kebanggaan dapat naik turun mengikuti kemenangan olahraga, pencapaian ekonomi, atau pengakuan dunia. Amanah tetap menuntut pekerjaan ketika negeri sedang mengalami kegagalan, ketika institusinya mengecewakan, bahkan ketika mencintainya terasa melelahkan.
Amanah juga mengandung pertanggungjawaban. Pemegangnya tidak berhak memperlakukan sesuatu yang dipercayakan kepadanya sebagai milik pribadi.
Dengan demikian, pemimpin memegang kewenangan untuk melayani. Pengusaha mengelola sumber daya dengan kewajiban terhadap pihak-pihak yang terlibat. Warga menggunakan kebebasannya sambil menghormati hak warga lain.
Mencintai Indonesia berarti menerima bagian pekerjaan kita dalam menjaga rumah bersama itu tetap layak dihuni.
Pandangan ini sekaligus menjelaskan mengapa kritik dapat menjadi tindakan patriotik. Orang yang menunjukkan penyalahgunaan anggaran, misalnya, sedang berusaha memulihkan amanah yang diselewengkan.
Namun, kritik tidak otomatis benar hanya karena mengatasnamakan rakyat. Ia tetap harus menunjukkan bukti, bersedia dikoreksi, dan mempertimbangkan akibat dari usulan yang diajukannya.
Kita membutuhkan keberanian untuk memeriksa kekuasaan sekaligus kedisiplinan untuk memeriksa tuduhan terhadapnya.
Tanpa keduanya, kehidupan publik mudah terperangkap antara pembelaan membabi buta dan kecurigaan tanpa akhir.
Indonesia sesungguhnya memiliki dasar yang kuat untuk menempatkan kebangsaan dalam tanggung jawab moral.
Pembukaan UUD 1945 menolak penjajahan dengan alasan kemanusiaan dan keadilan. Tujuan bernegara mencakup perlindungan bangsa, kesejahteraan umum, pendidikan, serta keterlibatan dalam perdamaian dan keadilan dunia. (dpr.go.id)
Artinya, dalam pembacaan saya, kemerdekaan Indonesia mengandung janji yang harus ditunaikan. Kedaulatan menyediakan kemampuan untuk mengurus kehidupan sendiri; tujuan penggunaannya telah diberi arah.
Karena itu, keberhasilan kebangsaan perlu dinilai sampai ke pengalaman warga.
Apa arti perlindungan bagi nelayan yang menghadapi pencurian hasil laut? Apa arti pendidikan bagi anak yang sekolahnya kekurangan guru? Apa arti persamaan bagi warga yang akses pelayanannya bergantung pada kedekatan dengan pejabat?
Pertanyaan semacam ini membawa nasionalisme turun dari panggung menuju kehidupan.
Warga tidak merasakan negara hanya melalui lambang dan pidato. Mereka merasakannya ketika mengurus dokumen, mencari pertolongan, menjalankan usaha, memperoleh pengobatan, atau menuntut hak.
Rasa memiliki terhadap Indonesia dipelihara oleh pengalaman diperlakukan secara bermartabat di dalamnya.
Persatuan akan lebih kukuh ketika warga mempunyai alasan untuk percaya bahwa rumah bersama ini juga menjaga mereka.
Dalam perspektif Islam, cinta dan kebencian sama-sama perlu didisiplinkan oleh keadilan.
Surah An-Nisa ayat 135 memerintahkan keteguhan menegakkan keadilan meskipun kesaksian itu memberatkan diri sendiri, orang tua, atau kerabat. Surah Al-Ma’idah ayat 8 mengingatkan agar kebencian terhadap suatu kaum tidak mendorong ketidakadilan. (legacy.quran.com, legacy.quran.com)
Dua arahan tersebut menyentuh sumber keberpihakan manusia yang paling kuat: kedekatan kepada yang kita cintai dan penolakan terhadap yang kita benci.
Implikasinya jelas. Kita tidak boleh mengganti ukuran keadilan hanya karena pelakunya berasal dari kelompok sendiri. Hak seseorang juga tidak gugur karena ia berbeda keyakinan, pilihan politik, atau kewarganegaraan.
Dalam perspektif tauhid, seluruh kewenangan manusia memiliki batas. Tidak ada jabatan, mayoritas, maupun identitas kolektif yang membuat pemegangnya bebas dari pertanggungjawaban moral.
Kesetiaan kepada negeri memperoleh kemuliaan ketika dijalankan sebagai amanah di hadapan Allah dan tanggung jawab terhadap sesama.
Di sini, kehidupan beragama dapat memperdalam pengabdian kebangsaan: memperkuat kejujuran ketika tidak diawasi, menahan keserakahan ketika memiliki kesempatan, dan mendorong keberanian bersaksi ketika kelompok sendiri melakukan pelanggaran.
Ujiannya memang berat. Berlaku adil kepada lawan dapat mengundang kecurigaan dari kawan. Mengoreksi kawan dapat membuat kita kehilangan kenyamanan. Tetapi justru pada saat ada harga yang harus dibayar, integritas memperoleh maknanya.
Persoalan serupa hadir dalam ekonomi.
Kita wajar menginginkan perusahaan Indonesia tumbuh, produk dalam negeri memperoleh pasar, dan sumber daya nasional menghasilkan kesejahteraan. Namun, ada pertanyaan yang harus terus menyertainya: bagaimana manfaat itu dibagikan?
Bayangkan suatu usaha pengolahan hasil laut berkembang pesat. Nilai penjualannya meningkat dan pasarnya meluas. Untuk menilai kontribusinya bagi negeri, kita perlu melihat lebih jauh: apakah nelayan memperoleh kepastian pembayaran? Apakah pekerja diperlakukan layak? Apakah mutu dijaga? Apakah limbah dikelola? Apakah mitra kecil mendapat kesempatan meningkatkan kemampuan?
Pertumbuhan usaha menjadi sumbangan kebangsaan yang lebih besar ketika memperkuat kehidupan pihak-pihak yang menopangnya.
Demikian pula, mengolah komoditas di dalam negeri perlu disertai pembangunan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan usaha. Jika bahan mentah berhenti diekspor tetapi ketergantungan berpindah seluruhnya ke teknologi, pembiayaan, serta pengambilan keputusan dari luar, pekerjaan membangun kemandirian masih panjang.
Kedaulatan ekonomi bertumbuh ketika masyarakat semakin mampu menghasilkan nilai, memahami prosesnya, dan ikut menentukan masa depannya.
Karena itu, nasionalisme ekonomi memerlukan keberanian menuntut mutu dari usaha sendiri. Perlindungan yang diberikan negara perlu menghasilkan pembelajaran dan daya saing. Dukungan masyarakat perlu dijawab dengan kualitas dan tanggung jawab.
Cinta kepada produk Indonesia dapat menjadi kekuatan besar apabila produsen dan konsumen sama-sama menjaga kepercayaan yang mendasarinya.
Dalam perspektif The Mangesti FEED+ The Nation Framework, pembahasan ini perlu sampai pada hubungan antara nilai yang diyakini, keputusan yang diambil, dan dampak yang ditinggalkan bagi bangsa.
Untuk tulisan ini, saya mengajukan tiga pertanyaan sebagai alat pemeriksaan.
Apakah tujuan yang hendak dicapai dapat dibenarkan? Apakah cara yang digunakan menghormati hak manusia? Apakah manfaat dan bebannya dibagikan secara adil?
Ketiganya perlu diperiksa bersama.
Tujuan membuka lapangan kerja tidak membebaskan perusahaan dari kewajiban menjaga keselamatan pekerja. Cara pengadaan yang tertib belum menjamin proyek menjawab kebutuhan masyarakat. Manfaat ekonomi yang besar pun perlu dinilai bersama kerugian yang dibebankan kepada kelompok paling lemah.
Dengan pertanyaan tersebut, nasionalisme memperoleh disiplin. Kita diajak memeriksa keputusan sampai pada akibatnya, termasuk akibat yang tidak terlihat dari ruang rapat.
Selanjutnya, nilai harus memperoleh tempat dalam institusi: keterbukaan yang memungkinkan pemeriksaan, mekanisme pengaduan yang sungguh ditindaklanjuti, perlindungan bagi pelapor, serta penegakan aturan yang tidak bergantung pada kedekatan.
Bangsa membutuhkan orang baik dan tata kelola yang membuat kebaikan dapat bertahan melampaui orang tersebut.
Pada akhirnya, mencintai Indonesia dengan dewasa berarti menerima bahwa negeri ini berharga sekaligus dapat melakukan kesalahan. Ia layak dibela ketika haknya dirampas, dan layak dikoreksi ketika kewenangan di dalamnya disalahgunakan.
Kedua tindakan itu dapat lahir dari kesetiaan yang sama.
Generasi setelah kita akan mewarisi akibat pilihan hari ini: mutu sekolahnya, kesehatan lautnya, kekuatan usahanya, keadilan hukumnya, dan tingkat kepercayaan di antara warganya.
Mereka mungkin tidak mengingat semua pidato kita. Tetapi mereka akan menjalani kehidupan yang turut kita bentuk.
Maka, marilah mencintai negeri ini dengan keberanian yang lengkap: berani menjaganya dari ancaman, berani mengakui kekurangannya, dan berani mengerjakan perbaikannya.
Indonesia layak menerima cinta yang membuatnya semakin adil cinta yang tetap bekerja bahkan ketika tepuk tangan telah berhenti.
(gwa-kopi).


