Oleh: Firman Syah Ali
Akhir-akhir dunia per-NU-an sangat gaduh, banyak peristiwa dan komentar yang mewarnai ruang publik silih berganti, sehingga sedikit banyak mengganggu marwah NU dan Nahdliyyin di bumi kita nan subur.
Diantara para pengamat, influencer hingga buzzer yang berkicau di media digital maupun media sosial ada yang orang lama dan ada yang pendatang baru di dunia kepengamatan NU.
Ada yang kader muharrik NU, kader biasa NU, anggota utama, anggota biasa, warga NU hingga orang-orang yang diragukan ke-NU-annya. Bahkan sekaliber Dahlan Iskan ikutan berkomentar walaupun sebagian komentarnya saya nilai kurang tepat dan kurang holistik dalam memandang NU, maklumlah beliau bukan kader NU.
Saya pribadi termasuk orang yang tidak membuka link komentar baik berupa video maupun tulisan dari orang yang bukan kader NU.
Apa sebab?
Karena setiap hari ada ratusan komentar tentang NU di berbagai palform media, di samping itu banyak hal selain NU yang harus saya baca dan harus saya kerjakan. Maka saya harus memilih dan memilah konsumsi bacaan saya terkait update perkembangan NU paska muktamar dari detik ke detik.
Menurut saya pribadi, tidak ada siapapun yang dapat memahami NU secara utuh kecuali kader paripurna NU.
Kader paripurna NU adalah anggota NU yang telah melatih dirinya dan mengabdi kepada NU secara berjenjang sejak dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU).
Kenapa kader paripurna NU harus berangkat dari IPNU dan IPPNU? Sebab IPNU dan IPPNU adalah Badan Otonom (Banom) yang menjadi awal dari proses kaderisasi dan proses pengabdian orang kepada NU. Dari kaderisasi formal dan informal serta kegiatan-kegitaan IPNU dan IPPNU, seorang pelajar mampu merasakan suasana kebatinan dan semangat juang yang utuh, murni dan suci dalam usia yang masih kecil dan remaja.
Orang yang menjadi aktivis NU sejak dari IPNU/IPPNU adalah orang yang telah merasakan asam garam berjami’iyyah sejak kecil, atau singkatnya dapat disebut sebagai “Kader NU sejak Kecil”.
Menjadi kader NU sejak kecil tentu punya jiwa korsa, militansi dan patriotisme yang luar biasa terhadap organisasi. Mereka akan menjaga marwah organisasi dengan segenap daya dan upaya, dalam situasi apapun.
Penggemblengan ke-NU-an sejak masih kecil akan semakin sempurna apabila dilanjutkan ke kaderisasi jenjang berikutnya, yaitu jenjang mahasiswa dan jenjang pemuda. Ketika memasuki usia mahasiswa/pemuda, alumni IPNU/IPPNU akan menyempurnakan proses dan kaderisasinya di PMII, GP Ansor dan Fatayat NU.
Kader yang sudah melengkapi dirinya dengan pengabdian terbaik sejak dari IPNU/IPPNU, PMII, GP Ansor/Fatayat NU inilah yang saya tertarik untuk membaca komentar dan ulasan-ulasannya sekitar dinamika Muktamar NU.
Selamat berdinamika demi NU tercinta.
*) Penulis adalah Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU.


