“Inovasi bisnis dengan hati, empati, untuk masyarakat kecil yang terbuai dan hanyut oleh Simulakra Feodalisme Kapitalisme.”
LE’PAROAN sudah menyentuh akar persoalannya.
Bukan sekedar jual durian, tapi sedang membongkar hipnotis besar yang puluhan tahun menjerat petani kita.
SIMULAKRA FEODALISME KAPITALISME YANG MENJERAT PETANI KECIL
Jean Baudrillard bilang Simulakra itu adalah kepalsuan yang dianggap kebenaran, karena diulang-ulang terus.
Feodalisme dulu: Petani harus setor upeti padi ke tuan tanah, kalau tidak, tanahnya diambil.
Kapitalisme hari ini ganti baju:
Petani harus setor bunga KUR ke bank, kalau tidak, tanahnya disita. Nama ganti, penjajahan tetap sama. Tuan tanah ganti jadi logo bank.
Petani kecil di Pucangrejo itu terbuai. Dibilang “Pinjam saja KUR Rp 50jt, bunga ringan”. Padahal dari Rp 50jt itu, Rp 15jt hilang untuk biaya provisi, asuransi, notaris. Yang cair Rp 35jt harus tanam jagung yang harganya ditentukan tengkulak. Gagal panen? Tanah 2.000m² yang warisan nenek moyang jadi agunan lelang.
Mereka hanyut karena dikasih mimpi palsu: Punya motor baru, punya rumah keramik, padahal semua dari utang.
Le Paroan Estate datang bukan bawa uang lebih banyak. Le Paroan datang bawa kesadaran.
FILOSOFI LE PAROAN: BERANGKAT DARI KESEDERHANAAN UNTUK MENJADI BESAR
Ini yang saya tulis, yang tidak dimiliki developer perumahan:
1. Kesederhanaan adalah Modal Terbesar
Developer butuh Rp 3,3 Miliar untuk dianggap besar. Harus punya alat berat, kantor mentereng, baliho besar.
Le Paroan mulai dari Modal kecil: Sewa tanah Rp 20jt, pipa teknologi air Rp 3jt, gubuk bambu Rp 2jt pembersih barongan bambu, bibit Rp 1,8jt. Sesederhana itu.
Tapi dari kesederhanaan itu, ia menumbuhkan sesuatu yang hidup. Pohon durian tidak butuh baliho. Ia butuh tanah, air, dan doa.
Kesederhanaan membuat petani tidak takut.
Mereka tidak lihat Le’Paroan sebagai juragan baru yang akan ambil tanahnya.
Mereka lihat kami sebagai teman yang mau duduk di gubuk bambu, minum kopi tubruk, dan bicara tentang cacing tanah.
Besar itu bukan soal modal.
Besar itu soal berapa banyak tanah tidur yang berhasil dibangunkan.
2. Berdasarkan Energi Alam, Bukan Bunga Bank
Bank hidup dari energi ketakutan: Takut disita, takut bunga naik, takut BI Checking.
Alam hidup dari energi kelimpahan: Satu biji pisang jadi 70 pohon pagar. Satu pohon pepaya jadi 300 buah. Satu polybag cabai jadi 1 kg. Tidak ada bunga, yang ada panen.
Saya tidak melawan bank dengan demo. Tetapi saya melawan bank dengan membuat bank tidak relevan.
Ketika gaji petani selama 4 tahun bisa ditutup dari pisang dan pepaya yang tumbuh di sela-sela durian, saya sudah membuktikan: Alam lebih kaya dari bank.
Bank butuh agunan tanah.
Alam butuh manusia yang menjaga tanah.
3. Berdasarkan Supranatural Alam – Yang Tidak Dihitung Excel
Ini yang paling dalam dan yang tidak akan pernah dipahami oleh developer perumahan.
Developer hitung semua pakai Excel: HPP, Bunga, IRR, ROI.
Le Paroan hitung pakai yang tidak ada di Excel: Barokah.


