SURABAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat inflasi pada Juni 2026 secara month to month (m-to-m) sebesar 0,30 persen, inflasi year to date (y-to-d) sebesar 1,74 persen, dan inflasi year on year (y-on-y) sebesar 3,36 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,17.
Secara bulanan maupun kumulatif sejak awal tahun, inflasi terutama didorong oleh kelompok transportasi. Kenaikan harga bensin serta tarif angkutan udara menjadi komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi pada Juni 2026.
Sementara itu, secara tahunan, inflasi Jawa Timur dipengaruhi oleh tiga kelompok pengeluaran utama, yakni kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, serta kelompok transportasi.
Komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, angkutan udara, bensin, beras, dan minyak goreng. Kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut menjadi faktor utama yang mendorong inflasi di Jawa Timur selama setahun terakhir.
Dari 11 kabupaten/kota yang menjadi cakupan penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Timur, seluruhnya mengalami inflasi tahunan. Kabupaten Sumenep mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,48 persen dengan IHK 116,19, sedangkan Kabupaten Tulungagung menjadi daerah dengan inflasi terendah sebesar 2,57 persen dan IHK 112,34.
“Meski masih berada di atas target inflasi nasional, laju inflasi Jawa Timur pada Juni 2026 menunjukkan tekanan harga yang masih terkendali,” kata Plt. Kepala BPS Ir. Arum Fajarwati, MM.
Menurutnya pemerintah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) diharapkan terus memperkuat upaya menjaga stabilitas pasokan dan kelancaran distribusi, terutama terhadap komoditas pangan strategis serta sektor transportasi yang menjadi penyumbang utama inflasi. (za).


