Google search engine
HomeEkbisDoktor ITS Kembangkan Rantai Pasok Halal Berbasis Teknologi

Doktor ITS Kembangkan Rantai Pasok Halal Berbasis Teknologi

Reporter: Nabila Rahadatul Aisy Koestriyaningrum

SURABAYA-kanalsembilan.com (28 April 2026)

Satu lagi doktor lulusan dari Departemen Teknik Sistem dan Industri (DTSI) Institut
Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan inovasi di bidang rantai pasok pangan.
Ialah Dr Miftakhurrizal Kurniawan ST MT yang melakukan riset yang berfungsi untuk
mengembangkan model ketelusuran rantai pasok halal dan keamanan pangan berbasis
teknologi blockchain dan Internet of Things (IoT).

Dalam disertasinya, doktor yang akrab disapa Miftakh ini menjelaskan bahwa sistem
ketelusuran pangan konvensional masih memiliki banyak keterbatasan, terutama dalam hal
efisiensi dan akurasi data. Kondisi ini berpotensi menimbulkan risiko terhadap keamanan
pangan serta menurunkan kepercayaan konsumen terhadap produk yang beredar.

Menurutnya, ketelusuran merupakan elemen penting dalam menjamin keamanan dan
kehalalan produk pangan dari hulu hingga hilir. Ia menambahkan bahwa sistem ketelusuran
yang baik memungkinkan pelaku industri melacak asal produk dengan lebih jelas.

“Sistem
ketelusuran yang baik memungkinkan pelaku industri melacak asal produk serta
mengidentifikasi potensi risiko secara lebih cepat dan tepat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Miftakh mengintegrasikan teknologi blockchain dan IoT dalam model yang
dikembangkannya untuk meningkatkan transparansi dan keandalan data. Blockchain berperan

sebagai sistem penyimpanan data yang aman dan tidak dapat dimanipulasi, sedangkan IoT
memungkinkan pengumpulan data secara real time melalui sensor.

Penelitian ini menggunakan pendekatan sistem dinamik untuk memodelkan kompleksitas
interaksi dalam rantai pasok pangan. Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini mampu
menggambarkan hubungan antar variabel secara menyeluruh dan dinamis.

“Pendekatan ini mampu menggambarkan hubungan antarvariabel secara menyeluruh dan dinamis, sehingga dapat menghasilkan simulasi yang lebih representatif,” ujarnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model berbasis blockchain dan IoT mampu
meningkatkan ketersediaan pangan sebesar 5 persen serta mengurangi food waste pada
tingkat konsumen sebesar 3 persen.

Selain itu, skenario peningkatan kapasitas penyimpanan petani terbukti memberikan dampak paling signifikan terhadap efisiensi sistem.

Melalui model tersebut, menurut dosen Teknik Industri Universitas Brawijaya ini, sistem
ketelusuran tidak hanya membantu meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga
memperkuat transparansi dalam rantai pasok pangan. Hal ini dinilai penting untuk
membangun kepercayaan konsumen terhadap produk halal dan aman.

Miftakh berharap model yang dikembangkannya dapat diimplementasikan secara luas dalam industri pangan di Indonesia. Penelitian ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-2 tentang Ketahanan Pangan serta poin ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. (ais/za).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments