Google search engine
HomeUncategorizedBahaya Beragama Tanpa Ilmu

Bahaya Beragama Tanpa Ilmu

بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Saudaraku, Islam adalah agama Dalil, agama Hujjah….

Untuk memahami Islam bukan dgn menggunakan pemahaman logika, mengikuti perasaan maupun akal pikiran seseorang, terlebih-lebih kalau memahami Islam mengikuti hawa nafsu, mimpi, ambisi.

Untuk taat pada Allah dan RasulNya jangan sekali-kali meminta ijin pada akal, artinya akal mau menyetujui atau tidak, akal bisa nalar atau tidak, logis atau tidak, rasional atau tidak, ada relevansi atau tidak……Tidak usah peduli, tetap taati Allah dan RasulNya._

Akal bisa salah, akal bisa berbohong dan akal bisa keliru dalam menarik kesimpulan. Tetapi Al Quran dan Sunnah Rasulullah yg shohih adalah haq, selalu benar dan tidak pernah salah, dalam situasi apapun, kapanpun dan dimanapun.

Mana contoh?

Apakah perintah Allah pada nabi Ibrahim utk menyembelih anaknya perintah yg bisa diterima akal manusia? Tentu tidak, malah akal manusia akan menganggapnya sebagai ‘perintah gila’. Walaupun begitu, Nabi Ibrahim tetap menjalankan perintahNya dgn mengesampingkan akal dan logikanya.

Agama Islam mengajak manusia untuk mengikuti ajarannya berdasarkan dalil atau hujjah yang nyata, yaitu mengikuti apa yang difirmankan oleh Allah (Al Quran), mengikuti apa yang disabdakan Rasulullah (Hadits Shahih) dan dgn mengikuti pemahaman sahabat. Qolallah, wa qola rasulullah ‘ala fahmi sahabat.

Seperti firman Allah Subhanawata’ala:

“Katakanlah : Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah, dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf : 108).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga bersabda:
“Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham.” (HR. Tirmidzi no. 2676)

Imam Syafi’i pernah mengatakan:
“Setiap perkataanku yg ternyata bertentangan/menyelisihi hadits yg shahih, maka ambil hadits itu dan tinggalkan perkataanku”.

Oleh karena itu…

Jika terkait beragama, bukan waktunya lagi untuk mengikuti perkataan-perkataan habib, kiayi, ustadz,  fulan atau pemikiran filsuf fulan jika tanpa didasari hujjah yg nyata. Jika pendapat mereka,  tsb berdasarkan firman Allah atau perkataan Rasulullah, maka ikutilah. Apabila pendapat tersebut menyelisihinya, maka tinggalkanlah.

Saudaraku….

Teruslah istiqomah untuk selalu diberikan ilmu yg lurus oleh Allah untuk selalu berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah dgn pemahaman sahabat, jgn menyelisihnya walau tidak sesuai logika kita, agar kita tidak termasuk orang-orang musyrik.

Wallohu A’lam bi showab

Allohu yubaarik fiikum

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments