Oleh: Imam Mawardi Ridlwan
Dewan Pembina Yayasan Bhakti Relawan Advokat Pejuang Islam
Maraknya kasus keracunan makanan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memunculkan pertanyaan penting: mengapa komunikasi antar pihak belum berjalan optimal? Padahal kita hidup di era digital, di mana teknologi seharusnya menjadi jembatan, bukan penghalang.
Mungkin sudah ada SPPG yang memanfaatkan teknologi ini—saya hanya belum mengetahui. Jika demikian, pengalaman tersebut sangat berharga untuk dibagikan kepada rekan SPPG lainnya.
Dua bulan lalu, saya pernah menyampaikan pentingnya memanfaatkan teknologi sederhana namun efektif: Google Form. Alat ini bukan hanya sekadar platform survei. Dengan sedikit kreativitas, Google Form dapat dijadikan media evaluasi, buku harian murid, laporan timbal balik guru–orang tua, hingga saluran kritik dan saran masyarakat.
Tenaga Profesional SPPG Siap Go Digital
Badan Gizi Nasional (BGN) telah menempatkan tenaga profesional dalam Program MBG melalui SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi). Di setiap SPPG terdapat tiga peran utama: kasatpel, akuntan, dan ahli gizi. Mereka adalah generasi yang akrab dengan teknologi.
Sudah saatnya mereka diberi kewenangan mengelola Google Form sebagai sarana komunikasi, evaluasi, dan koordinasi. Melalui platform ini, kepala sekolah, guru, orang tua, dan murid dapat menyampaikan umpan balik secara cepat dan efisien. Data yang masuk bisa langsung dianalisis, sehingga langkah korektif dapat segera diambil tanpa menunggu lama.
Mudah, Murah, dan Kreatif
Penggunaan Google Form tidak membutuhkan perangkat mahal. Dengan ponsel dan koneksi internet sederhana, siapa pun bisa mengaksesnya.
Formulir bisa dibuat dengan berbagai format:
Pilihan ganda
Skala likert
Isian singkat/panjang
Upload foto
Seolah-olah semua pihak bertemu langsung secara virtual. Tidak dibutuhkan keahlian teknis khusus; guru, kepala sekolah, orang tua, hingga murid bisa menggunakannya kapan saja dan di mana saja.
Tinggalkan Cara Lama, Sambut Efisiensi Digital
Evaluasi manual berbasis kertas semakin tidak relevan. Selain boros waktu dan biaya, prosesnya lambat dan rumit. Pengolahan data membutuhkan tenaga ekstra, distribusi hasil memakan waktu, dan rawan miskomunikasi.
Dengan Google Form, semua proses berlangsung secara digital dan real-time. Kasatpel bisa langsung mengambil keputusan dan menyusun laporan berjenjang tanpa hambatan.
Privasi Terjamin, Partisipasi Lebih Terbuka
Keunggulan lain Google Form adalah fleksibilitas privasi. Identitas pengisi dapat dirahasiakan sehingga kritik dan saran disampaikan lebih jujur dan objektif. Jika terdapat tenaga IT, Google Form juga dapat diintegrasikan dengan Google Sheets, disimpan di cloud, serta diperkuat dengan fitur keamanan berstandar tinggi.
Bukan Lagi Keterbatasan Internet
Kekhawatiran soal akses internet kini tak lagi relevan. Sebagian besar sekolah dan rumah telah memiliki koneksi yang cukup untuk mengakses Google Form. Tidak butuh kuota atau bandwidth besar—yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk berubah.
Fleksibel Sesuai Kebutuhan SPPG
Isi formulir dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing SPPG, arahan BGN, sekolah, atau lembaga terkait. Kreativitas adalah kunci. Google Form bisa menjadi cermin pelaksanaan MBG, sekaligus alat deteksi dini untuk mencegah kejadian seperti keracunan makanan.
Oleh:
Imam Mawardi Ridlwan
Dewan Pembina Yayasan Bhakti Relawan Advokat Pejuang Islam


