Google search engine
HomeTausiyahSalafi Adalah Kamuflase Wahabi, Wahabi Adalah Kamuflase Zionis Yahudi

Salafi Adalah Kamuflase Wahabi, Wahabi Adalah Kamuflase Zionis Yahudi

Salafi adalah kamuflase Wahabi, Wahabi adalah kamuflase ideologi Zionis Yahudi, melumpuhkan Islam dari dalam, hanya diterima oleh yang ber-Islam emosional, tanpa mikir.
(kesimpulan dari beberapa literature)

Salafi Adalah Kamuflase Wahabi, Wahabi Adalah Kamuflase Zionis Yahudi
Palestina dicecar dan Israel dibela, itulah kelakuan ustadz2 Salafi Wahabi.
Ziarah kubur dikafirkan namun kuburan Ibnu Taimiyah mereka sembah, itulah kelakuan dedengkot Wahabi.
Maulid Nabi diharamkan tapi Bin Baz mereka rayakan maulidnya, itulah Wahabi.
Dan yang terkini, ulama2 Indonesia seluruhnya dianggap menyimpang namun mereka bungkam dengan penyimpangan rezim Ibnu Saud di Arab Saudi.
Tragis dan ironi, bukan?

Penyimpangan dan kesesatan Wahabi sebenarnya sudah terang-benderang.
Namun, karena kelicikan mereka di satu sisi dan keawaman umat Muslim di sisi lainnya, masih banyak yang tertipu dengan Wahabi dan rela menjadi pengikutnya.
Mereka, misalnya, mengubah isi banyak kitab Aswaja, memanipulasi nama2 Imam mazhab, sekaligus diam2 menjadi antek2 Inggris, Amerika, hingga Israel. Ironis.

Sementara itu, di media sosial, orang2 Salafi Wahabi selalu mengaku paling benar, paling dekat dengan Al-Qur’an, bahkan dengan penuh hinaan menyebut orang2 diluar kelompoknya sebagai Khawaridj “Jahiliyah”—suatu cemoohan yang meresahkan.
Apa yang Salafi Wahabi lakukan mirip dengan yang Nabi Saw. nubuatkan: mereka merasa dekat dengan Al-Qur’an namun sikap dan perilakunya lebih barbar dari setan.

Ironi Salafi Wahabi yang paling menunjukkan penyimpangan mereka adalah standar gandanya melihat penyimpangan.
Ada orang ziarah kubur, tahlil, dan istigasah dikafirkan.
Namun, ketika di Arab Saudi menggelar festival fashion yang dipenuhi perempuan hanya memakai bikini dan tanktop, Wahabi diam dan mempersilakannya.
Salafi Wahabi melempem terhadap Arab Saudi yang sponsornya semakin ke sini semakin sekuler.

Apakah semua itu perlu diherankan?
Tentu saja tidak.
Sejak awal, Salafi Wahabi memang berisi musuh2 Islam yang menyamar untuk mengancurkan Islam dari dalam.
Dalam tubuh Salafi Wahabi itu sebenarnya tidak lain adalah tertanam ide2 zionis.

Zionisme di tubuh Salafi Wahabi.
Menurut Mehmet Hasan Bulut (2021), Wahabi yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan wujud protestantisme Islam. Dalam doktrin Wahabi, menghargai warisan Nabi SAW, adalah syirik dan menyimpang.
Mereka yang melakukan hal2 tersebut dianggap kafir oleh Wahabi.

Muhammad bin Abdul Wahhab juga menganggap Al-Qur’an tidak bersifat Ilahi.
Ia juga tidak percaya bahwa Muhammad adalah seorang Nabi—dan menganggapnya ulama besar belaka.
Dalam laporan kepada Napoleon Bonaparte saat berada di Mesir, disebutkan bahwa Muhammad bin Abd al-Wahhab adalah seorang Yesuit Prancis yang pindah agama lalu menetap di Najd dengan satu tujuan: membangun kerajaan di Arab.

Wahabi pun mulai melakukan pembantaian sesama Muslim pada masa pemerintahan Abdulaziz bin Muhammad al-Saud.
Sang putra, Saud bin Abdulaziz al-Saud, juga menghancurkan kuburan—mencegah umat Islam melaksanakan ziarah. Gubernur Turki Utsmani waktu itu, Muhammad Ali Pasha, kemudian mengirim putranya untuk menghadapi Wahabi atas perintah Sultan Mahmud II.

Lalu, mana anasir zionisme dalam Wahabi?.
Ini menarik.
Kerajaan Inggris telah mengikuti gerakan Wahabi sejak awal. Gerakan Wahabi adalah sekutu potensial Inggris melawan Turki Utsmani yang notabene Sunni.
Menurut Bulut (2021), mata2 Inggris Jesuit Gifford Palgrave, Wilfrid S. Blunt, dan petugas British East India Company Lewis Pelly dari British Royal Geographical Society berhasil menjalin komunikasi dengan Saudi dan menandatangani perjanjian aliansi.

Setelah Turki Utsmani runtuh, Inggris bahkan mempersiapkan keluarga Al-Saud untuk berkuasa di Arab Saudi sebagaimana rencana membuat Zionis Israel berkuasa di Palestina.
Ibnu Saud yang merebut Makkah dan Madinah dari Turki Utsmani atas dukungan Inggris pun diproklamasikan sebagai Raja Arab Saudi pada 1926.
John Philby, agen intelijen Inggris yang ditunjuk menjadi penasihat keluarga Ibnu Saud pun memainkan perannya.

The New York Times pada 1929 melaporkan, Philby dan rezim Ibnu Saud berkompromi dengan zionisme: mengokupasi Palestina untuk Israel.
Selain itu, Philby sebagai penasihat Raja Abdul Aziz juga dihargai atas jasanya dalam perang dengan melayani sebagai perantara dengan perusahaan minyak dan mobil Amerika.
Ia menjadi sosok kunci koalisi Arab Saudi dengan Inggris, Amerika, serta Zionis Israel.

Namun demikian, Zionisme di tubuh Wahabi tidak hanya menyasar kepentingan politik Saudi, melainkan doktrin keber-Islaman Wahabi itu sendiri.
Maka tidak heran jika ajaran Wahabi berusaha menentang ulama yang sahih, yang kredibel, melalui tuduhan2 yang radikal.
Ulama Al-Azhar dikafirkan semua, keturunan Nabi dilabeli Syiah, ulama Indonesia dianggap pelaku syubhat, dan lainnya.

Milenial dalam incaran Wahabisasi, dengan topeng Salafi.
Artikel berjudul “The Zionists and St. John Philby” karya Susan Hattis Rolef sangat direkomendasikan untuk dibaca, jika ingin memahami sepak terjang keluarga Ibnu Saud dalam menghancurkan Islam melalui Wahabi.
Belakangan, Wahabi juga dijadikan agenda global Saudi untuk menancapkan pengaruhnya di satu sisi dan menyusupkan spirit Zionisme ke seluruh umat Islam di sisi lainnya.

Untuk tujuan itu, proyek Wahabisasi dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif.
Terstruktur maksudnya mapan secara doktrin maupun pendanaan dari rezim Ibnu Saud, sementara sistematis yang dimaksud ialah langkahnya yang detail—seperti mengubah Taurat agar identitas Zionisme tidak diketahui masyarakat, juga agar masyarakat mau menjadi bagian dari penganut Salafi Wahabisme.

Sistematis yang dimaksud di situ kaitannya dengan “dusta sistemik” yang Wahabi lakukan. Zionisme berkamuflase menjadi Wahabi, dan setelah Wahabi ditolak ia berkamuflase lagi menjadi Salafi.
Hari ini, ketika seseorang hendak melawan Wahabi, maka Wahabi akan berdalih begini: “Saya manhaj salaf.
Saya ikut Al-Qur’an”. bahkan tanpa malu menyebut “Saya Salafi bukan Wahabi”. Sistematis sekali kamuflase mereka?.

Adapun masif yang dimaksud ialah gerilyanya yang melingkupi berbagai aspek.
Wahabi punya lembaga amal, lembaga pendidikan, bahkan infiltrasinya di mana2.
Di Blok M Square, sebagai contoh, Wahabi menyasar generasi muda Indonesia melalui kajian rutin di Masjid Nurul Iman.
Banyak pemuda/di2 Islam datang ke sana dan dicekoki ajaran Wahabi secara rutin, masif, dan berkelanjutan.

Apa dampaknya bagi generasi milenial?
Banyak sekali.
Salafi Wahabi berhasil membuat Muslim Indonesia jadi beringas, benci sesama Muslim dan barbar dalam urusan mencaci-maki siapa pun yang berbeda.
Perhatikan komentar2 mereka yang otaknya telah teracuni Salafi Wahabi berikut.
Satu kata: menakutkan.
Maka, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali tegas untuk memberantas Salafi Wahabi tunggangan Yahudi hingga musnah.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments