JAKARTA-kanalsembilan.com (22 Juli 2026)
Bank Indonesia (BI) menegaskan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global. Hal itu tercermin dari inflasi yang masih berada dalam sasaran, pertumbuhan kredit perbankan yang terus menguat, likuiditas yang memadai, hingga pesatnya transaksi ekonomi digital.
Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang diumumkan pada Selasa (22/7/2026), inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Juni 2026 tercatat sebesar 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 3,08 persen.
Kenaikan inflasi dipengaruhi oleh kelompok administered prices yang mencapai 3,42 persen (yoy) akibat penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan avtur seiring tingginya harga energi global. Sementara itu, inflasi volatile food tercatat 5,58 persen (yoy), terutama dipicu kenaikan harga bawang merah, bawang putih, dan beras akibat penurunan produksi, meningkatnya biaya transportasi, serta berakhirnya musim panen raya.
“Di sisi lain, inflasi inti tetap terjaga pada level 2,76 persen (yoy), didukung konsistensi kebijakan moneter Bank Indonesia,” ujar Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi (bi).
Mwnurutnya ke depan, BI bersama Pemerintah akan terus memperkuat koordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID) serta implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) untuk menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen pada 2026-2027, termasuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem seperti El Nino terhadap harga pangan.
Likuiditas Terjaga
Bank Indonesia juga terus memperkuat kecukupan likuiditas melalui berbagai instrumen moneter. Hingga 21 Juli 2026, BI telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp188,68 triliun, termasuk Rp76,62 triliun di pasar sekunder.
“Langkah tersebut mendorong pertumbuhan uang primer (M0) sebesar 14,1 persen (yoy) pada Juni 2026. Sementara itu, uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2026 tumbuh 10,8 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 9,2 persen,” kata Ramdan.
Insentif Likuiditas Capai Rp431,9 Triliun
Dalam mendukung pembiayaan sektor prioritas, BI terus mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Hingga pekan pertama Juli 2026, total insentif KLM mencapai Rp431,9 triliun.
Dana tersebut disalurkan melalui lending channel sebesar Rp369 triliun dan interest rate channel Rp62,9 triliun kepada berbagai kelompok bank, mulai dari bank BUMN, bank swasta nasional, BPD hingga kantor cabang bank asing.
Penyaluran insentif difokuskan pada sektor prioritas seperti pertanian, industri dan hilirisasi, jasa dan ekonomi kreatif, konstruksi, perumahan, serta UMKM dan pembiayaan berkelanjutan.
Pertumbuhan Kredit Meningkat
Kinerja intermediasi perbankan juga menunjukkan perbaikan. Pertumbuhan kredit pada Juni 2026 mencapai 12,67 persen (yoy), meningkat dibandingkan Mei yang sebesar 11,51 persen.
Peningkatan tersebut didorong oleh pertumbuhan kredit investasi sebesar 24,90 persen, kredit modal kerja 8,94 persen, dan kredit konsumsi 5,75 persen.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 berada pada kisaran 8-12 persen, didukung masih besarnya fasilitas kredit yang belum dimanfaatkan (undisbursed loan) sebesar Rp2.490 triliun, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 10,21 persen (yoy), serta suku bunga yang relatif stabil.
Pada Juni 2026, suku bunga deposito satu bulan tercatat 4,76 persen, sedangkan rata-rata suku bunga kredit berada di level 8,81 persen.
Ketahanan Perbankan Tetap Kuat
Stabilitas sistem perbankan juga tetap terjaga. Rasio kecukupan modal (CAR) pada Mei 2026 tercatat tinggi sebesar 23,74 persen, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) berada pada level rendah, yakni 2,17 persen (bruto) dan 0,84 persen (neto).
Likuiditas industri perbankan juga dinilai memadai dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 23,08 persen pada Juni 2026.
Hasil stress test BI menunjukkan perbankan nasional tetap memiliki ketahanan yang kuat dalam menghadapi berbagai risiko global, termasuk dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Transaksi Digital Tumbuh Pesat
Di sektor sistem pembayaran, transaksi ekonomi dan keuangan digital terus mencatat pertumbuhan tinggi.
Selama triwulan II 2026, volume transaksi pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi, atau tumbuh 36,88 persen (yoy).
Transaksi melalui internet meningkat 16,88 persen, aplikasi mobile tumbuh 31,39 persen, sedangkan transaksi QRIS melonjak hingga 100,12 persen (yoy) seiring bertambahnya jumlah pengguna dan merchant.
Sementara itu, layanan BI-FAST memproses 1,529 miliar transaksi senilai Rp3.777 triliun, tumbuh 38,09 persen (yoy). Adapun transaksi bernilai besar melalui BI-RTGS mencapai 2,63 juta transaksi dengan nilai Rp53.492 triliun, meningkat 12,66 persen (yoy).
Di sisi pengelolaan uang rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) pada triwulan II 2026 mencapai Rp1.315 triliun, atau tumbuh 14,03 persen (yoy).
Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas sistem pembayaran melalui penguatan infrastruktur, perluasan ekosistem ekonomi keuangan digital, serta memastikan ketersediaan uang rupiah yang cukup dan layak edar hingga ke wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T). (za).


