Google search engine
HomeNasionalIndonesia-Uni Eropa Bersatu Lawan Kekerasan Digital terhadap Perempuan dan Anak

Indonesia-Uni Eropa Bersatu Lawan Kekerasan Digital terhadap Perempuan dan Anak

JAKARTA-kanalsembilan.com (7 Desember 2025)

Pemerintah Indonesia dan Uni Eropa menegaskan komitmen bersama untuk menghentikan kekerasan berbasis gender di ruang digital melalui Cycling Tour kampanye “16 Days of Global Activism Against Gender-Based Digital Violence”, yang digelar dengan rute sepanjang 10 km dari Lapangan Parkir IRTI Monas menuju One Satrio, pada Sabtu (6/12/2025).

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko
PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menekankan bahwa perlindungan perempuan dan
anak harus diperkuat tidak hanya di ruang sosial dan digital, tetapi juga dalam situasi bencana yang tengah berulang di berbagai daerah.

Mengawali sambutan, Deputi yang akrab disapa Lisa mengajak peserta mengheningkan cipta bagi para korban bencana di wilayah Sumatra dan Jawa Barat. Ia menegaskan bahwa setiap kejadian bencana membuka kembali fakta bahwa perempuan dan anak adalah kelompok yang paling rentan, termasuk terhadap risiko kekerasan digital yang meningkat pada masa krisis.

“Setiap bencana selalu menunjukkan bahwa perempuan dan anak adalah kelompok yang
paling rentan, bukan hanya terhadap kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan digital. Dalam
situasi krisis, risiko eksploitasi, perundungan, dan pelecehan meningkat, termasuk di ruang
daring,” ujar Lisa.

Lisa menjelaskan bahwa pemerintah kini mendorong Gerakan Nasional Anti Kekerasan
terhadap Perempuan dan Anak, yang memperkuat pencegahan, penanganan,
pendampingan, dan pemulihan korban secara terpadu. Gerakan ini melibatkan
kementerian/lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, masyarakat,
serta mitra pembangunan internasional seperti Uni Eropa.

“Gerakan ini bukan sekadar dokumen kebijakan, tetapi panggilan bagi seluruh elemen bangsa untuk bergerak bersama. Perlindungan perempuan dan anak harus hadir dalam situasi damai maupun saat bencana, baik di ruang fisik maupun ruang digital,” tegasnya.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, menegaskan pentingnya solidaritas
lintas negara dalam menghadapi kekerasan digital terhadap perempuan dan anak, isu global yang semakin menonjol saat terjadi bencana atau kondisi darurat kemanusiaan.

Setiap pesepeda mewakili komitmen untuk bertindak untuk menumbuhkan rasa hormat,
memastikan ekosistem digital yang aman, dan mendengarkan aspirasi perempuan secara
online maupun offline.

“Kami bangga dengan terjalinnya kerja sama erat antara Pemerintah
Indonesia dan Uni Eropa dalam mempromosikan kesetaraan gender dan mengatasi
tantangan bersama,” ujar Duta Besar Chaibi.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian advokasi yang lebih luas. Sehari sebelumnya, para pakar berkumpul di Fakultas Hukum Universitas Indonesia untuk berbagi wawasan mengenai kekerasan digital berbasis gender, sekaligus memperkuat peran mahasiswa dan calon praktisi hukum dalam penanganan isu ini.

Kemenko PMK menegaskan bahwa kolaborasi internasional ini merupakan langkah strategis
untuk memastikan bahwa perempuan dan anak tetap terlindungi, terutama di tengah
meningkatnya intensitas bencana yang membawa risiko berlapis, termasuk di ruang digital.

Gerakan bersama ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas,
memperluas edukasi digital, dan memastikan ruang daring yang aman, inklusif, serta beradab.

Hadir dalam agenda tersebut, sejumlah perwakilan dari kementerian dan lembaga, berbagai delegasi Uni Eropa, negara-negara anggota EU, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas Bike to Work Indonesia.

Terdapat kurang lebih 300 peserta hadir dengan bersepeda membawa bendera bertema “Unite to End Digital Violence against All Women and Girls” sebagai simbol gerakan lintas negara melawan kekerasan digital. (za).

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments