(1). Ibnu Mas’ud رضي الله عنه ditanya :
“Siapakah seorang yang mati (di antara orang-orang yang) hidup ?” Lalu dia pun menjawab : “Seseorang yang tidak tahu perkara yang baik dan tidak mengingkari kemungkaran” (Al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah VII/504 & Hilyatul Auliya’ 1/375)
(2). Imam Ibnul Jauzi رحمه الله berkata :
“Bukanlah orang yg telah mati itu orang yang ruhnya keluar dari tubuhnya, tetapi orang yang telah mati adalah orang yang tidak memahami apa hak-hak Rabbnya terhadap dirinya” (At-Tadzkirah hal 18)
(3). Imam as-Safaarini رحمه الله berkata :
إِذَا رَأَيْت إنْسَانًا لا يبالي بما أصابه في دينه : مِنْ ارْتِكَابِ الذُّنُوبِ وَالْخَطَايَا وَفَوَاتِ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَأَوْقَاتِ الطَّاعَاتِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ مَيِّتٌ لَا يُحِسُّ بِأَلَمِ الْمُصِيبَةِ
“Apabila engkau telah melihat seseorang yang tidak lagi memperdulikan apa yang menimpanya dalam perkara agamanya, dgn melakukan berbagai macam dosa2 serta kesalahan, dan juga tertinggal dari shalat Jum’at, shalat berjama’ah dan dari waktu2 ibadah, maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang MAYYIT (seseorang yang telah mati), dia itu tidak merasakan pedihnya tertimpa musibah” (Ghudzaa-ul Albaab II/334)
✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar
(gwa-saudara-muslim2).


