SURABAYA-kanalsembilan.com (29 Oktober 2026)
Sukses menyelenggarakan konferensi internasional untuk kali ke-11, International Conference on Marine Technology atau dikenal dengan nama SENTA 2026 kali ini mengusung tema Maritime Technology: For Sustainable Ocean Development yang dilaksanakan di Ruang BG Munaf, Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Kamis (29/10). Konferensi tahunan ini menunjukkan komitmen ITS dalam pengembangan dunia maritim global.
Dekan FTK ITS Dr Ing Ir Setyo Nugroho menegaskan pentingnya peran sains, teknologi, dan inovasi dalam menjawab tantangan di sektor maritim. Dalam sambutannya, ia menyebutkan bahwa sektor maritim sebagai penghubung dunia sekaligus tulang punggung perdagangan global.
Terlebih lagi, Indonesia sebagai negara kepulauan yang menjadikan sektor maritim sebagai nadi perekonomian nasional masih dihadapkan pada beberapa tantangan.
Lebih lanjut, menurut dosen yang akrab disapa Yoyok tersebut, sektor maritim saat ini dihadapkan dengan tantangan keselamatan, perlindungan lingkungan, efisiensi energi, transformasi digital, dan tuntutan global. Oleh karena itu, Yoyok mengungkapkan bahwa keberlanjutan harus berjalan beriringan dengan keselamatan operasi, produktivitas, dan penggunaan sumber daya yang bertanggung jawab.
“Untuk itu, perguruan tinggi memperkuat kolaborasi lintas disiplin agar riset berujung pada inovasi praktis,” paparnya.
Selaras dengan hal tersebut, Ketua Pelaksana SENTA 2026 Prof Dr Eng Muhammad Zikra ST MSc mengungkapkan bahwa diperlukan pendekatan terpadu yang menyeimbangkan kemajuan teknologi, perlindungan lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.
Melalui SENTA 2026, para peneliti, akademisi, profesional industri, dan pembuat kebijakan saling bertukar pengetahuan, menentang ide, dan mencari solusi bagi tantangan maritim yang muncul.
Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya sebanyak 74 abstrak dan 54 makalah ilmiah lengkap yang diterima dari peserta yang berasal dari Indonesia, Amerika Serikat, India, Jerman, dan Malaysia. Partisipasi ini mencerminkan minat dalam penelitian kolaboratif dan pertukaran pengetahuan lintas negara.
“Bagi negara maritim seperti Indonesia, pembangunan laut berkelanjutan bergantung pada bukti ilmiah, kolaborasi lintas disiplin, dan visi jangka panjang,” ujar Zikra.
Salah satu pembicara utama, Mayor Jenderal TNI Dr Ir Susilo Adi Purwantoro SE MEngSc CIQnR CIQaR IPU CIPA ASEAN Eng, memaparkan tentang program perlindungan pesisir utara Jawa.
Program yang dijalankan oleh Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) tersebut bertujuan untuk mengoordinaasikan persiapan pembangunan, dan pengembangan wilayah pantai utara Jawa. Salah satu pengembangan infrastruktur yang sedang dilakukan adalah pembangunan tanggul laut raksasa.
Menurut Susilo, kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah menjadikan program ini sangat mendesak bagi penduduk pesisir. Hal tersebut dapat memperparah banjir rob yang mengancam transportasi, permukiman, pertanian, hingga aset strategis nasional. Oleh karena itu, perlindungan pesisir merupakan bagian dari ketahanan nasional yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi maritim.
“Proyek ini membutuhkan kolaborasi pemerintah, peneliti, dan masyarakat,” ujarnya mengingatkan.
Seminar internasional yang dihadiri oleh para pakar dari sektor maritim ini menegaskan kontribusi ITS terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Utamanya pada poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas. Tak hanya itu, konferensi ini juga mendukung tercapainya dua tujuan dalam SDGs yang mencakup ekosistem laut dan darat, yakni poin ke-14 dan 15 masing-masing tentang Menjaga Ekosistem Laut serta Menjaga Ekosistem Darat. (za).


