SUABAYAkanalsembilan.com (1 Maret 2026)
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menunjukkan kontribusinya dalam pengembangan teknologi transportasi nasional. Melalui disertasi doktoral, Dr. Danny Triputra Setiamanah ST MT MEng dari Departemen Teknik Sipil ITS menggagas inovasi desain slab track berbasis material maju dan sistem panel modular untuk mendukung infrastruktur kereta cepat di Indonesia.
Slab track merupakan struktur landasan rel tanpa ballast yang digunakan pada sistem kereta api modern berkecepatan tinggi, termasuk pada proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung. Sistem ini menuntut tingkat kekakuan tinggi agar stabil pada kecepatan ekstrem, namun berdampak pada kebutuhan perawatan presisi dan biaya konstruksi yang besar.
Menurut Danny, riset mengenai desain slab track di Indonesia masih terbatas, terlebih belum tersedia Standar Nasional Indonesia (SNI) khusus untuk sistem ini. “Penelitian ini bertujuan menunjukkan kesiapan ITS dalam mendukung pengembangan kereta cepat secara mandiri di Indonesia,” ujarnya.
Beton Serat dan Panel Modular
Dalam disertasi berjudul Fatigue Performance of Fiber Reinforced Concrete Slab Track, Danny mengembangkan desain slab track dengan memanfaatkan beton bertulang serat baja dan serat polypropylene. Penggunaan material maju tersebut bertujuan meningkatkan ketahanan lelah (fatigue resistance) serta mengontrol retak melalui mekanisme bridging effect pada beton serat.
Tak hanya dari sisi material, inovasi ini juga menghadirkan konsep sistem panel modular selebar 60 sentimeter. Desain panel ini memungkinkan perawatan dan penggantian komponen dilakukan secara parsial tanpa harus membongkar keseluruhan struktur.
“Dengan sistem panel dan material maju, kebutuhan perawatan dapat diminimalkan sehingga biaya pemeliharaan menjadi lebih efisien,” jelas pria asal Palembang tersebut.
Performa Lebih Baik, Biaya Lebih Efisien
Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan pada kontrol dan distribusi retak serta stabilitas perilaku pasca-retak dibandingkan prototipe referensi. Meski menggunakan pelat lebih tipis dan rasio tulangan lebih kecil, performa ketahanan lelah tetap kompetitif bahkan lebih unggul dalam aspek pengendalian retak.
Selain peningkatan kinerja struktural, desain ini juga berpotensi menurunkan biaya material sekitar 10–15 persen dibandingkan sistem sebelumnya. Pengujian lebih lanjut memperlihatkan struktur yang dikembangkan lebih adaptif terhadap beban berulang jangka panjang, yang menjadi karakter utama operasional kereta cepat.
Dorong Kemandirian dan Standar Nasional
Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah dalam penyusunan standar nasional desain slab track kereta cepat di masa depan. Danny berharap inovasinya dapat diimplementasikan pada proyek kereta cepat berikutnya di Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian teknologi transportasi nasional.
Penelitian ini juga sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
“Harapannya, inovasi ini dapat digunakan pada infrastruktur kereta cepat di Indonesia pada masa mendatang,” pungkasnya. (za).


