SURABAYA-kanalsembilan.com (4 April 2026)
Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur Ir. Herum Fajarwati mengatakan inflasi pada Maret 2026. Secara bulanan (month to month/m-to-m), inflasi tercatat sebesar 0,39 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) mencapai 1,13 persen.
Sementara itu, inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Jawa Timur pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,79 persen. Angka ini menunjukkan tekanan harga yang masih relatif terkendali, meski tetap lebih tinggi dibanding awal tahun.
“Jika dilihat dari sisi wilayah, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sumenep dengan angka 5,31 persen. Kondisi ini melanjutkan tren sebelumnya, di mana Sumenep kerap menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggi di Jawa Timur,” kata Fajarwati.
Pada Februari 2026, misalnya, inflasi tahunan di daerah tersebut juga tercatat paling tinggi dibanding kabupaten/kota lain.
Secara umum, inflasi di Jawa Timur dipengaruhi oleh kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran, terutama makanan, minuman, dan tembakau, serta komoditas energi dan kebutuhan rumah tangga. Pada periode sebelumnya, komoditas seperti cabai rawit, beras, daging ayam ras, hingga tarif listrik dan emas perhiasan tercatat menjadi penyumbang utama inflasi.
Jika dibandingkan bulan sebelumnya, laju inflasi Jawa Timur pada Maret 2026 cenderung lebih rendah. Pada Februari 2026, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,95 persen dengan inflasi tahunan mencapai 4,88 persen. Penurunan ini mengindikasikan mulai meredanya tekanan harga pasca kenaikan yang dipicu momentum Ramadan.
Meski demikian, BPS menilai dinamika inflasi ke depan masih perlu diwaspadai, terutama dari fluktuasi harga pangan dan energi yang berpotensi meningkat menjelang hari besar keagamaan maupun perubahan kebijakan pemerintah. (za).


