Google search engine
HomeHaji dan UmrohDr. Adian Husaini “Kita Lanjutkan Amanah Risalah dari Arafah”

Dr. Adian Husaini “Kita Lanjutkan Amanah Risalah dari Arafah”

Pagi ini, 9 Dzulhijjah 1447 H/26 Mei 2026, dari Padang Arafah, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Dr. Adian Husaini, menyampaikan pesan bertajuk “Kita Lanjutkan Amanah Risalah dari Arafah”.

Amanah atau tanggung jawab risalah wajib dilaksanakan oleh umat muslim berdasarkan perintah Allah SWT yang terdapat dalam sejumlah ayat Al Quran:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (kamu) menyuruh kepada yang makruf dan mencegah kemunkaran, serta beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran:110).

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah kemunkaran. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran:104).

Ayat-ayat Al Quran tersebut memberikan penjelasan yang tegas tentang kewajiban umat Islam untuk melaksanakan dakwah, dalam arti melanjutkan risalah Rasulullah saw. Ad-Dinul Islam diturunkan Allah SWT melalui Rasul-Nya, Muhammad saw, kepada seluruh manusia (QS 34:28). Islam diturunkan bukan hanya untuk umat Islam semata. Islam diturunkan untuk menyelamatkan umat manusia, untuk menebarkan rahmat bagi seluruh alam (QS 21:107).

Penegasan agar ajaran Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam juga tampak dari seruan Rasulullah saw dalam Khutbatul Wada’, dimana Rasul saw senantiasa menggunakan seruan “Ya ayyuhan naas…”. Ketika itu beliau berpesan, agar orang-orang yang hadir di Arafah, menyampaikan pesan-pesan beliau kepada yang tidak hadir.

Karena mengemban misi yang sangat mulia — yaitu untuk menyebarkan rahmat kepada seluruh alam, yang dapat juga diartikan sebagai tugas untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran — maka umat Islam diberi julukan dengan berbagai predikat yang agung, seperti “khaira ummah”, “ummatan wasatha”, dan sebagainya.

Pada sisi lain, sebutan-sebutan indah itu juga mengindikasikan adanya perintah Allah SWT, agar umat Islam menjadi umat yang mulia, umat yang disegani, umat yang kuat, dan umat yang agung; bukan umat yang hina dan lemah. Hal itu dapat dilihat, misalnya, pada perintah Allah SWT, agar umat Islam menghimpun segala macam kekuatan, agar mereka menjadi umat yang kuat dan mendidik anak-anak mereka menjadi manusia-manusia kuat dan hebat. (QS 8:60, dan ayat 65-66)

Mudah dipahami, dengan kondisi sebagai “umat yang mulia”, “umat yang kuat”, dan sebagainya, maka umat Islam akan dapat menjalankan fungsi dakwah dan amanah risalah kepada seluruh manusia, dengan lancar. Jika kondisi umat Islam sebaliknya, yakni umat yang lemah dan hina, maka umat Islam bukanlah menjadi “subjek”, tetapi akan menjadi “objek”.

Karena itu, menyiapkan dai-dai yang unggul dalam berbagai bidang dan tingkatan, merupakan kewajiban penting bagi umat Islam secara individual dan sosial. Aktivitas dakwah – mengajak manusia ke jalan Allah — adalah aktivitas terbaik, sehingga jangan dijadikan sebagai kegiatan sambilan atau asal-asalan.

Semoga Allah SWT melindungi dan menolong diri kita dan bangsa kita. Amin. (Arafah, 26 Mei 2026).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments