Google search engine
HomeOpiniPeta Muktamar NU dalam Kacamata Partisan Konflik Nasab

Peta Muktamar NU dalam Kacamata Partisan Konflik Nasab

Oleh: Firman Syah Ali

Ledakan polarisasi nasab ba’alwi yang berlangsung sejak tahun 2023 hingga kini telah merasuk ke dalam segala sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama di dunia media sosial. Sering grup-grup WA yang sedang asyik ngobrol masalah sehari-hari tau-tau dirusak oleh postingan tentang nasab, sehingga energi grup habis terkuras oleh pertengkaran. Dalam pertengkaran tersebut, fallacy dan sumpah serapah jadi sarapan sehari-hari. Orang-orang yang dulu terkenal rasional, kena perdebatan sengit nasab berubah menjadi impulsif dan agresif.

Tidak main-main, polarisasi ini terkadang meledak jadi aksi fisik secara sporadis antar kelompok yang secara sosiologis sedang terbelah jadi dua, yaitu kubu pro nasab ba’alwi vs kontra nasab ba’alwi. Dalam istilah yang lebih kasar sedikit, dapat disebut kubu pendukung vs kubu pembatal. Tapi saya tidak suka yang kasar-kasar, maka saya pakai istilah pro dan kontra saja.

NU adalah raksasa kultural Indonesia yang punya atensi dan dedikasi tinggi terhadap masalah nasab. Aturan tak tertulis dalam NU sejak awal berdirinya adalah sangat mengarusutamakan garis darah biru, terutama dalam suksesi. Identitas nasab darah biru seorang aktivis NU bisa dikapitalisasi dan diamplifikasi sedemikian rupa untuk beragam kepentingan strategis.

Maka NU termasuk ormas yang terdampak secara langsung oleh gempa nasab tersebut. Mau tidak mau, suka tidak suka, harus kita akui itu. Mau ditutup-tutupi dengan retorika sebijaksana apapun, publik tetap tau bahwa NU sangat terdampak.

Maka membaca peta para calon suksesor PBNU 2026 juga tidak lepas dari polarisasi tersebut. Komentar terang-terangan tentang itu tidak dapat dibendung lagi di berbagai platform media sosial.

Kalau dipetakan berdasarkan konflik nasab tersebut, maka seperti ini skemanya.

Figur-figur pro nasab Ba’alwi:
1. KH Miftachul Akhyar
2. Prof Dr Nasaruddin Umar
3. KH Yahya Cholil Staquf
4. KH Zulfa Mustofa
5. KH Abdul Hakim Mahfudz

Figur-figur kontra nasab Ba’alwi:
1. KH Ma’ruf Amin
2. KH Said Aqil Siradj
3. KH Marzuki Mustamar

Figur-figur yang tidak pernah melibatkan diri dalam pro kontra Nasab Ba’alwi:
1. KH Muhammad Yusuf Chudlori (namun pernah kritik perilaku ba’alwi)
2. KH Abdussalam Shohib
3. KH Abdul Ghaffar Rozin
4. KH Imam Jazuli
5. KH Ali Masykur Musa (namun memimpin banom yang secara tradisional berlawanan langsung dengan Ormas tarekat pro Ba’alwi)
6. Hery Haryanto Azumi

Apakah peta di atas relevan dan kontekstual? Apakah diperhitungkan oleh muktamirin terutama voters? Apakah realita lapangan terutama terkait rahasia umum dari muktamar ke muktamar (pulang bawa berkat) akan lebih dominan daripada sentimen antar kelompok pro kontra nasab Ba’alwi tersebut?

Jawabannya kita serahkan kepada pengamat NU lainnya, semisal Dr M Sholeh Baasyari.

*) Penulis adalah Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments