Google search engine
HomeTausiyahKhalid bin Ma’dan yang Kali Pertama Menghidupkan Malam Nisfu Sya'ban

Khalid bin Ma’dan yang Kali Pertama Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban

Nisfu Syaban, yang jatuh pada pertengahan bulan Syaban (15 Syaban), pada tahun ini bertepatan dengan tanggal 14 Februari 2025. Sementara itu, malam Nisfu Syaban dimulai pada tanggal 13 Februari setelah waktu Maghrib. Malam ini dianggap istimewa bagi umat Islam dan penuh dengan keutamaan. Namun, tahukah Anda mengapa Nisfu Syaban dianggap sebagai malam yang spesial? Apa asal-usul, sejarah, dan siapa yang mencetuskan malam ini?

Nisfu Syaban sering disebut sebagai “malam pengampunan dosa,” “malam berdoa,” dan “malam pembebasan.” Malam ini sering diperingati dengan beribadah sepanjang malam, berzikir, membaca Al-Qur’an, berselawat, dan melakukan muhasabah diri

Ibnu Rajab, seorang ulama terkenal dari Mazhab Al-Hanabilah, dalam kitabnya Lathaif Al-Ma’arif fima li Mawasim Al-Aam min Al-Wadha’if, menyebutkan bahwa tradisi menghidupkan malam Nisfu Syaban pertama kali diperkenalkan oleh Syaikh Khalid bin Ma’dan bin Abi Karb al-Kila’iy dari Syam (wafat: 104 Hijrah). Beliau adalah seorang ulama tabi’in yang terkenal dengan ibadahnya yang sangat mendalam.

Nama Khalid bin Ma’dan tercatat dalam daftar ulama hadis dan dikenal sebagai seorang yang tsiqah serta ahli ibadah yang wara’. Meski lahir di Yaman, beliau lama tinggal di Hamsh, Syam, dan wafat di sana.

Dalam kitab al-A’lam (2/299), Imam Al-Zirikli menuliskan cerita dari Ibnu Asakir yang menceritakan bahwa Khalid bin Ma’dan adalah seorang yang sangat rajin bertasbih. Bahkan saat beliau sedang sekarat, tangannya masih bergerak seakan sedang bertasbih.

Tradisi yang dimulai oleh Khalid bin Ma’dan ini kemudian diikuti oleh ulama Syam lainnya, seperti Makhul dan Luqman bin ‘Amir. Kebiasaan ini pun menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam, dengan masyarakat dari berbagai wilayah mengikuti tradisi menghidupkan malam Nisfu Syaban.

Perihal keutamaan malam Nisfu Sya’ban dijelaskan Asy-Syaikh As-Sayyid Abu Al-Fadhl Abdullah bin Muhammad bin Ash-Siddiq Al-Ghumari Asy-Syadziliyyah (wafat 1993 M di Maroko) dalam risalahnya berjudul “Kitab Husnul Bayan fi Lailatin Nishfi min Syaban”.

Risalah ini disarikan dari beberapa kitab-kitab besar terkait. Seperti kitab Al-Idhah karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (1503 M, Mesir – 1566 M, Jannatul Mualla Mekkah), kitab Maa Ja’a fi Syahri Sya’ban karya Al-Hafidh Abul Khattab Dihyah Al-Andalusi (wafat 1207 M Maroko) dan kitab Fi Lailatin Nishfi karya Imam Ali Al-Ajhuri Al-Maliki Al-Mishri (wafat 1655 M di Mesir)

Menurut Syekh Abdullah Al-Ghumari, keutamaan malam Nisfu Syaban ini, sebenarnya sudah populer sejak dulu, terutama era generasi tabi’in. Saat malam itu tiba, orang-orang akan menghidupkan malam dengan beribadah, memanjatkan doa dan membaca zikir-zikir.

Hadis Sandaran

Peneliti Rumah Fiqih Indonesia, Ustaz Ahmad Zarkasih Lc, menjelaskan bahwa memang ada hadis yang menyebutkan kemuliaan malam Nisfu Syaban. Hadis-hadis tentang kemuliaan malam Nisfu Syaban inilah yang menjadi dasar bagi mereka yang membudayakan dan membiasakan untuk menghidupkan malam tersebut dengan berbagai amalan ibadah, meskipun tidak semua hadis tersebut shahih.

Artinya, ada hadis-hadis yang shahih, namun ada juga yang dhaif (lemah) dan bahkan maudhu’ (palsu). Meskipun begitu, di antara hadis-hadis yang lemah dan palsu tersebut, terdapat satu hadis yang telah diterima oleh sebagian besar ulama sebagai hadis shahih.

Hadis yang dianggap shahih dan menjadi sandaran amalan ini diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’ab al-Iman: Nabi SAW bersabda: “Allah SWT melihat kepada hamba-Nya di malam Nisfu Sya’ban, Allah SWT mengampuni dosa semua makhlukNya kecuali orang musyrik dan orang yang sedang berseteru (dengan saudaranya)”. (HR al-Baihaqi).

Syekh al-Albani menshahihkan hadis ini dalam kitabnya al-Silsilah al-Ahadits al-Shahihah. Beliau menjelaskan tentang shahihnya hadis ini beserta seluruh jalurnya dalam 4 halaman kitabnya di jilid ke 3. Beliau mengatakan:”Hadis shahih, diriwayatkan oleh jumlah banyak dari para sahabat, dari berbagai jalur sanad yang saling menguatkan satu sama lain.”. (hajinews.co.id).

Wallahu A’lam

 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments