Google search engine
HomeAgamaAda Orang yang Mengaku Cucu Nabi Muhammad SAW. Dia Tidak Punya Bukti...

Ada Orang yang Mengaku Cucu Nabi Muhammad SAW. Dia Tidak Punya Bukti yang Kuat Atas Pengakuannya Tersebut

Hasil Bahtsul Masail
DPW Majelis Ulama Nasionalis Indonesia
JAWA TIMUR

DESKRIPSI MASALAH.
Ada orang yang mengaku cucu Nabi Muhammad SAW. Dia tidak punya bukti yang kuat atas pengakuannya tersebut. Dan sebaliknya, justru ada orang lain yang memperlihatkan bukti klo dia bukan cucu Nabi. Sedangkan saya masih percaya terhadap pengakuannya karena kyai saya yang menyuruh untuk percaya.

PERTANYAAN.
1. Bagaimana hukum saya yang tetap percaya pengakuan nasab tersebut karena disuruh kyai, padahal buktinya lemah dan ada tanda sebaliknya?
2. Bagaimana hukum kyai saya yang menyuruh untuk percaya?

JAWABAN.
A. Hukum Mengaku Nasab Mulia Tanpa Bukti.
Haram dan termasuk dosa besar jika dia tahu itu dusta atau tanpa bayyinah syar’iyyah. Nasab tidak tetap dengan sekadar pengakuan. Harus dengan : dokumen silsilah muttashil, kesaksian ahli nasab terpercaya, atau syuhrah wal istifadhah di kalangan ulama.

B. Hukum Kamu yang Taqlid ke Kyai.
Taqlid kepada ulama itu boleh dalam hal zhanniyat, tapi haram jika jelas bertentangan dengan dalil atau realita. Setelah ada tanda kuat bahwa pengakuan itu bohong, wajib tabayyun dan berhenti mempercayainya. Terus membela dusta = ikut berdosa.

C. Hukum Kyai yang Menyuruh Percaya.
1. Jika kyai tahu buktinya lemah/tanda dustanya ada, tapi tetap menyuruh percaya: kyai berdosa karena idhlal.
2. Jika kyai juga tertipu dan ijtihadnya salah: dimaafkan, tapi wajib ralat setelah tahu kebenaran.

Metode Kaidah Fikih :
لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
Artinya: Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.

HUKUM PENGAKU NASAB CUCU NABI.

1. : Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj, Pengarang: Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i, Jilid 10 Hal. 225, Penerbit: Darul Fikr
وَحَرُمَ انْتِسَابُ الْإِنْسَانِ إلَى غَيْرِ أَبِيهِ
Artinya: Haram seseorang menisbatkan diri kepada selain ayahnya.

2. : Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, Pengarang: Syamsuddin ar-Ramli asy-Syafi’i, Jilid 8 Hal. 16, Penerbit: Darul Fikr
مَنْ ادَّعَى إلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ فَقَدْ كَفَرَ
Artinya: Barangsiapa mengaku kepada selain ayahnya padahal ia tahu, maka ia telah kufur nikmat.

3. : Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Syarhi Ibn Qasim al-Ghazzi, Pengarang: Ibrahim al-Bajuri asy-Syafi’i, Jilid 2 Hal. 322, Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah
وَمِنْ الْكَبَائِرِ انْتِسَابُهُ لِغَيْرِ أَبِيهِ
Artinya: Termasuk dosa-dosa besar adalah menisbatkan diri kepada selain ayahnya.

4. : Fathul Mu’in bi Syarhi Qurrotil ‘Ain, Pengarang: Zainuddin al-Malibari asy-Syafi’i, Hal. 131, Penerbit: al-Haramain
وَمِنْ الْكَبَائِرِ انْتِسَابُهُ لِغَيْرِ أَبِيهِ أَوْ لِغَيْرِ مَوَالِيهِ
Artinya: Termasuk dosa besar adalah menisbatkan diri kepada selain ayahnya atau selain walinya.

5. : al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Pengarang: Imam an-Nawawi asy-Syafi’i, Jilid 20 Hal. 141, Penerbit: Darul Fikr
لَا يَثْبُتُ النَّسَبُ إلَّا بِبَيِّنَةٍ أَوْ إقْرَارٍ مِمَّنْ يَلْحَقُهُ النَّسَبُ
Artinya: Nasab tidak bisa ditetapkan kecuali dengan bukti atau pengakuan dari orang yang nasabnya disandarkan kepadanya.

6. : Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhil Minhaj, Pengarang: al-Khatib asy-Syirbini asy-Syafi’i, Jilid 4 Hal. 420, Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah
وَيَحْرُمُ انْتِسَابُ الْإِنْسَانِ إلَى غَيْرِ أَبِيهِ
Artinya: Haram seseorang menisbatkan diri kepada selain ayahnya.

7. : Hasyiyah al-Jamal ‘ala Syarhil Manhaj, Pengarang: Sulaiman al-Jamal asy-Syafi’i, Jilid 5 Hal. 165, Penerbit: Darul Fikr
وَيَجِبُ الْإِنْكَارُ عَلَى مَنْ ادَّعَى الشَّرَفَ كَاذِبًا
Artinya: Wajib mengingkari orang yang mengaku sebagai syarif secara dusta.

8. : I’anatut Thalibin, Pengarang: Abu Bakar ad-Dimyathi asy-Syafi’i, Jilid 3 Hal. 306, Penerbit: Darul Fikr
وَمِنْ الْكَبَائِرِ ادِّعَاءُ النَّسَبِ إلَى غَيْرِ أَبِيهِ
Artinya: Termasuk dosa besar adalah mengaku nasab kepada selain ayahnya.

9. : Hasyiyah ad-Dasuqi ‘ala asy-Syarhil Kabir, Pengarang: Muhammad ad-Dasuqi al-Maliki, Jilid 4 Hal. 98, Penerbit: Darul Fikr
وَمَنْ ادَّعَى أَنَّهُ شَرِيفٌ وَلَا بَيِّنَةَ لَهُ عُزِّرَ
Artinya: Barangsiapa mengaku bahwa dirinya syarif dan ia tidak punya bukti, maka ia dita’zir.

10. : Mawahib al-Jalil li Syarhi Mukhtashar Khalil, Pengarang: al-Hathab al-Maliki, Jilid 6 Hal. 86, Penerbit: Darul Fikr
لَا يَثْبُتُ النَّسَبُ بِمُجَرَّدِ الدَّعْوَى
Artinya: Nasab tidak bisa ditetapkan hanya dengan sekadar klaim.

11. : al-Fawakih ad-Dawani ‘ala Risalah Ibn Abi Zaid al-Qairawani, Pengarang: Ahmad an-Nafrawi al-Maliki, Jilid 2 Hal. 297, Penerbit: Darul Fikr
وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَخْذُ الْخُمُسِ بِدَعْوَى النَّسَبِ مِنْ غَيْرِ بَيِّنَةٍ
Artinya: Tidak halal baginya mengambil bagian khumus dengan klaim nasab tanpa bukti.

12. : Syarh Mukhtashar Khalil, Pengarang: al-Khurasyi al-Maliki, Jilid 7 Hal. 143, Penerbit: Darul Fikr
وَلَا يَقْبَلُ الْقَاضِي دَعْوَى النَّسَبِ بِلَا بَيِّنَةٍ
Artinya: Hakim tidak boleh menerima klaim nasab tanpa bukti.

13. : Hasyiyah ash-Shawi ‘ala asy-Syarhis Shaghir, Pengarang: Ahmad ash-Shawi al-Maliki, Jilid 4 Hal. 504, Penerbit: Darul Ma’arif
وَمُدَّعِي الشَّرَفِ بِلَا بَيِّنَةٍ يُؤَدَّبُ
Artinya: Orang yang mengaku syarif tanpa bukti harus dihukum.

14. : Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, Raddul Muhtar ‘ala ad-Durril Mukhtar, Pengarang: Ibnu ‘Abidin al-Hanafi, Jilid 3 Hal. 512, Penerbit: Darul Fikr
وَمُدَّعِي النَّسَبِ بِغَيْرِ حَقٍّ يُعَزَّرُ تَعْزِيرًا بَلِيغًا لِإِفْسَادِهِ الْأَنْسَابَ
Artinya: Orang yang mengaku nasab tanpa hak dita’zir dengan hukuman berat karena ia merusak garis keturunan.

15. : al-Bahrur Ra`iq Syarhu Kanzid Daqa`iq, Pengarang: Ibnu Nujaim al-Hanafi, Jilid 5 Hal. 45, Penerbit: Darul Kitab al-Islami
وَمِنْ أَكْلِ الْمَالِ بِالْبَاطِلِ ادِّعَاءُ النَّسَبِ الشَّرِيفِ لِأَخْذِ الْمَالِ
Artinya: Termasuk memakan harta dengan batil adalah mengaku nasab mulia untuk mengambil harta.

16. : ad-Durrul Mukhtar Syarhu Tanwiril Abshar, Pengarang: al-Haskafi al-Hanafi, Jilid 3 Hal. 512, Penerbit: Darul Fikr
وَمُدَّعِي النَّسَبِ كَاذِبًا فَاسِقٌ مَرْدُودُ الشَّهَادَةِ
Artinya: Orang yang mengaku nasab secara dusta adalah fasik dan kesaksiannya ditolak.

17. : al-Fatawa al-Hindiyyah, Pengarang: Jama’ah min ‘Ulama al-Hind al-Hanafiyyah, Jilid 2 Hal. 150, Penerbit: Darul Fikr
وَلَا يُقْبَلُ قَوْلُ مُدَّعِي النَّسَبِ إلَّا بِبَيِّنَةٍ
Artinya: Tidak diterima ucapan orang yang mengaku nasab kecuali dengan bukti.

18. : al-Mughni, Pengarang: Ibnu Qudamah al-Maqdisi al-Hanbali, Jilid 8 Hal. 125, Penerbit: Maktabah al-Qahirah
وَلَا يَثْبُتُ النَّسَبُ بِالشَّهَادَةِ عَلَى السَّمَاعِ إلَّا إذَا اسْتَفَاضَ
Artinya: Nasab tidak tetap dengan kesaksian berdasarkan kabar dengar kecuali jika sudah tersebar luas.

19. : Kasysyaful Qina’ ‘an Matnil Iqna’, Pengarang: Manshur al-Buhuti al-Hanbali, Jilid 6 Hal. 425, Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah
وَيَحْرُمُ أَخْذُ مَا يَخْتَصُّ بِالشُّرَفَاءِ بِدَعْوَى كَاذِبَةٍ
Artinya: Haram mengambil sesuatu yang khusus bagi para syarif dengan pengakuan dusta.

20. : Mathalib Ulin Nuha fi Syarhi Ghayatil Muntaha, Pengarang: Musthafa ar-Ruhaibani al-Hanbali, Jilid 6 Hal. 290, Penerbit: al-Maktab al-Islami
وَيُعَزَّرُ مَنْ انْتَسَبَ إلَى أَهْلِ الْبَيْتِ بَاطِلًا
Artinya: Dita’zir orang yang menisbatkan diri kepada Ahlul Bait secara batil.

21. : al-Inshaf fi Ma’rifatir Rajih minal Khilaf, Pengarang: al-Mardawi al-Hanbali, Jilid 9 Hal. 147, Penerbit: Dar Ihya at-Turats
لَا يَثْبُتُ النَّسَبُ بِالدَّعْوَى الْمُجَرَّدَةِ
Artinya: Nasab tidak tetap dengan klaim yang kosong.

22. : al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, Pengarang: Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i, Jilid 4 Hal. 264, Penerbit: al-Maktabah al-Islamiyyah
وَمَنْ تَظَاهَرَ بِأَنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ كَاذِبًا فَلِلْحَاكِمِ مَنْعُهُ وَتَأْدِيبُهُ
Artinya: Barangsiapa menampakkan diri sebagai Ahlul Bait secara dusta, maka hakim berhak melarang dan menghukumnya.

23. : al-Iqna’ fi Halli Alfazhi Abi Syuja’, Pengarang: al-Khatib asy-Syirbini asy-Syafi’i, Jilid 2 Hal. 469, Penerbit: Darul Fikr
وَمِنْ الْكَذِبِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ادِّعَاءُ النَّسَبِ إلَيْهِ بَاطِلًا
Artinya: Termasuk dusta atas Nabi SAW adalah mengaku nasab kepada beliau secara batil.

24. : az-Zawajir ‘an Iqtirafil Kaba`ir, Pengarang: Ibnu Hajar al-Haitami, Jilid 2 Hal. 91, Penerbit: Darul Fikr
الْكَبِيرَةُ السَّادِسَةُ وَالْأَرْبَعُونَ بَعْدَ الْمِائَةِ: انْتِسَابُ الْإِنْسَانِ إلَى غَيْرِ أَبِيهِ
Artinya: Dosa besar ke-146: seseorang menisbatkan diri kepada selain ayahnya.

25. : Asnal Mathalib Syarhu Raudhit Thalib, Pengarang: Zakariyya al-Anshari asy-Syafi’i, Jilid 3 Hal. 235, Penerbit: Darul Kitab al-Islami
وَيَحْرُمُ ادِّعَاءُ النَّسَبِ لِغَيْرِ أَبِيهِ
Artinya: Haram mengaku nasab kepada selain ayahnya.

26. : Hasyiyah asy-Syirwani ‘ala Tuhfatil Muhtaj, Pengarang: Abdul Hamid asy-Syirwani asy-Syafi’i, Jilid 10 Hal. 225
وَلَا يَثْبُتُ النَّسَبُ الشَّرِيفُ إلَّا بِمُسْتَنَدٍ صَحِيحٍ
Artinya: Nasab mulia tidak tetap kecuali dengan sandaran yang sahih.

27. : Tabshiratul Hukkam, Pengarang: Ibnu Farhun al-Maliki, Jilid 2 Hal. 156, Penerbit: Maktabah al-Kulliyyat al-Azhariyyah
وَلَا يُحْكَمُ بِالنَّسَبِ بِمُجَرَّدِ الدَّعْوَى
Artinya: Tidak boleh memutuskan nasab hanya dengan sekadar klaim.

28. : al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Pengarang: Wizaratul Auqaf al-Kuwaitiyyah, Jilid 4 Hal. 241
اِدِّعَاءُ النَّسَبِ بِغَيْرِ حَقٍّ مِنْ الْكَبَائِرِ
Artinya: Mengaku nasab tanpa hak termasuk dosa-dosa besar.

29. : al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Pengarang: Wahbah az-Zuhaili, Jilid 8 Hal. 401, Penerbit: Darul Fikr
وَيَحْرُمُ شَرْعًا ادِّعَاءُ النَّسَبِ لِآلِ الْبَيْتِ كَذِبًا
Artinya: Haram secara syariat mengaku nasab kepada Aalul Bait secara dusta.

30. : al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imamis Syafi’i, Pengarang: Abu Ishaq asy-Syirazi asy-Syafi’i, Jilid 2 Hal. 339, Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah
وَلَا يَثْبُتُ النَّسَبُ إلَّا بِإِقْرَارِ الْأَبِ أَوْ بِبَيِّنَةٍ
Artinya: Nasab tidak tetap kecuali dengan pengakuan ayah atau dengan bukti.

#2. DALIL KITAB FIKIH TERKAIT HUKUM TAQLID BUTA & IKUT KYAI DALAM KESALAHAN

1. : al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Pengarang: Imam an-Nawawi asy-Syafi’i, Jilid 1 Hal. 91, Penerbit: Darul Fikr
لَا يَجُوزُ تَقْلِيدُ مَنْ لَا يُعْرَفُ عِلْمُهُ
Artinya: Tidak boleh taqlid kepada orang yang tidak diketahui ilmunya.

2. : Tuhfatul Muhtaj, Pengarang: Ibnu Hajar al-Haitami, Jilid 10 Hal. 109*
وَيَسْقُطُ التَّقْلِيدُ بِعِلْمِ الْمُقَلِّدِ خَطَأَ مُقَلَّدِهِ
Artinya: Taqlid gugur ketika muqallid mengetahui kesalahan orang yang diikutinya.

3. : Nihayatul Muhtaj, Pengarang: ar-Ramli, Jilid 8 Hal. 287*
وَيَجِبُ عَلَيْهِ الرُّجُوعُ عَنْ تَقْلِيدِهِ إذَا بَانَ لَهُ خَطَؤُهُ
Artinya: Wajib baginya rujuk dari taqlidnya jika jelas baginya kesalahan orang itu.

4. : Fathul Mu’in, Pengarang: Zainuddin al-Malibari, Hal. 138
لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
Artinya: Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.

5. : Hasyiyah al-Bajuri, Pengarang: Ibrahim al-Bajuri, Jilid 2 Hal. 279
وَيَحْرُمُ التَّقْلِيدُ فِي الْقَطْعِيَّاتِ
Artinya: Haram taqlid dalam masalah-masalah yang sudah pasti hukumnya.

6. : I’anatut Thalibin, Pengarang: Abu Bakar ad-Dimyathi, Jilid 4 Hal. 219
فَإِنْ عَلِمَ الْعَامِّيُّ خَطَأَ مُفْتِيهِ وَجَبَ عَلَيْهِ تَرْكُهُ
Artinya: Jika orang awam tahu kesalahan muftinya, wajib baginya meninggalkan pendapat mufti itu.

7. : Mughnil Muhtaj, Pengarang: al-Khatib asy-Syirbini, Jilid 4 Hal. 420
وَإِنَّمَا يَجُوزُ التَّقْلِيدُ فِي الظَّنِّيَّاتِ لَا فِي الْقَطْعِيَّاتِ
Artinya: Taqlid hanya boleh dalam masalah zhanni, bukan dalam masalah qath’i.

8. : Adab al-Fatwa wal Mufti wal Mustafti, Pengarang: Imam an-Nawawi, Hal. 62, Penerbit: Darul Fikr
وَيَجِبُ عَلَى الْمُفْتِي إذَا تَبَيَّنَ لَهُ خَطَؤُهُ أَنْ يَرْجِعَ عَنْهُ وَيُعْلِمَ بِهِ
Artinya: Wajib bagi mufti jika jelas kesalahannya untuk rujuk dan memberitahukannya.

9. : Raudhatut Thalibin, Pengarang: Imam an-Nawawi, Jilid 11 Hal. 120, Penerbit: al-Maktab al-Islami
وَلَا يَجُوزُ تَقْلِيدُ مَنْ خَالَفَ الْإِجْمَاعَ
Artinya: Tidak boleh taqlid kepada orang yang menyelisihi ijma’.

10. : al-Ahkam as-Sulthaniyyah, Pengarang: al-Mawardi asy-Syafi’i, Hal. 31, Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah
لَا طَاعَةَ لِأَحَدٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ
Artinya: Tidak ada ketaatan kepada siapa pun dalam maksiat kepada Allah.

11. : Hasyiyah ad-Dasuqi ‘ala asy-Syarhil Kabir, Pengarang: Muhammad ad-Dasuqi al-Maliki, Jilid 4 Hal. 28
وَيَحْرُمُ التَّقْلِيدُ مَعَ ظُهُورِ الدَّلِيلِ عَلَى خِلَافِ قَوْلِ مُقَلَّدِهِ
Artinya: Haram taqlid ketika sudah jelas dalil yang menyelisihi ucapan orang yang diikutinya.

12. : asy-Syarhul Kabir, Pengarang: ad-Dardir al-Maliki, Jilid 4 Hal. 354
وَيَجِبُ التَّثَبُّتُ فِي الْأَخْبَارِ قَبْلَ اعْتِقَادِهَا
Artinya: Wajib memastikan kebenaran berita sebelum meyakininya.

13. : Mawahib al-Jalil, Pengarang: al-Hathab al-Maliki, Jilid 1 Hal. 35
وَعَلَى الْعَامِّيِّ أَنْ يَسْأَلَ عَنْ الدَّلِيلِ إذَا عَرَضَتْ لَهُ شُبْهَةٌ
Artinya: Wajib bagi orang awam bertanya tentang dalil jika muncul keraguan padanya.

14. : adz-Dzakhirah, Pengarang: al-Qarafi al-Maliki, Jilid 1 Hal. 146, Penerbit: Darul Gharb al-Islami
وَلَا يُقَلَّدُ مَنْ ظَهَرَ خَطَؤُهُ
Artinya: Tidak boleh ditaqlid orang yang sudah jelas kesalahannya.

15. : Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, Pengarang: Ibnu ‘Abidin al-Hanafi, Jilid 1 Hal. 152
الْعَامِّيُّ لَا مَذْهَبَ لَهُ وَمَذْهَبُهُ مَذْهَبُ مُفْتِيهِ إلَّا إذَا تَبَيَّنَ لَهُ الرَّاجِحُ
Artinya: Orang awam tidak punya mazhab, mazhabnya adalah mazhab muftinya, kecuali jika jelas baginya pendapat yang lebih kuat.

16. : al-Bahrur Ra`iq, Pengarang: Ibnu Nujaim al-Hanafi, Jilid 6 Hal. 289
وَيَبْطُلُ التَّقْلِيدُ إذَا خَالَفَ نَصًّا صَرِيحًا
Artinya: Taqlid batal jika menyelisihi nash yang jelas.

17. : ad-Durrul Mukhtar, Pengarang: al-Haskafi al-Hanafi, Jilid 1 Hal. 154
وَيَحْرُمُ تَقْلِيدُ غَيْرِ الْمُجْتَهِدِ
Artinya: Haram taqlid kepada selain mujtahid.

18. : al-Mughni, Pengarang: Ibnu Qudamah al-Hanbali, Jilid 10 Hal. 95
وَلَا يَجُوزُ التَّقْلِيدُ فِيمَا حَرَّمَهُ الشَّرْعُ
Artinya: Tidak boleh taqlid dalam hal yang diharamkan oleh syariat.

19. : Kasysyaful Qina’, Pengarang: al-Buhuti al-Hanbali, Jilid 6 Hal. 313
وَيَجِبُ رَدُّ الْفَتْوَى إذَا تَبَيَّنَ خَطَؤُهَا وَلَوْ مِنْ مُجْتَهِدٍ
Artinya: Wajib menolak fatwa jika jelas kesalahannya, meskipun dari seorang mujtahid.

20. : al-Inshaf, Pengarang: al-Mardawi al-Hanbali, Jilid 11 Hal. 200
وَلَا يَجُوزُ تَقْلِيدُ مَنْ عُلِمَ خَطَؤُهُ
Artinya: Tidak boleh taqlid kepada orang yang sudah diketahui kesalahannya.

21. : Ghayatul Bayan Syarhu Zubad Ibn Ruslan, Pengarang: Syamsuddin ar-Ramli, Hal. 322, Penerbit: Darul Ma’rifah
وَيَحْرُمُ تَقْلِيدُ مَنْ إذَا عُلِمَ خَطَؤُهُ
Artinya: Haram taqlid kepada orang yang sudah diketahui kesalahannya.

22. : Tanwirul Qulub fi Mu’amalati ‘Allamil Ghuyub, Pengarang: Syaikh Amin al-Kurdi asy-Syafi’i, Hal. 518, Penerbit: Darul Fikr
وَإِنْ رَأَى مِنْ شَيْخِهِ مَا يُخَالِفُ الشَّرْعَ فَلَا يُتَابِعُهُ
Artinya: Jika ia melihat dari gurunya sesuatu yang menyelisihi syariat, maka jangan mengikutinya.

23 :al-Fiqh al-Manhaji, Pengarang: Mushthafa al-Khin wa Mushthafa al-Bugha, Jilid 1 Hal. 16, Penerbit: Darul Qalam
وَيَحْرُمُ التَّقْلِيدُ الْأَعْمَى الَّذِي لَا يَسْتَنِدُ إلَى دَلِيلٍ
Artinya: Haram taqlid buta yang tidak bersandar kepada dalil.

24. : al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Jilid 13 Hal. 260
لَا يَجُوزُ تَقْلِيدُ الْمَيِّتِ إذَا تَبَيَّنَ خَطَؤُهُ
Artinya: Tidak boleh taqlid kepada pendapat yang sudah jelas kesalahannya.

25. : Syarhul Waraqat, Pengarang: al-Mahalli asy-Syafi’i, Hal. 315, Penerbit: Darul Kutub al-Ilmiyyah
وَالتَّقْلِيدُ قَبُولُ قَوْلِ الْغَيْرِ بِلَا حُجَّةٍ وَهُوَ جَائِزٌ لِلْعَامِّيِّ مَا لَمْ يَتَبَيَّنْ خِلَافُهُ
Taqlid adalah menerima ucapan orang lain tanpa hujjah, dan itu boleh bagi orang awam selama belum jelas kekeliruannya.

26. Hasyiyah al-‘Aththar ‘ala Syarhil Mahalli ‘ala Jam’il Jawami’, Pengarang: Hasan al-‘Aththar, Jilid 2 Hal. 403
وَيَجِبُ عَلَى الْعَامِّيِّ الْبَحْثُ عَنْ الْأَعْلَمِ إذَا اخْتَلَفُوا
Wajib bagi orang awam mencari yang paling alim jika para ulama berbeda pendapat.

27. : al-Adab asy-Syar’iyyah, Pengarang: Ibnu Muflih al-Hanbali, Jilid 2 Hal. 116, Penerbit: ‘Alamul Kutub
وَلَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ
Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah.

28. : Ihya` ‘Ulumiddin, Pengarang: Imam al-Ghazali, Jilid 1 Hal. 38, Penerbit: Darul Ma’rifah
وَالْمُقَلِّدُ يَجِبُ عَلَيْهِ تَرْكُ تَقْلِيدِهِ إذَا ظَهَرَ لَهُ الدَّلِيلُ
Orang yang taqlid wajib meninggalkan taqlidnya jika sudah jelas dalil baginya.

29. : Tafsir al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, Pengarang: Imam al-Qurthubi, Jilid 1 Hal. 359, Penerbit: Darul Kutub al-Mishriyyah
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ… أَيْ أَطَاعُوهُمْ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ
“Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah…” yaitu mereka taat kepada para ulama itu dalam maksiat kepada Allah.

30. : al-I’tisham, Pengarang: Imam asy-Syathibi al-Maliki, Jilid 2 Hal. 347, Penerbit: Dar Ibn ‘Affan
وَكُلُّ مَنْ أَطَاعَ مَخْلُوقًا فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ فَقَدْ أَشْرَكَ بِهِ
Setiap orang yang taat kepada makhluk dalam maksiat kepada Sang Pencipta, maka ia telah menyekutukan-Nya.
________
Bojonegoro, 15 Juni 2026.
DPW MUNI JATIM

(gwa-uzc).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments