Oleh : Basa Alim Tualeka (Aalim)
Pendahuluan
Dalam kehidupan modern, banyak orang mengukur kebahagiaan dari besarnya harta, tingginya jabatan, banyaknya pengikut di media sosial, atau kemewahan yang dimiliki. Padahal, dalam pandangan Islam, ukuran kebahagiaan bukanlah apa yang dimiliki seseorang, melainkan sejauh mana ia dekat kepada Allah SWT, bersih dari dosa, mampu menunaikan amanah, dan terbebas dari tanggungan yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.
Karena itu, seorang Muslim yang diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bertaubat dari dosa, melunasi hutang, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta menyelesaikan berbagai amanah, sesungguhnya sedang memperoleh nikmat yang jauh lebih besar daripada orang yang hidup dalam kemewahan tetapi lalai mengingat Allah.
Dosa yang diampuni dan hutang yang terselesaikan adalah rahmat Allah yang luar biasa. Sebaliknya, kenikmatan dunia yang membuat seseorang lalai bersyukur dan lupa kepada Allah hanyalah kebahagiaan semu yang dapat menjadi penyesalan di akhirat.
1. Kehidupan Dunia Hanyalah Persinggahan
Allah SWT mengingatkan bahwa dunia bukan tujuan akhir manusia.
> “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, dan berlomba dalam harta serta anak-anak.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini mengajarkan bahwa seluruh kenikmatan dunia bersifat sementara. Rumah mewah akan ditinggalkan, jabatan akan berakhir, kekayaan akan diwariskan, dan tubuh yang sehat pun suatu saat akan kembali menjadi tanah.
Yang akan menemani manusia di alam kubur hanyalah iman, amal saleh, taubat yang diterima, serta tanggung jawab yang telah diselesaikan.
2. Dosa Bukan Akhir Kehidupan, Tetapi Awal Kembali kepada Allah
Islam adalah agama yang penuh kasih sayang. Allah SWT tidak pernah menutup pintu taubat bagi hamba-Nya yang ingin kembali.
Allah SWT berfirman:
> “Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
Rasulullah ï·º bersabda:
> “Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan bahwa manusia terbaik bukanlah manusia yang tidak pernah berdosa, melainkan manusia yang segera menyadari kesalahannya, memohon ampun kepada Allah, dan memperbaiki kehidupannya.
3. Taubat Adalah Nikmat yang Sangat Besar
Banyak orang meminta tambahan rezeki, tetapi sedikit yang meminta agar Allah menerima taubatnya.
Padahal, diterimanya taubat merupakan nikmat yang nilainya tidak dapat dibandingkan dengan seluruh kekayaan dunia.
Allah SWT berfirman:
> “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)
Taubat yang diterima akan menghapus dosa, membersihkan hati, menenangkan jiwa, serta membuka pintu keberkahan hidup.
4. Hutang Adalah Amanah yang Harus Diselesaikan
Dalam Islam, hutang bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi juga urusan akhirat.
Rasulullah ï·º bersabda:
> “Jiwa seorang mukmin tergantung karena hutangnya hingga hutang itu dilunasi.” (HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan betapa beratnya tanggung jawab hutang. Oleh karena itu, seseorang hendaknya segera melunasi hutangnya apabila telah memiliki kemampuan.
Melunasi hutang bukan hanya membebaskan diri dari kewajiban kepada manusia, tetapi juga menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
5. Bersyukur Atas Kesempatan Memperbaiki Diri
Tidak semua orang diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Ada orang yang meninggal sebelum sempat meminta maaf.
Ada yang meninggal sebelum melunasi hutangnya.
Ada yang meninggal sebelum sempat bertaubat.
Karena itu, apabila hari ini Allah masih memberi kita umur, kesehatan, rezeki, dan kesempatan memperbaiki diri, maka itulah nikmat yang luar biasa.
Allah SWT berfirman:
> “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
6. Jangan Tertipu oleh Kebahagiaan Semu
Tidak semua kenikmatan dunia merupakan tanda cinta Allah.
Kadang-kadang seseorang diberi kekayaan, jabatan, atau kemudahan sebagai ujian.
Allah SWT berfirman:
> “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak.” (QS. Al-Fajr: 15–17)
Ayat ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah banyaknya harta, tetapi ketakwaan kepada Allah.
7. Istidraj: Nikmat yang Menyesatkan
Para ulama menjelaskan adanya istidraj, yaitu ketika Allah membiarkan seseorang terus menikmati dunia, padahal ia semakin jauh dari jalan-Nya.
Allah SWT berfirman:
> “Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Hingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba.” (QS. Al-An’am: 44)
Karena itu, seorang mukmin tidak hanya bersyukur ketika memperoleh nikmat, tetapi juga selalu bermuhasabah agar nikmat tersebut tidak berubah menjadi istidraj.
8. Filosofi Kehidupan Seorang Mukmin
Seorang mukmin tidak menghitung berapa banyak harta yang dimiliki, tetapi menghitung berapa banyak dosa yang telah diampuni.
Ia tidak hanya menghitung berapa besar penghasilannya, tetapi juga menghitung berapa banyak hutang yang telah dilunasi.
Ia tidak mengejar pujian manusia, tetapi mengejar ridha Allah SWT.
Inilah filosofi kehidupan yang diajarkan Islam: hidup bukan untuk menjadi yang paling kaya, tetapi menjadi hamba yang paling bertakwa.
Allah SWT berfirman:
> “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
9. Pandangan Para Ulama
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika hati mengenal Allah, mencintai-Nya, dan selalu mengingat-Nya. Harta hanyalah alat, bukan tujuan.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menegaskan bahwa taubat adalah pintu menuju kehidupan yang tenang. Menurut beliau, tidak ada obat bagi hati yang lebih baik daripada kembali kepada Allah.
Ibnu Taimiyah berkata, “Di dunia ini ada surga. Barang siapa belum memasukinya, ia tidak akan merasakan surga di akhirat.” Yang dimaksud adalah ketenangan hati karena dekat dengan Allah SWT.
10. Muhasabah Sebelum Datangnya Kematian
Setiap Muslim hendaknya bertanya kepada dirinya sendiri:
Sudahkah saya bertaubat dengan sungguh-sungguh?
Sudahkah saya melunasi hutang jika telah mampu?
Sudahkah saya meminta maaf kepada orang yang pernah saya sakiti?
Sudahkah saya mensyukuri nikmat Allah?
Apakah harta saya menjadi jalan menuju surga atau justru menjadi sebab hisab yang berat?
Muhasabah seperti ini akan menjadikan hati lebih lembut, lebih ikhlas, dan lebih siap menghadapi kehidupan akhirat.
11. Amalan untuk Meraih Nikmat Hakiki
Agar memperoleh kebahagiaan sejati, seorang Muslim hendaknya:
1. Memperbanyak istighfar setiap hari.
2. Menjaga salat lima waktu dengan khusyuk.
3. Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an.
4. Melunasi hutang jika telah mampu.
5. Menunaikan seluruh amanah.
6. Memperbanyak sedekah.
7. Menjaga silaturahmi.
8. Memohon husnul khatimah kepada Allah SWT.
9. Membiasakan diri bersyukur dalam setiap keadaan.
10. Menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama kehidupan.
Penutup
Hakikat kebahagiaan bukanlah ketika seseorang memiliki segala yang diinginkannya, melainkan ketika Allah SWT masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri, menghapus dosa melalui taubat, melunasi hutang, menunaikan amanah, memperbanyak amal saleh, dan kembali kepada-Nya dengan hati yang bersih.
Lebih baik memiliki masa lalu yang penuh dosa tetapi diakhiri dengan taubat yang tulus, daripada memiliki kehidupan yang tampak bahagia namun dipenuhi kelalaian terhadap Allah SWT. Lebih baik bersusah payah melunasi hutang hingga hati menjadi tenang, daripada menikmati kemewahan dengan mengabaikan hak orang lain.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa bersyukur atas setiap nikmat, memudahkan kita untuk bertaubat dengan sebenar-benarnya, melunasi segala hutang dan amanah, menjaga hati dari tipu daya dunia, serta mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah dan mengumpulkan kita bersama orang-orang yang saleh di surga-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.


