Oleh: Badrul Munir, Neurologis di Malang
Mengapa saat berbuka puasa, kita merasakan kenikmatan yang begitu tinggi saat menyantap hidangan?
Salah satu penyebab utamanya adalah peran *sistem saraf sensorik* yang terlibat dalam proses pengecapan dan penciuman. Allah SWT telah menganugerahkan *indra pengecap* (gustatory system) yang terletak di lidah, yang dilengkapi dengan *reseptor rasa* (taste buds) yang terhubung ke otak melalui *saraf kranial* seperti saraf fasialis (N. VII) dan saraf glosofaringeal (N. IX).
Para ahli saraf (neurolog) menjelaskan bahwa terdapat jutaan *sel reseptor rasa* di lidah manusia, yang masing-masing memiliki spesialisasi untuk mendeteksi rasa tertentu. Setiap sel reseptor ini dirancang untuk mengenali ratusan variasi rasa, seperti manis, asam, asin, pahit, dan umami.
Di lidah, terdapat *peta sensorik* yang menunjukkan lokasi spesifik untuk setiap rasa. Misalnya, rasa manis lebih dominan terdeteksi di bagian depan lidah, sementara rasa pahit lebih kuat di bagian belakang. Menariknya, area untuk rasa manis memiliki distribusi yang paling luas di seluruh permukaan lidah. Hal ini menjelaskan mengapa *makanan manis seperti kurma* dianjurkan saat berbuka puasa, selain karena cepat diubah menjadi energi melalui metabolisme glukosa, juga karena memberikan stimulasi sensorik yang menyenangkan bagi sistem saraf.
Selain indra pengecap, *indra pembau (olfactory system)* juga berperan penting dalam meningkatkan kenikmatan berbuka. Saraf olfaktorius (N. I) yang terletak di rongga hidung memiliki jutaan sel reseptor yang sensitif terhadap berbagai jenis bau. Bahkan, manusia masih memiliki banyak sel pembau yang belum sepenuhnya dimanfaatkan, menunjukkan betapa kompleksnya sistem ini.
Kedua sistem ini—*gustatory dan olfactory—bekerja sinergis untuk mengirimkan **impuls saraf* ke otak, khususnya ke area *korteks serebral* yang bertanggung jawab untuk memproses sensasi rasa dan bau. Pada saat berbuka puasa, tubuh berada dalam kondisi *hipoglikemia* (kadar glukosa darah rendah), yang memicu *hipotalamus* untuk mengirimkan sinyal lapar dan haus. Sinyal ini diperkuat oleh *neurotransmitter* seperti ghrelin, yang meningkatkan nafsu makan.
Ketika makanan pertama kali masuk ke mulut, *stimulasi sensorik* yang intens ini menyebabkan pelepasan *dopamin* di otak, yang menciptakan perasaan nikmat dan kepuasan. Namun, setelah beberapa suap, tubuh mulai mengalami *mekanisme umpan balik (feedback mechanism). Hipotalamus menerima sinyal dari lambung yang mulai terisi, dan **reseptor rasa* di lidah serta *reseptor bau* di hidung mulai mengurangi intensitas sinyalnya. Hal ini ditandai dengan penurunan sensasi kenikmatan dan munculnya rasa kenyang.
Pada titik ini, sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW, sebaiknya kita , menghentikan aktivitas makan untuk menghindari overeating dan menjaga keseimbangan tubuh.
Selamat berbuka puasa sesuai sunnah!
*) Penulis adalah seorang neurologis yang praktik di Malang.
(gwa-dkbl).


