Google search engine
HomeAgamaMerindukan Seorang Pemimpin Yang Mencitai Rakyat

Merindukan Seorang Pemimpin Yang Mencitai Rakyat

August 28, 2026 admin

Oleh: Dr. KH. Fathur Rohman, M.Pd.l., Ketua Dewan Da’wah Jawa Timur dan Direktur PPIC eLKISI, Mojokerto

Dewandakwahjatim.com, Mojpkerto –

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan berbangsa, ada kerinduan yang sangat sederhana, tetapi terasa semakin mahal: kerinduan kepada seorang pemimpin yang benar-benar mencintai rakyatnya.

Bukan pemimpin yang hanya hadir ketika membutuhkan suara. Bukan pula pemimpin yang pandai mengumbar janji, tetapi setelah mendapatkan kekuasaan justru lupa kepada mereka yang dahulu memilihnya.

Rakyat membutuhkan pemimpin yang hatinya dekat dengan penderitaan rakyat, telinganya mau mendengar keluhan, matanya mampu melihat ketidakadilan, dan tangannya ringan membantu mereka yang lemah.

Rasulullah SAW memberikan gambaran indah tentang tanggung jawab kepemimpinan:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kepemimpinan dalam Islam bukanlah kesempatan untuk menikmati fasilitas dan kehormatan.

Kepemimpinan adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Kita merindukan pemimpin yang ketika rakyatnya lapar, ia merasa gelisah. Ketika rakyatnya kesulitan mendapatkan pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan tempat tinggal yang layak, ia tidak bisa tidur dengan tenang.

Ketika ada rakyat yang dizalimi, ia berdiri membela, bukan justru membela kepentingan kelompoknya.

Kita merindukan pemimpin yang sederhana dalam kehidupan, tetapi besar dalam pengabdian.

Yang tidak membangun kemewahan untuk dirinya sementara rakyat masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup.

Yang memahami bahwa kekuasaan bukan mahkota untuk dibanggakan, melainkan amanah untuk dilaksanakan.

Khalifah Umar bin Khattab RA pernah berkata:
“Seandainya seekor keledai tergelincir di jalan Irak, aku khawatir Allah akan meminta pertanggungjawabanku: mengapa aku tidak memperbaiki jalan itu?”

Itulah gambaran rasa takut seorang pemimpin yang memahami amanah.

Pemimpin yang mencintai rakyatnya tidak harus selalu berkata manis. Terkadang ia harus tegas, tetapi ketegasannya lahir dari kasih sayang. Ia membuat kebijakan bukan berdasarkan kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompok, melainkan berdasarkan kemaslahatan rakyat.

Sebab pada akhirnya, jabatan akan berakhir. Kekuasaan akan berpindah. Harta dan fasilitas akan ditinggalkan. Yang tersisa adalah amal dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Maka, mari kita terus berharap dan berdoa: semoga negeri ini dianugerahi pemimpin yang jujur, amanah, adil, sederhana, berani membela yang lemah, dan mencintai rakyatnya dengan cinta yang nyata.

Karena rakyat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang berkuasa.
Rakyat membutuhkan pemimpin yang peduli.

Dan lebih dari itu, rakyat merindukan pemimpin yang ketika memandang rakyatnya, ia teringat kepada Allah dan takut akan pertanggungjawaban di hadapan-Nya. (Fathur Rohman)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments