Google search engine
HomePendidikanCegah Kebakaran EV di Kapal, Profesor ITS Teliti Desain Keselamatan Operasional

Cegah Kebakaran EV di Kapal, Profesor ITS Teliti Desain Keselamatan Operasional

Reporter: Ahmad Husein Al Qomary

SURABAYA-kanalsembilan.com (30 Juni 2026)

Industri maritim saat ini sedang menuju sistem yang lebih aman, andal, dan berkelanjutan. Menilik upaya tersebut, Guru Besar ke-243 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr Eng Ir Trika Pitana ST MSc IPU meneliti desain keselamatan operasional sistem pada kapal yang mengangkut electric vehicle (EV) atau kendaraan listrik.

Profesor dari Departemen Teknik Sistem Perkapalan (Siskal) ITS tersebut mengangkat salah satu masalah yang sedang terjadi di kawasan perairan internasional. Kebakaran pada kapal yang diakibatkan oleh muatan kapal yang membawa EV menjadi fokus riset Trika di bidang rekayasa keselamatan maritim. Berbeda dengan kapal yang mengangkut mobil biasa, kapal dengan muatan EV memiliki spesifikasi penanganan khusus ketika terjadi kebakaran pada EV.

Lelaki asal Blora ini menjelaskan bahwa kapal Roll-On Roll-Off (RORO) yang memuat mobil untuk penyeberangan saat ini tidak didesain khusus untuk menanggulangi risiko yang diakibatkan dari EV. Salah satu risiko yang muncul dari EV ketika di kapal adalah thermal runaway. Trika mengungkapkan bahwa penanganan kebakaran pada EV berbeda dengan mobil konvensional.

“Thermal runaway dapat disebabkan oleh overcharging, overheating, atau kerusakan fisik baterai,” ungkapnya.

Lebih lanjut, menurut Direktur Sumber Daya Manusia dan Organisasi (SDMO) ITS ini, thermal runaway yang terjadi dapat mengakibatkan thermal propagation yang kemudian bisa menyebabkan kebakaran yang tidak terkendali. Reaksi berantai tersebut dapat menghancurkan baterai dan membakar mobil.

Oleh karena itu, lanjut mantan Dekan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS tersebut, dibutuhkan ruang khusus di kapal untuk mengatasi risiko kebakaran baterai pada EV. “Saat ini saya sedang meneliti desain confined space pada kapal yang ditujukan untuk membawa EV,” papar lelaki kelahiran 29 Januari 1976 tersebut.

Pada confined space yang terintegrasi dengan sistem pemadam kebakaran, EV ditempatkan pada ruang khusus yang berguna agar asap kebakaran tidak menyebar. Ketika penyemprotan dilakukan secara berkelanjutan, temperatur dan laju panas yang dilepaskan mobil ikut turun dan mengurangi risiko kebakaran yang lebih parah.

Dengan melihat tren penggunaan EV yang semakin meningkat setiap tahun, Trika menekankan agar pemerintah sebagai pemangku kebijakan untuk lebih peduli terhadap risiko yang muncul dari EV. Hadirnya pemerintah diharapkan dapat menggodok regulasi untuk kebutuhan industri pelayaran, terutama pada kapal dengan muatan EV. “Mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan, pemerintah wajib memprioritaskan keselamatan di bidang maritim,” tutupnya penuh harap.

Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, industri, dan kalangan akademisi dalam merumuskan regulasi dan inovasi berbasis keselamatan. Hal tersebut dapat mendukung ITS dalam memenuhi ketercapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta poin ke-17 soal Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (ahm/za).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments