SURABAYA-kanalsembilan.com (6 Januari 2026)
Inflasi Provinsi Jawa Timur pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,93 persen secara year on year (y-on-y) sekaligus menjadi inflasi year to date (y-to-d). Angka tersebut ditunjukkan oleh Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,25.
Berdasarkan wilayah, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sumenep dengan laju inflasi mencapai 3,75 persen dan IHK sebesar 113,82. Sementara itu, inflasi terendah tercatat di Kabupaten Gresik, yakni 2,44 persen dengan IHK sebesar 108,32.
“Secara y-on-y, inflasi Jawa Timur didorong oleh kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran,” kata Dr. Ir. Zulkipli, M.Si di kantornua kemarin. (5/1/2026).
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan kenaikan indeks sebesar 4,19 persen, seiring meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan sepanjang 2025.
Menurut Zulkipli, kenaikan juga terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak signifikan sebesar 15,26 persen, mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap jasa perawatan serta penyesuaian tarif di sektor tersebut.
Selain itu, inflasi turut dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok kesehatan sebesar 2,08 persen, transportasi sebesar 1,82 persen, serta pendidikan sebesar 1,74 persen.
Kelompok pengeluaran lain yang mengalami inflasi antara lain perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,49 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,18 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,96 persen.
Sementara itu, kelompok pakaian dan alas kaki naik tipis sebesar 0,63 persen, dan perlengkapan, peralatan, serta pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,30 persen.
Di sisi lain, terdapat satu kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga, yakni kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang mengalami deflasi sebesar 0,53 persen, sejalan dengan penurunan tarif dan persaingan layanan di sektor tersebut.
Adapun secara month to month (m-to-m), inflasi Jawa Timur pada Desember 2025 tercatat sebesar 0,76 persen. Kenaikan harga bulanan ini umumnya dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan menjelang akhir tahun, termasuk kebutuhan pangan, transportasi, serta jasa.
Secara keseluruhan, inflasi Jawa Timur sepanjang 2025 masih berada dalam kisaran yang terkendali, meski tekanan harga pada sektor pangan dan jasa perlu terus diwaspadai guna menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi daerah. (za).


