JAKARTA-kanalsembilan.com (6 Oktober 2026)
Stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) Indonesia tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, tekanan geopolitik, serta kecenderungan pengetatan kebijakan moneter di sejumlah negara.
Penilaian tersebut disampaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan yang digelar pada 30 September 2026.
Kepala Direktorat Komunikasi Publik OJK – Sekar Putih Djarot mengatakan Inflasi dan Suku Bunga Global Naik, OJK: Sektor Keuangan Indonesia Tetap Solid mengatakan OJK menilai kondisi sektor jasa keuangan nasional masih solid dan terus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, meskipun lingkungan ekonomi global menghadapi sejumlah tantangan.
Pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan lebih rendah dibandingkan 2025. Namun, proyeksi tersebut masih lebih baik dibandingkan perkiraan sebelumnya, antara lain didukung peningkatan investasi dan perdagangan yang berkaitan dengan pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Di sisi lain, momentum pertumbuhan ekonomi global masih menghadapi risiko. Eskalasi konflik geopolitik kembali mendorong kenaikan harga minyak yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Selain itu, fenomena very strong El Nino berpotensi meningkatkan harga pangan dan sejumlah komoditas pertanian.
“Tekanan inflasi tersebut turut mendorong kecenderungan kebijakan suku bunga global higher for longer. Kondisi itu tercermin dari kenaikan suku bunga kebijakan di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang,” kata Sekar.
Pasar juga masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada akhir 2026 yang berpotensi berlanjut hingga 2027.
Kondisi tersebut turut berdampak pada pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara telah mencapai level tinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Menurut Sekar Djarot di Amerika Serikat dan Eropa, imbal hasil obligasi pemerintah kembali ke level sebelum 2008, sementara Jepang mencapai level sebelum 1997.
Kenaikan imbal hasil obligasi antara lain dipengaruhi tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah serta meningkatnya penerbitan obligasi jangka panjang oleh perusahaan teknologi berskala besar atau hyperscaler untuk mendukung investasi terkait pengembangan AI.
Ekonomi Domestik Relatif Stabil
Di tengah tekanan global tersebut, OJK mencatat sejumlah indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Inflasi Indonesia tetap terjaga sesuai dengan sasaran pemerintah sehingga turut menopang permintaan domestik dan konsumsi masyarakat.
Kondisi konsumsi yang tetap kuat menjadi salah satu faktor yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Kepercayaan terhadap daya tahan perekonomian Indonesia juga tercermin dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).
OECD meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 0,5 persen. Revisi tersebut mencerminkan pandangan positif terhadap ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
OJK menegaskan perkembangan ekonomi domestik tersebut turut didukung sektor keuangan yang terus memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Stabilitas sektor keuangan tetap terjaga dengan fundamental industri jasa keuangan yang solid,” demikian penilaian OJK dalam hasil RDK Bulanan.
Dengan kondisi tersebut, OJK akan terus mencermati perkembangan ekonomi dan pasar keuangan global serta dampaknya terhadap sektor jasa keuangan nasional, terutama di tengah dinamika geopolitik, inflasi, suku bunga, dan kebutuhan pembiayaan global yang masih tinggi. (za).


