Google search engine
HomePolitikIroni Bangsa Besar Bermental Inferior

Ironi Bangsa Besar Bermental Inferior

Oleh: Firman Syah Ali

​Kemerdekaan paripurna bukan hanya pengibaran bendera merah putih di depan rumah penduduk setiap bulan Agustus, melainkan kebebasan pikiran seluruh anak bangsa dari cengkeraman mentalitas budak. Namun, ironi besar kerap melanda bangsa-bangsa besar di dunia, termasuk Indonesia, yaitu bangsa dengan kekayaan alam, sejarah peradaban, dan potensi masa depan luar biasa yang justru terjebak dalam mentalitas budak, merasa lebih rendah dari bangsa lain dan mendewakan segala hal yang datang dari luar.

Dalam sejarah dunia, kita harus menyaksikan bangsa-bangsa besar seperti Mesir, Suriah, Irak, Turkistan Raya dan India dijajah oleh bangsa eropa yang sebetulnya hanya pendatang baru dalam kepemimpinan peradaban dunia. Definisi India dalam konteks ini adalah termasuk Indonesia kuno. Sejarawan dunia menyebut nusantara sebagai India Timur atau India Belakang. Nama Indonesia sendiri secara etimologis berarti India Kepulauan.

​Memasuki era kemerdekaan bangsa-bangsa dari belenggu penjajahan eropa, yang disusul era modern dan globalisasi, mentalitas inferior/inlander/budak/ahwal tidak serta-merta hilang, melainkan bertransformasi.

Diantara hasil transformasi mental inlander inferior saat ini adalah berupa Eurosentrisme yang melanda banyak negara berkembang, terutama bekas jajahan eropa, di mana peradaban, etika, estetika, ilmu pengetahuan, historiografi, hingga gaya hidup diukur sepenuhnya berdasarkan standar Eropa dan Barat. Apa pun yang berbau Barat dianggap modern, maju, dan beradab, sementara yang berbau asli lokal dianggap kuno, terbelakang dan kampungan.

​Di kita, mentalitas ini termanifestasi dalam berbagai bentuk, seperti
​pemujaan berlebihan pada merek asing. Barang-barang buatan luar negeri selalu diidentikkan dengan gengsi dan kualitas tinggi, sementara produk domestik sering kali dipandang sebelah mata meskipun memiliki kualitas setara atau bahkan lebih baik.

​Keterjajahan psikologis yang akut membuat sebagian masyarakat dan pengambil kebijakan kerap bersikap tunduk pada kepentingan dan budaya asing. Ada rasa takut kehilangan validasi dari dunia luar, sehingga kebijakan di dalam negeri sering kali mengorbankan kepentingan nasional demi menyenangkan pihak luar.

Selain Eurosentrisme, muncul juga Tarimsentrisme. ​Fenomena Tarimsentrisme terjadi ketika ruang, tradisi, sejarah, nasab dan figur keagamaan yang berasal dari Kota Tarim di Hadhramaut, Yaman, ditempatkan di puncak piramida kesucian dan otoritas mutlak. Dalam mentalitas ini, segala bentuk praktik keislaman, busana, mazhab kesalehan, hingga tata cara sosial yang bersumber dari wilayah tersebut diromantisasi sedemikian rupa sebagai satu-satunya representasi Islam yang superior. Bahkan narasi Tarimsentris kebal terhadap koreksi ilmiah.

Akibatnya, terjadilah marginalisasi terhadap tradisi keagamaan lokal, seperti Islam Nusantara yang diwariskan oleh para Wali Songo, yang kerap dicap kurang murni, terlalu sinkretis, atau bahkan inferior dibandingkan model kesalehan Timur Tengah tertentu.
​Sejumlah pengamat sosiologi agama melihat tren ini sebagai bentuk kolonisasi mental baru. Alih-alih merdeka secara kultural setelah lepas dari bayang-bayang penjajahan Barat, sebagian masyarakat justru terjebak dalam bentuk keterjajahan baru secara spiritual.

Mendiang sejarawan terkemuka Prof. Azyumardi Azra dalam berbagai kajiannya tentang jaringan ulama global dan lokal sering kali menekankan pentingnya pribumisasi Islam. Azra menegaskan bahwa Islam di Nusantara sejak awal berkembang melalui proses akulturasi yang adaptif, damai, dan cerdas tanpa harus kehilangan akar keindonesiaannya. Ketika Tarim-sentrisme mendominasi tanpa kritik, yang lahir adalah alienasi kultural, umat tercerabut dari kearifan lokal bangsanya sendiri demi mengejar validitas spiritual dari luar.

​Kritik terhadap Tarimsentrisme tentu tidak berarti menolak rekam jejak historis atau kontribusi besar para ulama asal Timur Tengah yang secara historis memang memiliki andil strategis dalam islamisasi Asia Tenggara. Namun, masalah krusial muncul ketika kekaguman tersebut bermutasi menjadi reduksionisme dan purifikasi ekstrem yang merendahkan tradisi pribumi. Para sosiolog memandang bahwa mentalitas inferior jenis ini berbahaya karena melahirkan masyarakat yang kehilangan self-esteem atas kapasitas intelektual, budaya, dan spiritual bangsanya sendiri.

​Pada akhirnya, kedewasaan beragama dan berbangsa menuntut kita untuk keluar dari berbagai jebakan asingsentrisme yang membelenggu pikiran. Baik Eurosentrisme yang mendewakan modernitas Barat secara membabi buta, maupun Tarim-sentrisme yang mengesampingkan kearifan lokal demi mengagungkan satu titik geografis tertentu, adalah manifestasi dari kegagalan berdiri di atas kaki sendiri. Sudah saatnya kekayaan spiritual universal diserap secara proporsional dan kritis, tanpa harus mengerdilkan tradisi lokal yang terbukti telah lama merawat harmoni, toleransi, dan kedamaian di bumi Nusantara.

*) Penulis adalah Aktivis NU/Aktivis 98/Aktivis Nasab Walisongo/Aktivis Olahraga

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments