SURABAYA-kanalsembilan.com (9 Mei 2026)
Bagi investor pemula, ada dua pilihan berinvestasi, yaitu saham atau Exchange Traded Fund (ETF). Harganya juga sama-sama murah. Ini untuk memperluas pemahaman publik terhadap produk investasi selain saham dan reksa dana.
Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jatim Cita Mellisa, mengatakan ETF merupakan instrumen investasi dengan risiko yang lebih terukur karena berisi kumpulan aset dalam satu produk investasi. Instrumen ini dinilai cocok bagi investor pemula yang ingin mulai berinvestasi di pasar modal tanpa harus memantau pergerakan harga setiap saat.
“ETF pada dasarnya hampir sama dengan reksa dana, tetapi diperdagangkan di bursa layaknya saham. Instrumen ini cocok untuk beginner atau investor pemula,” ujar Cita saat workshop bersama media di Surabaya, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, ETF menawarkan diversifikasi investasi sehingga risiko tidak hanya bertumpu pada satu emiten. Selain itu, ETF juga lebih transparan karena umumnya mereplikasi indeks tertentu dan dapat dipantau secara terbuka oleh investor.
Cita menambahkan, ETF banyak digunakan sebagai instrumen investasi jangka panjang, termasuk untuk persiapan dana pensiun maupun perencanaan keuangan masa depan.
Berbeda dengan saham yang merepresentasikan kepemilikan pada suatu perusahaan dan berpotensi memberikan dividen maupun capital gain, ETF menggabungkan sejumlah aset dalam satu produk sehingga pergerakannya cenderung lebih stabil.
Meski memiliki berbagai keunggulan, popularitas ETF di Indonesia masih tergolong rendah. Minimnya literasi dan edukasi disebut menjadi salah satu penyebab instrumen ini belum banyak diminati investor domestik.
Branch Manager Indo Premier Sekuritas, Marco Rijkaard Pereira, menjelaskan ETF sebenarnya telah diperdagangkan di Indonesia sejak 2007, meskipun secara global produk tersebut pertama kali diperkenalkan pada 1976.
“ETF dan reksa dana pada dasarnya hampir sama. Perbedaannya terletak pada mekanisme transaksi. ETF diperdagangkan seperti saham di bursa, sedangkan reksa dana dibeli melalui manajer investasi,” jelas Marco.
Ia menambahkan, ETF memiliki keunggulan dari sisi transparansi portofolio karena investor dapat melihat komposisi aset secara terbuka. Selain itu, ETF dinilai lebih praktis karena tetap mengikuti jam perdagangan bursa namun tidak memerlukan pemantauan intensif setiap waktu.
Secara umum, ETF terbagi menjadi dua jenis, yakni ETF aktif dan ETF pasif. ETF aktif dikelola dengan menyesuaikan kondisi pasar, sedangkan ETF pasif mengikuti indeks tertentu.
“Kebanyakan investor di Indonesia masih memilih ETF pasif karena dianggap lebih stabil dan sederhana,” katanya.
Melalui edukasi dan sosialisasi yang terus dilakukan, BEI berharap masyarakat, khususnya generasi muda, semakin memahami beragam instrumen investasi pasar modal dan mampu memilih produk investasi sesuai profil risiko serta tujuan keuangan masing-masing. (za).


