🌐 https://bbg-alilmu.com/archives/72405
🌴🌴🌴
Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan bagaimana seharusnya seorang muslim menjaga kata-katanya. Beliau rohimahullah berkata,
Menjaganya, berarti :
– tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat,
– tidak berbicara melainkan dengan sesuatu yang ia harapkan keuntungan dan faedah darinya.
Jika ia hendak berkata-kata, ia amati :
– apakah kata-kata itu ada manfaat dan faedahnya atau tidak..? Jika tidak, maka hendaknya ia menahannya.
Jika ia mendapati ada manfaatnya, ia amati lagi :
– apakah ada kata-kata yang lebih memberi keuntungan dari yang akan dikatakannya..? Maka hendaklah ia tidak melewatkannya.
(Ad Daa wa Ad Dawaa’ hal. 225)
🌴🌴🌴
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
“Sungguh ada seorang hamba berbicara dengan satu kata yang mengundang keridhaan Allah, meskipun dia tidak terlalu memperhatikannya; namun dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkan beberapa derajatnya. Dan sungguh ada seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang mengundang kemurkaan Allah, sementara dia tidak memperhatikannya; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam”. (HR Bukhari 6478).
Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan makna “dia tidak memperhatikannya”, artinya,
لا يتأملها بخاطره ولا يتفكر في عاقبتها ولا يظن أنها تؤثر شيئا
Dia tidak merenungkan bahayanya, tidak memikirkan dampaknya, dan tidak pernah menyangka bahwa itu bisa memberikan pengaruh sama sekali. (Fathul Bari, 11/311)
Ini semakna dengan firman Allah,
وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ
Kalian menyangka itu perkara remeh, padahal itu perkara besar di sisi Allah. (QS. an-Nur: 15)
Dari Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah. Dan siapa yang tetangganya tidak merasa aman dari tindak kejahatannya, maka dia tidak akan masuk surga.” (HR. HR Ahmad 12636)
Rutinkan doa ini…
اَللَّهُمَّ نَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الحَقِّ فِي الرِضَا وَالغَضَبِ
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kalimat haq ketika ridha (sedang senang) dan sedang marah
[Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalatnya HR. An-Nasa’i, no. 1305, dan Ahmad, no. 18351, dari sahabat Ammar bin Yasir. Al-Kalim At-Tayyib, no. 106, shahih Jami’ As-Shaghir no. 3039].
(gwa-majelis-ilmu-3).


