Fadhalah bin Ubaid رضي اللّٰه عنه berkata :
“Sungguh seandainya aku mengetahui bahwasanya Allah telah menerima dari (amalan)ku meskipun hanya seukuran biji sawi, maka hal itu lebih aku cintai dibandingkan dunia & apa yang ada di dalamnya” (Lathaa-iful Ma’arif hal 246)
Abdullah bin ‘Aun رحمه الله berkata :
لا تثق بكثرة العمل، فإنك لا تدري أيقبل منك أم لا، ولا تأمن ذنوبك فإنك لا تدري هل كفرت عنك أم لا؛ لأن عملك مغيَّبٌ عنك كله لا تدري ما الله صانع به
“Janganlah engkau itu percaya diri pada banyaknya amal, karena sesungguhnya engkau tdk mengetahui apakah amalmu diterima atau tdk. Dan janganlah engkau merasa aman dari dosa-dosamu, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui apakah dosa2mu dihapuskan (diampuni) atau tidak. Dikarenakan semua amalmu itu tidak diketahui olehmu. Engkau tidak mengetahui apa yang akan Allah perbuat dengannya” (Rasaa-il Ibnu Rajab IV/440)
Sahl at-Tustari رحمه الله berkata :
الدنيا كلها جَهل إِلا العلمَ فيها، وَالعِلم كله وبال إِلّا العَملَ به، وَالعمَل كله هَباء منثُور إِلّا الإخلَاصَ فيه، والإخلاص فِيهِ أَنْتَ مِنْهُ عَلَى وَجل حتّى تعلم هَل قُبِلَ أم لا
“Dunia itu semuanya kebodohan kecuali “ilmu di dalamnya”, & ilmu itu semuanya kerusakan kecuali yang “diamalkan”, dan amal seluruhnya debu yang beterbangan kecuali yang “ikhlas pada (niat)nya”, dan keikhlasan pada amal itu adalah engkau (senantiasa) “merasa khawatir” terhadap amalmu itu sampai engkau mengetahui (dengan pasti) apakah amalmu diterima atau tidak” (Hilyatul Auliyaa’ X/194)
Saudaraku, janganlah engkau tertipu dgn amal2 yang dilakukan, karena semuanya itu masih misteri. Hakikatnya kita belum mengetahui apakah amal itu telah pasti akan diterima oleh Allah atau tidak. Lalu bagaimana mungkin seseorang itu akan ‘ujub dan sombong akan amalnya itu..!!!
✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar
(gwa-saudara-muslim-2).


