Oleh: Dr. Basa Alim Tualeka MSi (Aalim)
Pendahuluan
Dunia saat ini sedang berada dalam fase ketidakpastian yang tinggi. Konflik geopolitik antara Israel dan Iran telah meningkatkan kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi jantung pasokan energi dunia. Ketika perang atau eskalasi militer terjadi di kawasan tersebut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang terlibat, tetapi juga menjalar ke seluruh dunia melalui jalur perdagangan, energi, investasi, dan keuangan.
Indonesia memang bukan pihak yang terlibat langsung dalam konflik tersebut. Namun sebagai bagian dari ekonomi global, Indonesia tidak mungkin terlepas dari dampaknya. Kenaikan harga minyak dunia, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya biaya impor, hingga tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi konsekuensi yang harus dihadapi.
Di sisi lain, kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih pasca pandemi, perang Rusia-Ukraina yang masih menyisakan dampak, serta perlambatan ekonomi di berbagai negara maju membuat ruang gerak pemerintah semakin sempit. Jika situasi ini tidak dikelola dengan baik, maka efek domino ekonomi dapat terjadi dan berujung pada penurunan daya beli masyarakat, meningkatnya pengangguran, serta melemahnya kepercayaan publik terhadap perekonomian nasional.
Pertanyaannya, apakah Indonesia hanya akan menjadi penonton yang menerima dampak krisis global, atau justru mampu menjadikan krisis sebagai momentum untuk melakukan perbaikan fundamental ekonomi?
1. Perang Israel–Iran dan Ancaman terhadap Ekonomi Dunia
Iran merupakan salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia. Selain itu, kawasan Timur Tengah menguasai sebagian besar cadangan minyak dan gas global.
Ketika konflik militer meningkat, pasar dunia langsung bereaksi. Investor khawatir pasokan energi terganggu, terutama jika jalur strategis seperti Selat Hormuz mengalami gangguan. Jalur ini merupakan salah satu rute pengiriman minyak terbesar di dunia.
Ketakutan pasar biasanya memicu:
1. Kenaikan harga minyak mentah dunia.
2. Kenaikan harga gas alam.
3. Kenaikan biaya transportasi internasional.
4. Meningkatnya biaya asuransi pengiriman barang.
5. Menurunnya kepercayaan investor global.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara pengimpor energi, tetapi juga seluruh sektor ekonomi yang bergantung pada distribusi dan transportasi.
2. Rupiah Melemah dan Tekanan terhadap Perekonomian Nasional
Dalam situasi global yang tidak menentu, investor cenderung memindahkan dananya ke aset yang dianggap aman seperti dolar Amerika Serikat dan emas.
Akibatnya, mata uang negara berkembang termasuk rupiah mengalami tekanan.
Ketika rupiah melemah:
Harga barang impor menjadi lebih mahal.
Biaya produksi industri meningkat.
Beban utang luar negeri bertambah.
Harga bahan baku naik.
Masalahnya, Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk berbagai kebutuhan strategis seperti:
BBM.
LPG.
Gandum.
Kedelai.
Mesin industri.
Komponen elektronik.
Teknologi tinggi.
Artinya, pelemahan rupiah akan langsung mempengaruhi harga barang dan jasa di dalam negeri.
3. Ketidakseimbangan Ekspor dan Impor
Salah satu kelemahan ekonomi Indonesia adalah ketergantungan terhadap ekspor komoditas mentah.
Ketika harga komoditas turun atau permintaan dunia melemah, penerimaan devisa negara ikut menurun.
Di sisi lain, impor tetap tinggi karena industri nasional masih membutuhkan bahan baku dan teknologi dari luar negeri.
Akibatnya:
Neraca perdagangan tertekan.
Cadangan devisa berkurang.
Rupiah semakin rentan.
Pertumbuhan ekonomi melambat.
Situasi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi persoalan struktural yang belum sepenuhnya terselesaikan.
4. Kenaikan Harga Migas dan Efek Domino Ekonomi
Energi adalah urat nadi perekonomian.
Ketika harga minyak dunia naik, maka seluruh rantai ekonomi ikut terpengaruh.
Jika pemerintah menaikkan harga BBM atau mengurangi subsidi energi, maka dampaknya akan terasa pada:
Transportasi
Ongkos angkutan umum naik.
Tarif logistik meningkat.
Biaya distribusi barang bertambah.
Industri
Biaya produksi naik.
Harga barang jadi meningkat.
Margin keuntungan perusahaan menurun.
Pertanian
Harga pupuk naik.
Biaya pengolahan lahan meningkat.
Harga hasil pertanian ikut terdorong naik.
Perdagangan
Harga kebutuhan pokok meningkat.
Daya beli masyarakat menurun.
Inflasi semakin sulit dikendalikan.
Inilah yang disebut sebagai efek domino ekonomi.
5. Risiko Kenaikan Pajak
Ketika pendapatan negara tidak cukup untuk membiayai kebutuhan pembangunan dan subsidi, pemerintah biasanya mencari sumber penerimaan tambahan.
Salah satunya melalui pajak.
Secara teori langkah ini benar.
Namun jika dilakukan pada saat ekonomi melemah, maka dampaknya dapat berupa:
Menurunnya investasi.
Berkurangnya ekspansi usaha.
Melambatnya penciptaan lapangan kerja.
Menurunnya konsumsi masyarakat.
Karena itu kebijakan pajak harus dilakukan secara hati-hati dan terukur.
SOLUSI DAN REKOMENDASI STRATEGIS
Bagian ini merupakan inti dari upaya penyelamatan ekonomi Indonesia dalam menghadapi krisis global.
1. Membangun Kemandirian Energi Nasional
Selama Indonesia masih bergantung pada impor energi, maka setiap gejolak dunia akan selalu memukul ekonomi nasional.
Karena itu pemerintah harus:
Pertama : Mempercepat pembangunan kilang minyak nasional.
Kedua : Mengembangkan energi terbarukan secara masif seperti:
Tenaga surya.
Tenaga angin.
Panas bumi.
Biomassa.
Ketiga : Mengurangi impor BBM secara bertahap.
Keempat : Memperkuat riset energi nasional.
Target jangka panjangnya adalah Indonesia mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan energinya sendiri.
2. Revolusi Hilirisasi Nasional
Selama puluhan tahun Indonesia terlalu bergantung pada ekspor bahan mentah.
Padahal keuntungan terbesar justru berada pada produk jadi.
Contohnya:
Nikel menjadi baterai.
Bauksit menjadi aluminium.
Kelapa sawit menjadi produk turunan bernilai tinggi.
Hilirisasi harus diperluas ke seluruh sektor agar nilai tambah ekonomi meningkat.
3. Reformasi Anggaran Negara
Saat menghadapi krisis, setiap rupiah uang negara harus digunakan secara efektif.
Perlu dilakukan:
Audit menyeluruh
Terhadap proyek-proyek yang kurang produktif.
Penghematan birokrasi
Belanja seremonial dan perjalanan dinas perlu dikurangi.
Prioritas pembangunan
Difokuskan pada sektor produktif.
Anggaran negara harus lebih banyak dialokasikan untuk:
Pendidikan.
Kesehatan.
Ketahanan pangan.
Ketahanan energi.
Penciptaan lapangan kerja.
4. Menyelamatkan UMKM sebagai Tulang Punggung Ekonomi
Saat krisis 1998 dan pandemi COVID-19, UMKM terbukti menjadi penyelamat ekonomi nasional.
Karena itu perlu:
Kredit murah
Dengan bunga rendah.
Pendampingan usaha
Melalui pelatihan manajemen dan pemasaran.
Digitalisasi UMKM
Agar mampu menjangkau pasar nasional dan global.
Kemudahan perizinan
Tanpa birokrasi yang berbelit.
Jika UMKM tumbuh, maka daya tahan ekonomi rakyat akan semakin kuat.
5. Membangun Ketahanan Pangan Nasional
Indonesia tidak boleh terus bergantung pada impor pangan.
Pemerintah perlu:
Melindungi lahan pertanian produktif.
Menjamin harga hasil panen petani.
Memperkuat irigasi nasional.
Mengembangkan teknologi pertanian modern.
Mengurangi ketergantungan impor pangan strategis.
Ketahanan pangan adalah fondasi ketahanan ekonomi dan ketahanan nasional.
—
6. Memperkuat Rupiah Melalui Kepercayaan Pasar
Nilai mata uang tidak hanya ditentukan oleh cadangan devisa.
Tetapi juga oleh kepercayaan.
Investor akan masuk jika melihat:
Kepastian hukum.
Stabilitas politik.
Pemerintahan yang bersih.
Kebijakan ekonomi yang konsisten.
Karena itu reformasi tata kelola pemerintahan menjadi sangat penting.
7. Pemberantasan Korupsi Secara Total
Tidak ada negara yang maju jika korupsi menjadi budaya.
Korupsi menyebabkan:
Kebocoran anggaran.
Biaya ekonomi tinggi.
Menurunnya kepercayaan investor.
Meningkatnya kemiskinan.
Pemberantasan korupsi harus dilakukan tanpa pandang bulu.
Baik terhadap pejabat eksekutif, legislatif, yudikatif maupun BUMN.
Korupsi adalah musuh utama pembangunan.
8. Membangun Industri Nasional yang Mandiri
Indonesia harus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Strateginya:
Mendorong industri dalam negeri.
Melindungi produk lokal yang kompetitif.
Memperkuat riset dan inovasi.
Membangun ekosistem teknologi nasional.
Negara yang kuat adalah negara yang mampu memproduksi kebutuhan strategisnya sendiri.
9. Membangun Kepercayaan Publik
Krisis ekonomi bukan hanya soal angka.
Krisis juga soal psikologi masyarakat.
Ketika rakyat kehilangan kepercayaan, maka:
Konsumsi turun.
Investasi menurun.
Aktivitas ekonomi melemah.
Karena itu pemerintah harus:
Transparan.
Jujur.
Terbuka terhadap kritik.
Melibatkan publik dalam pengambilan kebijakan.
Kepercayaan adalah modal sosial yang sangat mahal.
Penutup
Perang Israel–Iran, kenaikan harga minyak dunia, pelemahan rupiah, ketidakseimbangan ekspor-impor, serta tekanan fiskal merupakan kombinasi tantangan yang tidak ringan bagi Indonesia. Dampaknya dapat menjalar ke seluruh sektor kehidupan, mulai dari harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, tarif jasa, hingga peluang kerja masyarakat.
Namun ancaman terbesar sebenarnya bukanlah perang atau krisis global itu sendiri. Ancaman terbesar adalah jika Indonesia tidak melakukan pembenahan fundamental terhadap struktur ekonominya. Ketergantungan pada impor, lemahnya hilirisasi, tingginya korupsi, rendahnya produktivitas industri, serta belum optimalnya ketahanan pangan dan energi merupakan pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.
Krisis sering kali menjadi ujian sekaligus kesempatan. Negara-negara besar lahir bukan karena tidak pernah mengalami krisis, tetapi karena mampu belajar dan bertransformasi dari setiap krisis yang datang.
Jika Indonesia mampu membangun kemandirian energi, memperkuat ketahanan pangan, melakukan hilirisasi industri, memberantas korupsi, serta membangun tata kelola pemerintahan yang bersih dan profesional, maka badai ekonomi global saat ini justru dapat menjadi momentum lahirnya Indonesia yang lebih kuat, lebih mandiri, dan lebih berdaulat secara ekonomi.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kondisi dunia, tetapi oleh keberanian bangsa ini dalam melakukan perubahan besar demi kepentingan generasi yang akan datang.


