Google search engine
HomeTausiyahMazhab Muhammadiyah

Mazhab Muhammadiyah

Oeh: Syaefudin Simon

Tak bermazhab Muhammadiyah

Jalannya mudah dan lincah

Hukum fikih yang dianutnya

Bersahabat dengan dunia ilmiah

Muhammadiyah bisa meramalkan

Idul Fitri sepuluh tahun ‘kan datang

Tak gentar ramalannya disalahkan

Dalil dan kaidah astronomi sudah terentang

Ya. Ya. Itulah kekagumanku pada Muhammadiyah. Karena ia tak bermazhab.

Mazhabnya iptek dan pikiran. Fikihnya sederhana. Bersahabat dengan dunia ilmiah.

Sikap Muhammadiyah yang tidak bermazhab sangat mengagumkan. Modern, prospektif, dan inspiratif. Ini luar biasa. Sampai sekarang pun aku masih terheran-heran menyaksikan sebuah organisasi besar Islam yang tidak punya rujukan mazhab apa pun.

Pikiranku sering menerawang, Muhammadiyah akan menjadi organisasi Islam terbesar dan termodern di dunia. Ini karena, tanpa mazhab adalah jalan tanpa hambatan untuk mencapai tujuan.

Prof. Dr. Din Syamsuddin, mantan Ketua PP Muhammadiyah, pernah menyatakan bahwa Muhammadiyah bukan Dahlanisme Artinya, meski didirikan KH Ahmad Dahlan, fikih Muhammadiyah akan terus berkembang. Tidak terpaku pada fikih rumusan Ahmad Dahlan. Majlis Tarjih-badan kajian fikih Muhammadiyah-selalu merespons masalah-masalah umat. Dengan pendekatan hukum teranyar sesuai dinamika zaman.

Setelah berkembangnya teknologi rekayasa genetika, teknologi internet dan digital, teknologi animasi, teknologi robotika, teknolog kloning, teknologi ruang angkasa, dan lain-lain, niscaya banyak sekali persoalan fikih yang muncul. Sulit diselesaikan dengan pendekatan klasik. Harus ada terobosan fikih baru yang kompatibel dengan zamannya. Bagaimana fikih kloning manusia. Fikih rekayasa genetik Fikih perubahan kelamin. Fikih pencemaran lingkungan. Fikih global warming. Fikih ghibah di FB dan WA. Fikih trading saham dan forex online. Fikih fintech dan transaksi cryptocurrency. Fikih pernikahan cyber dengan gadis anonim. Fikih persetubuhan dengan perempuan virtual dan dengan boneka seks elektrik yang persis manuisia. Dan macam-macam.

Sejak berdiri, 1912, Muhammadiyah sudah menggebrak Penentuan hari-hari besar Islam seperti awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Qurban tak lagi rnemakai rukyah. Tapi dengan pendekatan ilmu falak atau astronomi. Tanpa kompromi.

Tanpa kompromi? Bukankah harus ada rukyah? Nanti dulu. Pendekatan astronomi sangat akurat. Karena berdasarkan kaidah astronomi yang terverifikasi kebenarannya. Rukyah? Pandangan mata terlalu banyak kelemahan. Belek, asap, dan debu bisa memudarkan pandangan mata. So, rukyah sering tidak akurat. Dan Muhammadiyah meninggalkannya. Jika pun ada hadis yang meminta rukyah, Muhammadiyah tak memilihnya. Astonomi yang dipakainya. Prestasi akali manusia lebih berharga. Lebih pas dengan sabda Rasul “antum a’lamu biumuri dunyakum”. Kalian lebih tahu persoalan duniamu.

***

Orang Muhammadiyah bebas mencari rujukan pada mazhab mana pun. Dalam bahasa hukum, orang Muhammadiyah punya banyak yurisprudensi.

Aku jadi ngat ketika Pak AR ditanya tentang hukum jilatan anjing. Aku jadi ingat Pak AR bertanya kembali kepada si penanya: Hukum berdasarkan mazhab mana?

Berdasarkan mazhab Syafi’i air liur anjing najis mughalladhah. Najis besar. Dalam mazhab Syafi’i ada nisbah fikih: Bila ada sebuah pejana dijilat anjing, maka harus dicuci air tujuh kali: salah satunya dengan air tanah (lumpur). Dari nisbah itu, najisnya anjing sangat besar. Tapi bila merujuk mazhab Maliki, air liur anjing tidak najis. Jadi jika Anda dijilat anjing, tidak perlu dicuci.

Konon, di era Imam Maliki tak ada masalah dengan anjing. Beda dengan zaman Imam Syafi’i. Saat itu sedang ada wabah rabies. Penyakit ini penyebabnya gigitan anjing.

Bagiku, jawaban Pak AR atas pertanyaan tentang najisnya anjing ini sangat menggembirakan. Artinya umat bisa memilih, mana yang sesuai dengan dirinya. Umat juga tidak terjebak pada fanatisme fikih. Umat akan tahu ternyata fikih tentang anjing berbeda-beda. Dan berbeda itu tak apa. Tak masalah.

Kampungku, Tegalgubug (TGB), adalah desa antianjing sampai hari ini. Jika ada anjing masuk desaku, semua orang akan mengejarnya. Jika tertangkap, ia dipukul ramai-ramai sampai mati. Kasihan anjing!

Apa salahnya anjing di kampungku? Salahnya, dulu, banyal anjing galak menyerang ternak milik warga. Gerombolan anjing lia itu disebut barongan. Barongan biasanya muncul malam hari da kebun tebu. Mereka sering menyerbu kambing, kerbau, dan sapi mi penduduk. Itulah sebabnya orang kampungku marah. Lalu ramai-ramai mengoprek barongan tadi.

Eksesnya sampai sekarang. Belum hilang. Setiap ada anjing masuk kampungku, masyarakat ramai-ramai mengejarnya. Lalu membantainya. Padahal ia bukan anggota barongan liar.

Apakah sikap orang kampungku menyimbolkan fanatisme NU? Bisaya bisa tidak, Kiai-kiai di kampungku memang penganut mazhab Svail yang menajiskan air liur anjing. Tapi harap catat: apa yang dilakukan orang-orang kampung tadi bukan cerminan “NU World.

Kenapa? Warga NU tak seluruhnya ikut mahzab Syafii. Ada juga yang ikut mahzab Maliki, Hanafi, dan Hambali. Meski mayoritas ikut mahzab Syafi’i, keempatnya dipakai. Jadi bahan pertimbangan, Tergantung mana pilihannya. So, bila ada ulama di desa, lalu memelihara anjing: dan menggendongnya tanpa takut terkena air liur si gogok, ia juga NU. Tapi ikut Maliki.

Ini beda dengan Muhammadiyah. Perserikatan ini mandiri. Bebas mengambil pendapat imam mana pun. Juga bebas menolak pendapat imam mana pun. Tergantung kecocokan logikanya. Dengan demikian, jangkauannya sangat luas. Mazhabnya tak terbatas karena rujukannya juga tak berbatas. Heibaat!

Pendekatan ilmiah fikih Muhammadiyah, misalnya, merambah pada arah kiblat. Ini menarik. KH Ahmad Dahlan menginisiasi pelurusan kiblat yang pas menuju titik nol di Ka’bah. Dasarnya ilmu atronomi. Konon, masjid-masjid lama seperti masjid Kauman Yogya, kurang pas menghadap kiblat sehingga perlu diluruskan. Muhammadiyah meluruskannya dengan membuat garis penanda baru di sekujur lantai masjid. Tujuannya agar arah kiblat benar, sesuai perhitungan astronomi. Tepat di titik nol Ka’bah.

Banyak masjid yang sudah dibangun dengan indah, ternoda arsitektur interiornya. Jamaah shalat terlihat barisannya mencong. Tak lurus dengan posisi ruang imam yang telah tersedia. Garis di masiid itu, ada yang mencong kanan: ada yang mencong kiri. Tergantung di mana sudut kesalahan arah kiblatnya. Muhammadiyah mengajarkan kepada umat, di era iptek, tak bisa ditolerir lagi bangun masjid asal menghadap ke barat. Tapi harus menghadap koblat. Dan arah kiblat itu harus sesuai pendekatan ilmiah. Ilmu astronomi.

Memang ada kitab Mafatibul Ghalb karya Syaikh Imam Fakhrur Razi . Ulama abad ke-13 yang ahli ilmu falak itu berpendapat bahwa ah kiblat tidak harus mengerucut pada titik nol Ka’bah. Menurut Fakhrur Razi, orang shalat hanya wajib menghadap ke arah titik Ka’bah bangunan berbentuk kubus dengan panjang, lebar, dan tinggi 11 meter bila shalatnya di Masjidil Haram. Tapi bila shalatnya di kota Mekah, maka kewajibannya adalah menghadap ke Musjidil Haram. Bukan lagi ke Ka’bah. Berdasarkan pendapat Imam Fakhrur Razi tadi, sebagian ulama menganggap bahwa, sekarang, bila orang shalat di kota Riyadh dan Madinah, kewajibannya bukan lagi menghadap ke Masjidil Haram, tapi ke kota Makkah. Seterusnya, bila shalatnya di luar Saudi Arabia, misal di Libanon dan Mesir, maka lewajibannya menghadap bukan lagi ke Makkah. Melainkan ke Saudi Arabia. Lebih jauh lagi, bila shalatnya di Benua Amerika, Asia, atau Australia, maka kewajiban menghadapnya tidak ke Saudi Arabia. Tapi ke Timur Tengah.

Tampaknya, Syaikh Fakhrur Rozi memakai pendekatan ekstrapolasi geometris dalam “memperluas” batas-batas Ka’bah. Ka’bah, tak lagi merupakan bangunan kubus dengan panjang-lebar-tinggi 11 meter yang berada di titik tertentu yang fixed di kota Makkah; melainkan bangunan kubus dengan batas-batas imajiner yang makin luas, mengikuti batas-batas geometri-politik tertentu. It’s OK

Dengan pendekatan tersebut, memang kelihatan lebih longgar. Ustad Nur Alam, salah seorang pengurus Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, menyatakan, masjid-masjid kuno yang indah arsitekturnya tak perlu “diubah” dengan garis baru untuk meluruskan kiblat ke titik nol Ka’bah. Pelurusan tersebut sering merusak keindahan masjid.

Tapi tidak bagi Muhammadiyah. Di zaman modern, apalagi Ero Google Map, kiblat yang mengarah pada titik nol Ka’bah, mestinya sudah bukan persoalan. Ini karena membuat masjid dengan arah kiblat menuju titik nol Ka’bah, dengan ilmu astronomi dan Google Map sangat mudah.

Dari perspektif inilah apalagi ada rujukan pendapat Fakhrur Rozi, persoalan arah kiblat tersebut tak perlu menjadi persoalan besar. Muhammadiyah punya pendapat, NU punya pendapat. Masing-masing ada rujukan astronomisnya. Yang jelas, baik NU maupun Muhmmadiyah, salatnya sama. Jumlah rakaat salatnya sama. Dan bacaan salatnya sama.

***

Pengalaman mengejutkan ber-Islam tanpa mazhab, aku alami ketika mampir ke rumah kos Taufan Hidayat, mahasiswa IAIN Yogya di Sapen. Di rumah kos Taufan-penulis kolom di koran Kedaulatan Rakyat- waktu itu ada tiga anak IAIN yang lain. Penyair Mathori Al Elwa, Adi Wicaksono, dan Ahmad Subbanuddin Alwy. Ketiganya sastrawan muda Yogya. Kebetulan aku ke rumah Taufan hari Jumat Pas suara azan bergema, tak satu pun di antara mereka yang menuju masjid untuk shalat Jumat.

Aku heran, kenapa mereka tak ada yang shalat Jumat? Melihat aku tercengang, Taufan yang mahasiswa Fakultas Syariah IAIN menjelaskan, “Simon, kami tak shalat Jumat karena mengikuti fikih Prof. Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy.”

Menurut Taufan, selama tinggal di Yogya, Prof Hasbi-Guru Besar Hadis di IAIN Yogyakarta tidak pernah sekali pun shalat Jumat. Ini terjadi karena beliau menganggap dirinya orang Aceh, bukan orang Yogya sehingga selamanya jadi musafir!

“Aku ini kan orang Pati, Jateng. Jadi di Yogya aku ini musafir seperti Pak Hasbi,” kata Taufan.

Deg… deg… deg…, jantungku berdegup keras karena kaget! Ini pengetahuan baru yang mencengangkan. Aku baru tahu, ternyata taulan dan teman-temannya yang tidak shalat Jumat itu punya kan hukum. Punya yurisprudensi dari ahli fikih besar sekaliber Prof. Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy.

Saat itu, tahun 1980-an, Prof. Hasbi adalah guru besar hadis yang paling otoritatif di IAIN Yogya. Bahkan mungkin paling otoritatif di seluruh JAIN Indonesia. Siapa yang berani mendebat Prof. Hasbi? Nyaris tak ada. Ahli hadis dan ahli fikih di IAIN seluruh Indonesia hampir semuanya murid-murid Prof. Hasbi.

Ya, sudahlah daripada ribut-ribut, para ahli hadis, tafsir, dan fikih di IAIN Yogya tampaknya memaklumi saja “ketidak-salat-jumatan” Prof. Hasbi tadi: Orang seperti Taufan, Mathori, dan Adi tinggal mengikutinya. Maklumlah anak-anak muda suka bereksperimen dalam menjalankan syariah

Suasana psikologis IAIN Yogya saat itu memang sulit untuk mengkonter pendapat guru besar senior asal Aceh tersebut. Tapi tidak berarti pendapat Prof. Hasbi mutlak benar. Dr. KH Zakky Mubarak, dosen agama Islam di Universitas Indonesia, sesepuh NU, menggambarkan, seandainya pendapat Prof. Hasbi jadi pedoman umum, bisa jadi masjid-masjid jami’ di kota besar kosong saat shalat Jum’at. Bukankah warga kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang kebanyakan migran dan tidak lahir di kotanya?-kilah Kang Zakky, orang Jakarta migran asal Cirebon ini.

Meski mungkin benar, pendapat Prof. Hasbi lemah, kata Ustad Zakky. Sejarah mencatat, kaum Muhajirin yang tinggal di Madinah tetap shalat Jumat seperti biasa. Namun demikian, pendapat Prof. Hasbi niscaya ada rujukannya. Hanya saja kalau pendapat tersebut diikuti publik, dampaknya kurang baik. Mungkin karena itu, Prof. Hasbi sendiri tak pernah menyebarluaskan pendapatnya, la hanya menjalankan shalat Jumatnya di rumah sendirian. Tidak mengajak orang lain.

Setelah lama berkenalan dengan Taufan dan teman-temannya, aku pun menemui keanehan lain. Ketika aku mengajak Taufan makan di warung pinggir jalan, ia tak mau menyentuh ikan lele. Padahal aku amat menyukai cat fish itu.

“Kenapa Fan. Tidak suka ikan lele?” tanyaku.

Taufan diam saja. Tapi kemudian Mathori menjawabnya. Taufan sekarang sedang mempelajari mazhab Syiah dan ia mengikutinya, Konon, lele hukumnya haram di mazhab Syiah. Bukan hanya lele Semua jenis ikan yang tidak bersisik hukumnya haram. Dengan demikian, belut dan cumi-cumi pun hukumnya haram dimakan “Walah… walah… aku tak mau mengikuti mazhab Syiah karena , nanti tak bisa makan pecel lele,” kataku.

Mazhab Syiah di tahun 1980-an sangat populer di Yogya Popularitas mazhab ini terdongkrak karena popularitas Imam Khomeini yang berani melawan Irak dan Amerika. Pak Amien Rais meski orang Muhammadiyah, sangat mengagumi Imam Khomeini. Tapi Pak Amien tampaknya tidak mengikuti fikih Syiah seperti teman-temanku tadi. Gegara haramnya lele di mazhab Syiah itu, aku pun mulai tertarik membaca buku-buku mazhab Syiah. Dan aku kaget, ternyata waktu shalat di mazhab Syiah hanya tiga. Bukan lima waktu seperti yang aku lakukan selama ini.

Menariknya, shalat tiga waktu ini asli berdasarkan Al-Quran. Ayatnya: Aqimish-shalâta lidulûkisy-syamsi ila ghasaqillaili wa qur’ânal-fajri. Artinya: Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan saat terang fajar (Shubuh). (Qs 17:78)

Jadi, shalat tiga kali sehari semalam ini, kata Taufan, punya rujukan yang kredibel: Al-Quran. Begitu juga shalat lima waktu sehari semalam, punya rujukan kredibel. Nabi Muhammad sebagai penafsir Al-Quran paling otoritatif melaksanakan shalat lima waktu. Tapi jangan lupa, Nabi pun dalam kondisi tertentu, melaksanakan shalat hanya tiga waktu seperti tertera dalam Al-Quran. Kalimat dalam kondisi tertentu inilah yang kemudian “berkembang” dengan aneka pendapat. Kalangan Sunni, menyatakan shalat tiga waktu tadi bersyarat. Sedang kalangan Syiah tidak bersyarat.

Shalat tiga waktu ini-Zhuhur dan Ashar satu waktu, lalu Maghrib dan ‘Isya satu waktu, dan kemudian Shubuh satu waktu-aku praktikkan ketika jadi wartawan harian Republika, Jakarta. Kalau di kalangan orang Sunni, shalat tiga waktu itu mirip shalat jamak. Bedanya, kalau di Sunni shalat “jamak atau tiga waktu ini bersyarat (bila orang bepergian dengan panjang perjalanan tertentu atau ketika orang sakit): di Syiah shalat tiga waktu tidak bersyarat. Jelas, dalam hal shalat ini, mazhab Syiah lebih praktis, Terutama untuk wartawan yang pekerjaannya diburu waktu!

Jelas aku kepo. Lalu aku mengusulkan masjid Syuhada Yogyakarta mengadakan seminar membahas empat mazhab Islam tadi. Pemakalahnya dari Muhammadiyah, NU, Ahmadiyah, dan Syiah. Muhammadiyah bermazhab nirmazhab: NU bermazhab Syafi’i; Ahmadiyah bermazhab Sunni (Ahmadi); dan Syiah bermazhab Ahlul Bait. Seminar ini ternyata menarik minat jamaah dan kader-kader dakwah masjid Syuhada. Dari seminar itulah terbuka wawasanku.

Aku kaget ketika pembicara dari Syiah, Jalaludin Rakhmat menyatakan bahwa pedoman Islam sepeninggal Rasulullah adalah Al-Quran dan Ahlul Bait. Bukan Al-Quran dan Sunnah Rasul. Ini karena Ahlul Bait adalah orang-orang yang kesuciannya dijamin Allah sesuai surah al-Ahzab: 33. Sunah Rasul memang benar, tapi sepeningal Rasul masih ada rujukan umat yaitu Ahlul Bait.

Siapa saja Ahlul Bait? Menurut mazhab Syiah mayoritas (itsna ‘Asyariah), Ahlul Bait terdiri atas dua belas imam. Pertama, Sayyidina Ali (Imam Ali), kedua, Hasan bin Ali, ketiga, Husein bin Ali, keempat, Ali bin Husein, kelima, Muhammad al-Baqir, keenam, Ja’far ash-Shadiq, ketujuh, Musa al-Kazhim, kedepalan, Ali ar-Ridha, kesembilan, Muhammad al-Jawwad, kesepuluh, Ali al-Hadi, kesebelas, Hasan al-‘Asykari, dan kedua belas, Abu al-Qashim (Imam Mahdi). Kedudukan para imam ini memang tidak sama dengan nabi; tapi mereka pembawa pesan atau penafsir hadis Rasulullah yang paling otoritatif.

Dari kedua belas imam di atas, Imam Mahdi yang paling terkenal. Ini karena di masyarakat Islam Jawa, khususnya NU, ada kepercayaan bahwa kelak di akhir zaman akan datang Imam Mahdi untuk menghakimi seluruh umat manusia dengan adil seadil-adilnys Kepercayaan kepada mesianisme (Imam Mahdi) dan praktik ziarah kubur inilah yang menyebabkan Gus Dur menyatakan bahwa NU sebetulnya Sunni wal Syiah.

Sedangkan pembicara Ahmadiyah menyatakan, sepeninggal Rasul. Allah masih menurunkan utusannya, yaitu Mirza Ghulam Ahmad dan keturunannya. Yang menarik adalah, Mirza Ghulam Ahmad jika dirunut adalah keturunan Rasulullah juga. Berarti Mirza juga Ahlul Bait.

Ulama Ahlul Bait diakui sebagai ulama yang paling otoritati dalam menafsirkan Al-Quran dan hadis, Pendapat tersebut disepakan seluruh umat Islam. Maklumlah, Ahlul Bait adalah orang-orang yang punya keturunan langsung dari Rasulullah melalui putrinya Fathimah az-Zahra, istri Ali bin Abi Thalib.

Ahlul Bait adalah orang yang paling otoritatif dalam menjelaskan Al-Quran dan hadis. Imam Ja’far ash-Shadiq, salah seorang ulama Ahlul Bait, dikenal sebagai gurunya para imam pendiri empat mazhab (Syafi’i, Hambali, Maliki, dan Hanafi). Empat mazhab inilah yang paling banyak diikuti di Asia dan Afrika. Di Asia Tenggara seperti Indonesia Malaysia, dan Brunei kaum Muslim kebanyakan menganut mazhab Syafi’i. Sedangkan di Saudi Arabia dan sekitarnya kebanyakan mazhab Hambali. Sementara di Hindustan (India dan Pakistan) memakai mazhab Hanafi dan di Maghribi (Afrika Utara) kebanyakan mazhab Maliki.

So what? Siapa yang mengaku paling baik mazhabnya? Semua baik, karena semuanya Islam. Syahadatnya sama: Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Dan Muhammad adalah utusan-Nya. Aku pikir, itulah keindahan Islam. Islam bagaikan rumpun bunga aneka warna yang disatukan dalam bingkai mozaik indah.

Lalu, orang menyatakan baik saja tidak cukup. Tapi juga harus benar. Kalau begitu, siapa yang paling benar mazhabnya? Untuk menjawab pertanyaan itu, sulit karena masing-masing akan mengaku paling benar.

Dalam kondisi seperti itu, aku ingat filosof Foucault yang menyatakan: kehendak untuk merasa benar berbanding lurus dengan kehendak untuk merasa berkuasa. Dengan kata lain, Foucault menggarisbawahi, orang yang mengaku pendapatnya paling benar identik dengan orang yang mengaku paling berkuasa. Jika itu preferensinya, maka yang terjadi dalam urusan mazhab ini, adalah, Yang merasa paling benar akan merasa paling berkuasa dan merasa paling berhak menyalahkan mazhab lain.

Tampaknya, hal seperti itu sudah disadari jauh hari oleh Imam Syafii, sebelum Foucault mengemukakan preferensinya. Menurut Syafi’i, pendapat Anda mungkin benar, tapi bisa jadi ada kesalahannya. Dan pendapat Anda mungkin salah, tapi bisa jadi ada kebenarannya.

Dari sisi inilah, kita mengapresiasi kearifan Sunan Bonang. Menurut Kanjeng Sunan: Yang baik belum tentu benar. Yang benar belum tentu baik. Yang benar dan baik belum tentu perlu.

Dalam filsafat Jawa, ada adagium yang bagus-ngono yo ngono, ning ojo ngono! Makna kalimat terakhir tadi dalam sekali. Artinya, dalam menilai mazhab, juga fikih, kita harus melihat konteksnya. Dan konteks tersebut bisa sangat kompleks sehingga perlu pendekatan multidimensi.

Aku sangat menikmati mengikuti 1001 macam mazhab ini. Soal anjing, misalnya, aku ikut Mazhab Maliki saja. Gegara ini, aku mudah bergaul dengan orang Jepang. Di Hiroshima aku tidak canggung bercanda dengan anjing pudel milik Miyuki yang menggemaskan. Aku jadi akrab dengan Miyuki, seorang mahasiswi sastra Inggris Hiroshima University dan keluarganya berkat kebaikanku pada anjing pudelnya. Budi Nugroho dari RRI Jakarta dan Teguh Juwarno dari RCTI mblegidig kalau didekati pudel lucu itu. Najis, katanya.

Dalam memburu berita dan narasumber, sebagai wartawan, aku ikut Syiah saja karena waktu shalatnya lebih praktis. Hanya tiga waktu. Jamak semua. Dalam berwirid dan shalawatan, aku memilih NU karena lebih khusyuk dan menyentuh kalbu. Indah sekali! Dalam menjelajah ilmu pengetahuan, aku lebih memilih Ahmadiyah karena pemikiran-pemikiran rasionalnya dan motivasinya yang kuat untuk menggapai kemajuan sains-tek. Salah satu hadis yang paling sering dikutip kaum Ahmadi dan aku sangat menyukainya adalah, ziki paling utama adalah menulis buku!

Luar biasa hadis ini! Itulah sebabnya, orang-orang Ahma dikenal sangat cerdas dan penulis buku yang sangat produktif Bus buku tentang Islam di Amerika dan Eropa, misalnya, kebanyakan karya kaum Ahmadi. Muslim pertama penerima Nobel Fisika yang sangat prestisius adalah Prof. Abdus Salam, juga seorang Ahmas asal Pakistan. Dan tafsir Al-Quran pertama yang mengguncang dunia adalah tafsir The Holy Qur’an karya Abdullah Yusuf Ali, seorang Ahmadi asal India. HOS Cokroaminoto, Bung Karno, dan Bung Hatta mengaku mencintai Islam setelah membaca The Holy Qur’an tadi.

Dari perspektif inilah, kenapa aku mengagumi Muhammadiyah yang tidak bermazhab. Ini karena aku bisa memilih mazhab yang kompatibel dengan kondisi dan situasi. Pesan Pak AR agar Islam disampaikan dengan enteng, ringan, dan menyenangkan hanya mungkin dilakukan jika orang tidak bermazhab. Dan mengambil sisi positif setiap mazhab. Dalam hal ini, ada hadis Nabi yang sangat bagus.

Rasulullah bersabda, Yassirû wala tu’assirû wabasysyirů wala tunâfirû. Artinya: “Mudahkanlah dan janganlah engkau persulit orang lain, dan berilah kabar gembira pada mereka, jangan membuat mereka lari.” Hadis ini, menurut kaum Sunni, sahih karena diriwayatkan Imam Bukhari.

Persoalannya, bagaimana kita menafsirkan hadis itu? Kalau orang yang di pusat saraf otaknya ada sel-sel neuron yang disfungsional — pinjam pakar kedokteran digital life science Dr. Andy G Rakasiwi — pastilah akan menyatakan, jangan mencampur-aduk mazhab dan memudahkan agama karena Allah dan Nabi akan murka. Tapi bagi orang yang otaknya waras, sehat, dan sempurna, ia akan menyatakan: Ikuti jalan Islam yang menenteramkan dan membahagiakan. Allah bersama orang yang sabar dan berhati damai. Orang yang otaknya sehat sangat toleran, moderat, dan hatinya welas asih kepada sesama manusia.

“Aku, bukan ahli hadis. Juga bukan ahli perbandingan mazhab. Tapi aku bisa menilai mana mazhab yang benar dan salah,” kata temanku Ikhsan Haryono, alumnus Matematika FMIPA UGM, yang sudah menguasai filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre dan filsafat Islamnya Al-Ghazali sejak kelas enam SD. Mazhab yang benar adalah mazhab yang ajarannya terfokus pada perbaikan akhlak manusia, pada kehidupan yang damai, sejuk, dan menenteramkan. Dengan kata lain, kata Ikhsan, mazhab yang benar adalah mazhab yang ajarannya mengacu pada Islam yang rahmatan lil-‘alamin

Dr. Fadli Zon punya pengalaman menarik. Wakil ketua MPR . itu, dalam buku biografinya Menyusuri Lorong Waktu menulis pengalamannya ketika tinggal di keluarga Kristen Amerika.

Di Amerika, ketika mendapat beasiswa, Fadli tinggal di keluarga Kristen yang sangat ramah. Fadli selalu diingatkan “bapak angkat”-nya untuk shalat jika waktu shalat tiba. la juga sering diajak mengunjungi masjid-masjid di Amerika. Keluarga angkatnya menunggu dengan sabar jika Fadli melaksanakan shalat.

Melihat kebaikan orang Kristen seperti itu, tulis Fadli, yang timbul adalah rasa tulus menyayangi sesama umat beragama. Bagaimana mungkin aku berpikir ekstrim jika mengenal orang Kristen sebaik itu.

Orang-orang ekstrim yang akhirnya menjadi teroris, kata Fadli terjadi karena dia berkacamata kuda. la belajar Islam hanya sat mazhab, tanpa ada perbandingan mazhab lain. la juga belajar Islan tanpa menengok sedikit pun ajaran agama lain.

Seandainya aku hanya mempelajari Islam dari satu sumb tanpa membandingkan dengan sumber-sumber lain, jelas Fadli, a akan menjadi ekstrimis, bahkan teroris. Dalam istilah alay, orang berpikir bumi datar karena kurang piknik.

Muhammadiyah yang tidak bermazhab, membuka peluang pengembangan beragama yang ramah, indah, dan membahagiakan mengeksplorasi Dengan tidak bermazhab, kaum Muhammadi bisa sisi-sisi indah setiap mazhab dan kemudian menyajikan Islam sesuai dengan budaya setempat. Seperti dakwah Wali Songo di Jawa, Islam Itu Indah, mudah, dan ramah, kata Pak AR.

Aku terkagum-kagum ketika Pak AR berhasil menyelesaikan persoalan mayat Cina non-Muslim yang ingin dishalatkan di masjid Ngabean Yogyakarta. Juga ketika Pak AR menjawab pertanyaan nelayan kecil yang kesulitan shalat di tengah laut (baca: buku Pak AR Sang Penyejuk).

Hikmah dari cerita itu, bagaimana Islam bisa menyenangkan orang lain tanpa terjerumus dalam pengingkaran esensi Syariah. Pak AR sangat piawal menyelesaikan persoalan-persoalan rumit fikiyah seperti itu. Bahkan dengan solusi yang enteng, ringan, dan memuaskan semua pihak. Itu hanya mungkin terjadi jika orang berIslam tanpa mazhab seperti Muhamadiyah.

Dalam beragama, Pak AR tidak suka berkonflik. Islam itu mudah kata Pak AR. Islam hanya perlu dijalankan, bukan diperselisihkan. Konflik hanya terjadi pada orang-orang yang tidak memahami agama secara utuh. Atau orang-orang yang menjalankan agama, tapi pamrih. Tidak ikhlas. Karena itu mereka senang konflik. Sedangkan orang yang ikhlas menjalankan agama, hatinya bersih, tulus, dan menghindari konflik.

Dari perjalanan dakwah Pak AR yang penuh warna, akhirnya kita tersadar bahwa Islam itu bagaikan rumpun bunga yang membentuk mozaik indah. Banyak rupa, banyak warna, banyak aroma-tapi berada dalam satu bingkai. Tujuannya sama: meraih keridhaan Allah. Untuk kebahagiaan makluk Allah (rahmatan lil’alamin) — seluruh spesies di jagad raya.

(gwa-kb-piijatim).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments