Google search engine
HomeSejarahAyem Tentrem : Mengalirkan Hidup Sesuai Titah Ilahi

Ayem Tentrem : Mengalirkan Hidup Sesuai Titah Ilahi

LiR HANDOYO PASEBAN JATI

Ayem Tentrem : Mengalirkan Hidup Sesuai Titah Ilahi

Belajar Memaknai Kehidupan dari Wejangan Abah Manyar

Oleh: Moh. Sila Basuki

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Di zaman yang ditandai oleh kecepatan, persaingan, dan obsesi terhadap pencapaian, manusia semakin mudah mengukur keberhasilan dengan angka. Besar kecilnya penghasilan, tinggi rendahnya jabatan, banyak sedikitnya pengikut di media sosial, hingga luas sempitnya pengaruh, seolah menjadi standar baru untuk menilai kualitas hidup seseorang.

Ironisnya, di balik berbagai pencapaian itu, kita justru menyaksikan meningkatnya kecemasan, depresi, kelelahan mental, dan rapuhnya hubungan antarmanusia. Dunia menawarkan semakin banyak kemudahan, tetapi tidak selalu menghadirkan ketenangan. Kita menjadi kaya informasi, namun miskin kontemplasi ; semakin terhubung secara digital, tetapi sering merasa asing terhadap diri sendiri.

Di tengah realitas itulah saya teringat pada sebuah pitutur Jawa yang berulang kali disampaikan almarhum Dr. K.H. Tjuk Soehirman Djamal, S.H., M.S., yang akrab disapa Abah Manyar, apa yang beliau sebut :
“LiR HANDOYO PASEBAN JATI.” Beliau memaknainya sebagai “Mengalirkan hidup sesuai Titah Ilahi.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan filsafat hidup yang sangat dalam. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak perlu hidup dalam ketegangan karena ingin mengendalikan segala sesuatu. Tugas manusia adalah berikhtiar dengan sungguh-sungguh, menjaga akhlak, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

Dari beliau pula saya belajar bahwa ayem tentrem bukanlah tujuan hidup, melainkan cara menjalani hidup.

Perbedaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar.

Apabila ketenteraman dianggap sebagai tujuan, ia seolah berada jauh di depan sana—sesuatu yang baru akan dirasakan setelah seseorang kaya, sukses, terkenal, atau pensiun. Padahal, tidak sedikit orang yang telah memiliki semua itu, tetapi tetap gelisah, sulit tidur, mudah marah, bahkan kehilangan arah hidup.

Sebaliknya, ketika ayem tentrem dipahami sebagai sikap hidup, ia dapat dipraktikkan mulai hari ini. Ia hadir dalam pikiran yang jernih, ucapan yang santun, tindakan yang adil, dan hati yang menerima setiap ketentuan Allah dengan penuh keikhlasan.

Orang yang hidup dalam ayem tentrem tetap bekerja keras, tetap memiliki cita-cita besar, dan tetap berprestasi. Namun, ia tidak menjadikan dunia sebagai pusat kehidupannya. Dunia hanyalah ladang amal, sedangkan tujuan akhirnya adalah ridha Allah SWT.

Al-Qur’an memberikan fondasi yang sangat kokoh mengenai ketenteraman tersebut.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat itu mengajarkan bahwa ketenangan tidak lahir dari banyaknya harta, melainkan dari kedekatan hati kepada Allah. Karena itu, orang yang hidup sederhana dapat merasakan kebahagiaan yang tidak dimiliki oleh mereka yang bergelimang kemewahan.

Rasulullah SAW memperkuat prinsip tersebut melalui sabdanya:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh nikmat, ia bersyukur; jika ditimpa musibah, ia bersabar.”
(HR. Muslim)

Syukur dan sabar adalah dua pilar yang menjaga hati tetap teduh dalam setiap keadaan.

Selama lebih dari dua puluh tahun saya mengenal Abah Manyar, saya menyaksikan bahwa beliau tidak hanya mengajarkan nilai-nilai tersebut, tetapi juga menghidupinya. Sebagai dosen, advokat, pembimbing, dan sahabat, beliau selalu hadir untuk membantu siapa pun tanpa memandang latar belakang sosial ataupun kemampuan ekonomi. Baginya, ilmu bukan alat untuk meninggikan diri, melainkan amanah yang harus memberi manfaat bagi orang lain.

Rumah beliau di kawasan Manyar, Surabaya, nyaris tak pernah sepi dari tamu. Ada yang datang meminta pendampingan hukum, ada yang berkonsultasi tentang pendidikan, keluarga, pekerjaan, hingga persoalan-persoalan spiritual yang mereka yakini tak mampu dijelaskan semata-mata oleh logika. Beliau menerima mereka dengan kesabaran, mendengarkan tanpa menghakimi, lalu mengarahkan agar setiap persoalan dikembalikan kepada Allah sebagai sumber pertolongan yang hakiki.

Saya tidak mengatakan bahwa hidup beliau bebas dari ujian. Justru sebaliknya, beliau memahami bahwa kehidupan adalah rangkaian ujian. Namun, dari sikap beliau saya belajar bahwa ujian bukanlah alasan untuk kehilangan ketenangan.

Allah SWT berfirman :

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini meneguhkan keyakinan bahwa tidak ada cobaan yang diberikan tanpa hikmah dan tanpa kemampuan untuk menjalaninya.

Dalam pandangan saya, pesan LiR HANDOYO PASEBAN JATI menjadi semakin relevan bagi masyarakat Indonesia hari ini. Di tengah tekanan ekonomi, kompetisi kerja, konflik sosial, dan derasnya arus informasi, kita membutuhkan lebih banyak manusia yang ayem tentrem: tenang dalam berpikir, santun dalam berbicara, bijaksana dalam bertindak, dan teguh dalam memegang nilai-nilai ilahiah.

Indonesia memerlukan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan emosional. Sebab, bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kecerdasan, melainkan juga oleh karakter.

Kini Abah Manyar telah berpulang ke rahmatullah. Namun, saya percaya, seorang guru sejati tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup melalui ilmu yang diajarkan, keteladanan yang diwariskan, dan nilai-nilai yang terus diamalkan oleh murid-muridnya.

Bagi saya, LiR HANDOYO PASEBAN JATI bukan sekadar ungkapan dalam khazanah budaya Jawa. Ia adalah filosofi kehidupan yang mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal, antara kerja keras dan keikhlasan, antara kecerdasan akal dan kejernihan hati.

Pada akhirnya, keberhasilan hidup bukanlah ketika manusia memperoleh tepuk tangan dunia, melainkan ketika Allah SWT memanggilnya dengan panggilan paling mulia:

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27–30)

Semoga pitutur LiR HANDOYO PASEBAN JATI terus mengalir dari generasi ke generasi, menjadi pengingat bahwa kehidupan yang paling indah bukanlah kehidupan yang paling mewah, melainkan kehidupan yang dijalani dengan hati yang ayem tentrem, senantiasa berada di jalan Allah SWT.

Sidoarjo, 29 Juli 2026

Moh. Sila Basuki

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments