Google search engine
HomeUncategorizedGenerasi Muda Jadi Fokus: OJK, BEI, dan Bank Jatim Dorong Literasi dan...

Generasi Muda Jadi Fokus: OJK, BEI, dan Bank Jatim Dorong Literasi dan Keamanan Keuangan Digital

SURABAYA-kanalsembilan.com (9 Oktober 2025)

Festival Jatim Fest 2025 menjadi momentum penting untuk memperkuat edukasi keuangan bagi masyarakat, khususnya generasi muda di Jawa Timur. Tiga lembaga keuangan—Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Bank Jatim—sepakat bahwa anak muda harus semakin melek literasi keuangan, berinvestasi sejak dini, dan waspada terhadap kejahatan finansial digital yang kian marak.

Asisten Direktur Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Jawa Timur, Indrawan Nugroho Utomo, menegaskan bahwa pemahaman keuangan menjadi kunci di era serba digital.

“Indeks literasi keuangan nasional memang sudah mencapai 66,46%, tetapi masih tertinggal dibanding tingkat inklusi keuangan yang mencapai 80,51%. Artinya, banyak masyarakat sudah mengakses lembaga keuangan, namun belum paham cara penggunaannya. Akibatnya, mereka rentan terhadap perilaku konsumtif dan pinjaman online ilegal,” ujarnya.

Indrawan juga menyoroti fenomena doom spending di kalangan anak muda, yaitu kebiasaan belanja impulsif karena tekanan sosial dan tren digital. Menurutnya, perilaku seperti FOMO (fear of missing out), YOLO (you only live once), dan FOPO (fear of other people’s opinion) sering membuat generasi muda terjebak gaya hidup boros.
“Solusinya adalah loud budgeting—berani terbuka membahas keuangan—dan konsep YONO (You Only Need One) yang menekankan gaya hidup minimalis dan sadar kebutuhan,” tambahnya.

Dari sisi investasi, Deputi Kepala Wilayah Jawa Timur BEI, Rahmat Fajar B., mengajak masyarakat untuk mulai berinvestasi sejak dini. Menurutnya, investasi bukan sekadar mengejar keuntungan, tetapi juga bentuk perlindungan dari inflasi, ketidakpastian ekonomi, dan persiapan masa pensiun.
“Mulailah dari diri sendiri dan mulai dari sekarang, bahkan dengan dana kecil seperti Rp1 juta,” katanya.

BEI mencatat, hingga Agustus 2025 jumlah investor pasar modal mencapai 18,01 juta, tumbuh 21% dibanding tahun sebelumnya, dengan mayoritas berasal dari kalangan muda. Tahun ini, sebanyak 22 perusahaan baru telah berhasil menghimpun dana Rp10,4 triliun melalui pasar modal.

Sementara itu, Rizka Septya Rahayu dari Divisi Digital Banking Bank Jatim menekankan pentingnya peran perbankan daerah dalam mendorong inklusi keuangan. Transformasi digital, kata dia, menjadikan layanan keuangan semakin mudah diakses masyarakat, khususnya generasi muda dan pelaku UMKM.
“Bank digital bukan sekadar aplikasi, tetapi juga sarana untuk meningkatkan literasi keuangan, melindungi data nasabah, dan menyediakan produk yang sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Rizka menambahkan, layanan digital Bank Jatim diarahkan untuk membantu masyarakat mengatur keuangan secara bijak sekaligus membuka akses menuju investasi dan proteksi keuangan.

OJK dan BEI juga mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap penawaran investasi bodong yang menjanjikan keuntungan tinggi tanpa risiko. Berdasarkan data OJK, kerugian masyarakat akibat investasi ilegal mencapai Rp140 triliun.

Selain itu, ancaman kejahatan digital seperti phishing, skimming, hingga pencurian data pribadi terus meningkat. OJK mendorong masyarakat menggunakan kanal resmi pengaduan melalui Kontak 157 dan aplikasi Portal Perlindungan Konsumen (APPK) untuk melindungi diri dari risiko tersebut. (za).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments